Jumat, 05 Juni 2015



RITUAL SEKATEN DI KOTA MADYA SURAKARTA


MAKALAH
Untuk Memenuhi Tugas Akhir Mata Kuliah Pengantar Filsafat

DOSEN PENGAMPU :
Dr. Rizal Musytansir, M.Hum

OLEH :
BETA PUJANGGA MUKTI
NIM: 12090206

PENDIDIKAN ULAMA’ TARJIH MUHAMMADIYAH
PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2013
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan Karunia-Nya sehingga penulisan makalah dengan judul “RITUAL SEKATEN DI KOTA MADYA SURAKARTA” ini dapat terselesaikan. Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW, para keluarganya, dan para sahabat-sahabatnya.
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas ahir mata kuliah PENGANTAR FILSAFAT. Dalam makalah ini akan dibahas tentang sejarah, maksud dan tujuan diadakan ritual sekaten di kota madya Surakarta.
“Tak ada gading yang tak retak” dan permohonan maaf kami pribadi apabila di dalam penulisan makalah ini banyak terdapat kesalahan. Kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun, agar dapat memperbaiki kekurangan dan kesalahan dalam penyusunan makalah selanjutnya. Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi pribadi penulis  dan khususnya bagi  masyarakat umum.

Yogyakarta, 7 Juni  2013

Penulis






DAFTAR ISI

Halaman Sampul……………………………………………………………………….        1
Kata Pengantar…………………………………………………………………………       2
Daftar Isi……………………………………………………………………………….        3
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang………………………………………………………………...         4
B.     Rumusan Masalah……………………………………………………………..         5
BAB II ANALISIS
A.    Konsep Awal…………………………………………………………………..        6
B.     Konsep Simbol dan Makna yang Terkandung dalam Simbol-simbol
Ritual…………………………………………………………………………..        7
BAB III PEMBAHASAN
A.    Sejarah Ritual Sekaten………………………………………………………...         9
B.     Tujuan Pelaksanaan Ritual……………………………………………………          10
C.     Prosesi Ritual………………………………………………………………….         10
D.     Tahap-tahap Pelaksanaan Ritual………………………………………………        11
BAB IV. RELEVANSI RITUAL SEKATEN DENGAN AGAMA
A.    Pandangan Agama Islam Terhadap Ritual Sekaten……………………………        12
BAB V. PENUTUP
A.    Kesimpulan……………………………………………………………………         14
B.     Kritik dan Saran……………………………………………………………….         15
C.     Kata Penutup………………………………………………………………….         15
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………...         16






BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah

Agama diartikan sebagai suatu sistem sosial yang dianut oleh sekelompok orang yang disertai pelaksanaan ritus-ritus tertentu dan amal perbuatan yang terus-menerus serta kepercayaan kepada kekuatan spiritual yang berkuasa diatas manusia seluruhnya. Kekuatan ini di kenal dengan nama “Allah”. Sebagian orang barat ada yang meendefinisikan agama sebagai sekumpulan kewajiban manusia kepada Allah, masyarakat dan kepada dirinya sendiri.

Disisi lain dikatakan bahwa agama adalah sejumlah kepercayaan dan pesan yang harus mengarahkan tingkah laku kita terhadap Allah, manusia dan diri kita sendiri. Al-Syihristany berpendapat bahwa agama adalah ketaatan serta kepatuhan, dan bisa diartikan sebagai pembalasan dan perhitungan (amal perbuatan di akhirat).

Manusia dan hubunganya dengan realitas mutlak diperkuat dan diperkokoh melalui berbagai perbuatan keagamaan, yang merupakan ekspresi pengalaman keagamaan dalam bentuk praktis. Secara umum, perbuatan keagamaan ini dapat disebut dengan kultus atau peribadatan dalam arti luas. Kultus atau ibadat dapat dianggap sebagai sebuah reaksi perjumpaan manusia yang diwujudkan dalam bentuk tingkah laku dan perbuatan ketika menghadapi realitas mutlak.

Kultus merupakan sebuah tanggapan yang bersifat mendalam dan integral dari manusia utuh terhadap realitas mutlak. Manifestasi kultus-kultus telihat dalam berbagai bentuk perbuatan keagamaan. Perbuatan keagamaan ini merupakan sebuah perbuatan yang dipandang penting yang dikembangkan melalui kedalaman spiritual menuju suatu tin  yang lebih tinggi. Dalam kehidupan paling sederhana pun dapat ditemukan adanya oerbuatan-perbuatan tertentu yang dapat disebut dengan perbuatan keagamaan.

Beragama merupakan bentuk ekspresi manusia kepada Tuhan-Nya, sedang manifestasi dari ekspresi tersebut tertuang dalam bentuk ritual yang disesuaikan dengan daya nalar, kultur, latar belakang dari manusia tersebut dalam mencapai kebenaran Tuhan. Sebab pada dasarnya manusia percaya “ada” kekuatan lain di luar dirinya dan kekuatan tersebut adalah “tak terhingga”, walaupun tingkat kepercayaan dan keyakinan tersebut kadang tidak diformalkan menjadi institusi yang bernama agama, dengan demikian fenomena keagamaan ini merupakan perwujudan sikap dari prilaku manusia yang menyangkut hal-hal yang dipandang suci, keramat, yang berasal dari keghaiban. Robert Thouless sebagaimana dikutip Nico Syukur mendefinisikan agama secara lebih luas sebagai suatu sikap terhadap dunia, sikap yang menunjuk kapada suatu lingkungan yang lebih luas dari lingkungan dunia ini. Lingkungan yang lebih luas itu adalah dunia rohani.
Sepanjang sejarah manusia, penggunaan simbol-simbol telah mewarnai tindakan-tindakan manusia, baik tingkah laku, bahasa, ilmu pengetahuan, maupun religinya. Salah satu bentuk simbol yang telah mewarnai tindakan mainusia dalam religinya misalnya terwujud dalam ritual tradisional di Surakarta yaitu ritual Sekaten. Ritual ini merupakan tingkah laku perayaan untuk  memperingati Maulud Nabi Muhhamad S.a.w.
Dalam pengertian umum, maka kebudayaan dapat disebut sebagai adat-istiadat. Setiap tempat atau di daerah mempunyai kebudayaan masing-masing dan memiliki ritual yang berbeda-beda, seperti di Yogya dengan tradisi labuhan gunung merapi dengan maksud agar memperoleh keselamatan lahir dan batin dari gangguan makhluk halus penghuni gunung. Di Surakarta dikenal dengan nama ritual Sekaten.
Ritual Sekaten merupakan ritual tahunan masyarakat muslim kota Surakarta pada waktu maulud Nabi Muhammad SAW. Perayaan sekaten bertepatan dengan hari raya Maulud Nabi, yang merupakan tradisi kelanjutan para wali. Gamelan ditabuh saat sekaten dengan maksud untuk menarik para masyarakat. Sekaten dilaksanakan juga untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad S.a.w.

B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah tersebut diatas maka, maka dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Mengapa ritual Sekaten itu dilaksanakan?
2.      Bagaimana proses pelaksanaan ritual Sekaten?
  










BAB II
ANALISIS

A.    Konsep Awal
Timbulnya perayaan sekaten di Surakarta sebenarnya hanya merupakan kelanjutan daritradisi Demak. Tetapi timbulnya tradisi sekaten di Surakarta sejak PB III. Pada waktu Mataram pecah jadi dua yaitu Surakarta dan Yogyakarta maka Gamelan sekaten juga dipecah menjadi dua, sehingga perayaan sekaten pada waktu PB III tidak meriah. Akan tetapi pada waktu PB IV bertahta, perayaan sekaten lebih meriah, karena PB IV memesan satu gamelan lagi yang diberi nama Kyai Guntur Maadu. Perayaan sekaten di Surakarta merupakan perpaduan antara kebidayaan jawa dan Islam, kebudayaan jawa berbentuk Gamelan sedang Islam berbentuk Masjid. Sekaten berlangsung dari tanggal 5 s.d. 12 Maulud.
1.        Persiapan Upacara Sekaten Di Surakarta
Perayaan ini merupakan tradisi Keraton maka kepanitiaan ditangani langsung oleh Keraton. Yang kebagian tugas yaitu  Roh Kepatihan yaitu menyangkut keamanan, ketertiban, dan sebagainya ditangani oleh Roh Kepatihan. Tetapi sekarang bekerjasama dengan Kesra, Pariwisata dan Kantor agama Surakarta, sebab upacara ini tidak hanya adat tetapi sekarang merupakan perpaduan antara adat, agama, dan pesta. Campur tangan Keraton yaitu waktu gamelan diturunkan dari Sitinggil, agama yaitu tempat gamelan diletakkan (Masjid Agung ). Sedangkan pesta yaitu hiburan yang berupa promosi, stand, iklan, permainan yang ada di luar Masjid.
Gamelan Kyai Guntur Sari dan Kyai Guntur Madu diturunkan dari Sitinggil + jam 10.00 pagi, lewat Pagelaran kemudian menuju Alun alun dan belok ke kiri, tepat disebelah selatan waringin kurung menuju Masjid Agung. Gamelan sekaten tersebut terdiri atas :
  1. Bonang besar satu pangkon terdiri dari dua baris
  2. Demung dua pangkon
  3. Gembyangan dua pangkon
  4. Saron penerus dua pangkon
  5. Gong besardua buah
  6. Bedug
                                                         







2.      Pelaksanaan Sekaten di Surakarta
Perayaan ini dilaksanakan pada bulan Maulud tanggal 5 s.d. 12 Rabiul awal dihalaman Masjid Agung Surakarta.
Perayaan bersifat umum dan terbuka, maka banyak pengnjung yang datang baik dari masyarakat Surakarta sendiri maupun dari luar kota,seperti : Wonogiri, Karanganyar, Boyolali, Sukoharjo,dan lainnya.
Sebelum pelaksaan sekaten disiarkan melalui radio baik lewat RRIataupun yang lain.
Perayaan sekaten tidak lepas dari prakarsa Sunan Kalijaga yaitu sebagai sarana da’wah. Sebab dengan gamelan sekaten tersebut, maka bisa berhasildengan gemilang. Dua gamelan yang penulis uraikan diatas, Kyai Guntur Madu memperdengarkan gending-gending”Rambu” dan Kyai Guntur Sari memperdengarkan gending “Rangkung”, jadi gamelan sekaten memperdengarkan gending “ Rambu dan Rangkung “.
Pada upacara pembukaan perayaan sekaten di serambi Masjid Agung dengan acara sebagai berikut :
  1. Pembacaan ayat suci Al Qur’an
  2. Pembukaan oleh ketua panitia
  3. Sambutan dari Bapak Walikota Kota Madya Surakarta
  4. Uraian Sejarah timbulnya sekaten oleh Bapak sesepuh Keraton Surakarta Hadiningrat
  5. Doa penutup.
B.     Konsep Simbol dan Makna yang terkandung dalam Simbol-simbol Ritual
                                                            
Hubungan antara manusia dan kebudayaan sungguh begitu eratnya, sehingga ia disebut makhluk berbudaya. Kebudayaan sendiri terdiri dari gagasan-gagasan, simbol-simbol dan nilai-nilai sebagai hasil karya dari tindakn manusia. Sehingga tidaklah berlebihan jika  ada ungkapan begitu eratnya kebudayaan manusia dengan simbol-simbol, sampai manusiapun disebut makhluk dengan symbol-simbol. Manusia berfikir, berperasaan dan bersikap dengan ungkapan-ungkapan yang sibolis. Ungkapan-ungkapan simbolis ini merupakan ciri khs manusia, yang membedakanya dengan hewan. Maka Erns Cassirer cenderung menyebut manusia sebagai hewan yang bersimbol (animal symbolicum). Ia menegaskan bahwa manusia itu tidak pernah melihat, menemukan dan mengenal dunia secara langsug kecuali melalui bebbagai simbol. Kenyataan memang sekedar fakta-fakta, tidak mempunyai makna psikis, krena simbol mempunyai unsur pembebsan dan perluasan pandanagan.

Kata simbol berasal dari bahasa yunani “symbolos”, yang berarti tanda atau ciri yang membaritahukan sesuatu hal pada seseorang. Dalam kamus umum bahasa Indonesia karya W.J.S Purwadarminta disebutkan bahwa simbol atau lambang adalah semacam tanda, lukisan, perkataan, rancana dan sebagainya yang menyatakan sesuatu hal atu mengandung maksud tertentu.

Simbol adalah sesuatu hal atau keadaan yang merupakan media pemahaman terhadap obyek1. Pengkajian kehidupan beragama (Islam) pada suatu masyarakat tertentu yang berarti mendeskripsikan tentang cara-cara pemberian makna terhdap simbol-simbol agama oleh para penganutnya termasuk dalam masalah kebudayaan. Dengan demikian agama dapat ditanggapi sebagai sistem kebudayaan. Karenanya agama yang dianut oleh suatu masyarakat pada dasarnya adalah sama dengan kebudayaan yang terwujud melalui sosialisasi dan akulturasi yang diwariskan secara turun-menurun dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Karena itu pulalah maka hubungan antara simbol-simbol dan makna-makna tersebut selalu dimengerti oleh pendukungnya1. Hal ini akan di jelaskan dalam uraian berikut ini :

1. Gunungan
Gunungan merupakan puncak dari upacara tradisi sekaten. Disini terdapat gunungan yang didalamnya ada berbagai jenis makanan serta sayur mayur atau kebutuhan makan sehari-hari. Masyarakat percaya kalau mengambil  isi gunungan, segala bentuk keinginan dan cita-cita akan tercapai. Dan setidaknya bisa mendatangkan berkah.
2. Janur
Janur disini yang dipercaya dan diperebutkan oleh orang adalah janur yang dipasang pada saat pembukaan Sekaten, yaitu pada saat gamelan sekaten pertama kali ditabuh/ dibunyikan. Dengan memperebutkan janur sekaten bisa mendatangkan rejeki.
3. Sirih
Para pengunjung sekaten biasanya mengunyah sirih yaitu mulai pada saat gamelan sekaten dibunyikan. Ini dipercayai dengan mengunyah sirih kita dapat awet muda.
4. Telur amal / telur asin
Telur amal / asin biasa dijual diarena stand sekaten, disini dipercaya oleh masyarakat kalau membeli telur asin maka kita memberi amak pada pembeli, juga segala amal kebaikan kita diterima oleh Tuhan.














BAB III
PEMBAHASAN



A.    Sejarah Ritual Sekaten
Dalam serat babat menyebutkan bahwa setelah Majapahit mengalam dekadensi,kerajaan tanah jawa dipindah ke Demak. Pada waktu itu orang Jawa masih masih menganut paham Hindhu,kepercayaan Animisme, Dinamisme masih kuat, maka para ulama sepakat akan mengIslamkan masyarakat jawa. Sebelum Islammasuk masyarakat jawa sudah gemar akan gamelan. Gamelan dapat dipakainsebagai pelengkap didalam pertunjukan wayang, pengiring gendhing jawa ( tembang ), oleh para wali lebih lebih Sunan Kalijaga gamelan tersebut dimanfaatkan sebagai alat untuk da’wah. Oleh karena itu Sunan Kali jaga dengan menggunakan gamelan dan dibuyikan dihalaman Masjid Agung Demak dengan maksud agar rakyat datang mendengarkan kemudian menganut Islam.
Adapun orang yang masuk Masjid diwajibkan membaca “ dua syahadat “.dalam bahasa arab “ syahadat ain “  Kemudian orang jawa menamakan sekaten.  Adapun syahadat tersebut adalah :
  • Asshadu alla illaha illalloh : yang artinya tidak ada makhlukyang disermbah didunia ini kecuali hanya ALLAH saja.
  • Wa asshadu anna Muhammadarosullulloh : yang artinya dan saya percaya bahwa Nabi Muhhamad utusan ALLAH.

Pengertian Sekaten
Sekaten berhubungan erat dengan proses Islamisasi di Jawa. Masyarakat Jawa gemar aka gamelan maka oleh Sunan Kalijaga Alat itu dipakai untuk menyiarkan agama Islam. Gamelan yang dipakai itu oleh Sunan Kalijaga diberi nama Kyai Sekati. Adapun maksudnya adalah untuk memperlambangkan agama Islam.
Setiap tahun sekali di Masjid Agung yaitu pada bulan Maulud diadakan tablikakbar atas prakarsa Sunan Kalijaga. Tabligh ini untuk memperingatti Maulud Nabi Muhhamad S.a.w. dan pada waktu itu sebagai musyawarah para wali.
Seusai perkembangan jaman sekaten dikemas sedemikian rupa hingga dapat menarik masyarakat. Pada hari Maulud Nabi, gamelan Kyai Sekati ditabuh bertalu talu dengan tidak hentinya.
Jadi disini penulis mengartikan pengertian sekaten adalah : Suatu upacara keagamaan, dimana gamelan dibunyikan dihalaman Masjid dengan tujuan agar orang masuk Masjid dengan membaca dua kalimat syahadat.


B.     Tujuan Pelaksanaan Ritual

Perayaan sekaten bertepatan dengan hari raya Maulud Nabi, yang merupakan tradisi kelanjutan para wali. Gamelan ditabuh saat sekaten dengan maksud untuk menarik para masyarakat. Sekaten dilaksanakan juga untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad S.a.w.
Didalam sekaten karena pengunjungya sangat banyak maka diadakan kotbah-kotbah yang bernuansa Islam untuk menggugah keimanan mereka agar menghayati perintah Nabi.
C.    Prosesi Pelaksanaan

1. Tahap Persiapan
Terdapat dua jenis persiapan dalam pelaksanaanya, yaitu persiapan secara fisik dan persiapan non fisik. Dalam persiapan fisik adalah benda-benda dan perlengkapan-perlengkapan yang dibutuhkan dalam proses penyelenggaraan upacara tersebut: Gamelan Sekaten (gamelan khusus yang dibunyikan pada saat penyelenggaraan upacara Sekaten), Perbendaharaan lagu-lagu atau gending-gending Sekaten (‘Rambu’ pathet lima, ‘Rangkung’ pathet lima, ‘Lunggadhung’ pelog pathet lima, ‘Atur-atur’ pathet lima, ‘Jaumi’ pathet lima, ‘Atur-atur’ pathet nêm, ‘Salatun’ pathet nêm, ‘Dhindhang Sabinah’ pathet nêm, ‘Muru putih’ ‘Orang-aring’ pathet nêm, ‘Ngajatun’ pathet nêm, ‘Bayem Tur’ pathet nêm, ‘Supiatun’ pathet barang, ‘Srundheng Gosong’ pelog pathet barang, Beberapa kepingan uang logam (untuk disebarkan dalam upacara udhik-udhik), Naskah riwayat Mulud Nabi Muhammad s.a.w. , Sejumlah bunga kanthil (cempaka), Busana seragam yang masih baru dan sejumlah samir yang khusus (dikenakan oleh para niyaga atau penabuh gamelan selama menabuh gamelan Sekaten dalam upacara Sekaten), Atribut dan perlengkapan prajurit Kraton. Sedangkan dalam persiapan non fisiknya adalah berupa sikap dan perbuatan yang harus dilakukan sebelum pelaksanaan upacara Sekaten, yaitu persiapan diri terutama mempersiapakan mental, penyucian diri (berpuasa dan siram jamas atau mandi keramas).
2. Tahap Gamelan Sekaten Mulai Dibunyikan
Dalam tahap ini, proses gamelan sekaten mulai dibunyikan di dalam Kraton yaitu pada malam tanggal 6 Mulud di Bangsal Ponconiti (pada zaman dahulu gamelan dibunyikan di Bangsal Srimanganti dan di Bangsal Trajumas) mulai pukul 19.00 W.I.B hingga pukul 23.00 W.I.B.





3. Tahap Gamelan Sekaten Dipindahkan ke Halaman Masjid Besar
Pukul 23.00 W.I.B. bunyi gamelan harus sudah berhenti dan bersamaan dengan itu pula, para prajurit Kraton mengawal iring-iringan dipindahkannya gamelan Sekaten menuju halaman Masjid Besar.

4. Tahap Sri Sultan Hadir di Masjid Besar
Tahap ini menyebutkan tentang kehadiran Sultan dari Kraton menuju Masjid Besar dengan mengendarai kendaraan dan iring-iringan para Pangeran dan kerabat Kraton pada malam ketujuh, tanggal 11 Rabiulawal malam atau malam tanggal 12 Rabiulawal dimana pembacaan riwayat Nabi Muhammad s.a.w. dibacakan yang selesai pada pukul 24.00 W.I.B. dan penyebaran udhik-udhik dilakukan oleh Sultan, yang disebut juga sebagai Pisowanan Malem Garebeg/ Muludan. Kemudian, diakhiri dengan bacaan doa oleh Kangjeng Raden Penghulu, setelah itu Sultan kembali ke dalam Kraton.
5. Tahap Kondur Gongsa
Proses pemboyongan gamelan sekaten kembali ke dalam Kraton disebut sebagai kondur gongsa dengan pengawalan dari dua pasukan abdi dalem prajurit, yaitu Prajurit Mantrijero dan Prajurit Ketanggung pada tanggal 11 Mulud (Rabiulawal), kira-kira pada pukul 24.00 W.I.B. setelah Sultan meninggalkan Masjid Besar.
Dengan dipindahkannya gamelan pusaka Sekati (Kangjeng Kyai Sekati) dari halaman Masjid Besar kembali ke dalam Kraton menandai bahwa upacara Sekaten telah selesai dilaksanakan.














BAB IV
RELEVANSI RITUAL SEKATEN dengan AGAMA


A.      Pandangan Agama Islam Terhadap Ritual Sekaten

Agama islam umumnya berkembang baik dikalangan masyarakat. Hal ini tampak nyata dengan adanya bangunan-bangunan khusus untuk tempat beribadah orang-orang beragama islam. Walaupun demikian tidak semua orang beribadah menurut agama islam, sehingga berlandaskan atas kreteria pemeluk agamanya.

Analisis ritual Sekaten di Surakarta ditinjau dari agama islam akan penulis jabarkan sebagai berikut :

1.      Tujuan Ritual Sekaten
Ritual Sekaten ini bertepatan dengan hari raya Maulud Nabi, yang merupakan tradisi kelanjutan para wali. Gamelan ditabuh saat Sekaten dengan maksud untuk menarik para masyarakat. Tujuan ritual Sekaten ini dilaksanakan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad S.a.w.
Di dalam setiap tahap ritual ada sesembahan atau sesajen yang disertakan dalam tahap ritual itu, dan disertai dengan memohon do’a keselamatan. Apabila ditinjau dari agama islam, ketika kita memohon kepada Allah disertai dengan sesajen maka akan hilang makna Islam.
2.      Unsur Semedi

Semedi dalam agama Hindu mempunyai maksud memuja kepada dewa-dewa. Karena agama Islam tidak mengenal dewa, maka diganti dengan memuja Allah SWT dengan sholat.

3.      Unsur  Sesaji

Sesaji menurut agama Hindu mempunyai maksud memberi makanan kepada dewa-dewa dan jin, agar sesuai dengan ajaran Islam diganti dengan zakat fitrah pada fakir miskin.

Dalam Islam sendiri ritual sesaji tidak ada sama sekali. Lain halnya dengan agama Hindu yang selalu ada sesaji dalam setiap menjalankan ibadahnya.

4. Unsur Keramaian

Dalam agama Hindu keramaian mempunyai maksud menghormat kepada dewa-dewa, diganti keramaian menghormat hari-hari raya Islam.
Pada hakekatnya berubahnya tradisi tidak merusak dan tidak merupakan suatu problema yang memerlukan suatu pemecahan, yang merusak adalah menyimpangnya tradisi dari kaidah-kaidah akhlak, ketentuan-ketentuan aqidah dari keimanan kepada Allah SWT.
Menurut Muhammad Abduh, seorang ahli agama dan filsafat, bahwa kepercayaan tidak mempunyai landasan yang kuat dari Al-Qur’an dan hadits mutawatir, tidaklah perlu dan harus dipercayai oleh seorang muslim, sekalipun kepercayaan itu sudah menjadi kepercayaan umum.
Sikap Islam terhadap adat atau hokum adat adalah disesuaikan dengan hukum Islam yang bersumber pada kedatangan Nabi Muhammad dan agama Islam yang diajarkanya membawa tugas suci, diantaranya yang terpenting adalah :
a.       Mengajak umat manusia agar beriman atau bertauhid dan hanya menyembah kepada Allah.
b.      Mengangkat derajat atau harkat manusia sebagai makhluk Allah yang tertinggi tanpa ada deskriminasi yang didasarkan atas perbedaan kelamin, ras, warna kulit, bahasa dan sebagainya.
c.       Mengajak ,manusia agar melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar (mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran).


Sikap Islam dan kebijaksanaan Nabi Muhammad, para khalifah, yang pandai dan bijaksana (al-Khulafaur al-Rasyidin), para penguasa pemerintah Islam sesudahnya, dan para mubaligh Islam yang tersebar di seluruh dunia terhadap adat kebiasaan yang telah berakar di masyarakat adalah sangat bijaksana sebab tidak semua adat kebiasaan suatu masyarakat atau bangsa disapu bersih sampai ke akar-akarnya oleh Islam dan pemimpin Islam. Semua tradisi yang mengandung unsur dan nilai positif menurut akal sehat, dibiarkan bahkan dikembangkan oleh Islam. Sedangkan semua tradisi yang mengandung unsur negatif, karena bertentangan dengan agama Islam atau karena merendahkan harkat manusia atau karena termasuk perbuatan mungkar dan keji, tidak dibenarkan oleh Islam dan diusahakan dihapus dengan cara yang bijaksana.

Jelaslah bahwa adat atau tradisi yang mengandung nilai positif dapat diterima oleh Islam dan tradisi yang mengandug nilai negatif tidak dapat ditolerir oleh Islam.

Berdasarkan hasil pengamatan penulis dari berbagai sumber, ritual Sekaten sudah dipengaruhi oleh ajaran Islam, walaupun porsinya tidak terlalu Nampak, misalnya dalam permulaan acara, modin membaca basmallah dan penutupnya membaca hamdallah, begitu juga dengan do’a yang dipakai. Do’a menggunakan bahasa arab yang isinya menyanjung Nabi Muhammad beserta keluarganya, keselamatan dan perlindungan dari mara bahaya.

Dalam ritual kebudayaan ini, masyarakat Surakarta mengembang-kan menjadi sebuah kebudayaan yang berasaskan Islam dan memohonkan keselamatan bagi masyarakat Surakarta pada khususnya.


BAB V
PENUTUP

A.    KESIMPULAN

Sejarah perayaan sekaten tidak terlepas dari peran penting Masjid Agung Demak yang didirikan Walisanga. Masjid inilah yang dijadikan sebagai tempat perayaan lahirnya Nabi Muhammad. Penggunaan nama sekaten syarat makna dan nilai. Kata sekaten diambil dari kata syahadat yang merupakan syarat keislaman seseorang. Di jawa kata syahadatain ini lebih mudah diucap dengan kata sekaten.
Prosesi ritual sekaten diawali dengan adanya selametan dan dilengkapi dengan dibukanya pasar malam. Sebelum puncak acara, dilakukan pemindahan gamelan dari keraton untuk di bawa ke pagongan utara dan selatan. Rangkaian upacara selanjutnya adalah numplak wajik yang diiringi gejok lesung. Kemudian dilaksanakannya acara miyos dalem( Pembacaan riwayat Nabi Muhammad) di Masjid Agung. Prosesi terakhir dalam sekaten yaitu grebeg maulud yang merupakan puncak acara dan ditandai dengan dikeluarkannya gunungan yang akan diperebutkan masyarakat.
Sekaten bukan lah upacara adat biasa, akan tetapi sekaten memiliki nilai dan makna yang tersirat dalam setiap prosesi ritualnya. Seperti adanya nilai religi, sejarah, dan budaya. Dan hal  itu akan tampak jika kita benar-benar mau mengkajinya lebih dalam.
Sebagai masyarakat jawa yang terkenal dengan adat ketimuran dan selalu menjaga amanah dari para leluhurnya agar senantiasa melestarikan upacara adat yang diprakarsai oleh para leluhur seperti upacara sekaten yang penuh misi sebagai sarana dakwah islam. Tidak ada salahnya jika sekaten yang dari masa ke masa selalu mengalami perubahan dan kemajuan, karena mengingat adanya perkembangan zaman. Akan tetapi  tidak seharusnya hal itu mengurangi pokok-pokok dan nilai yang terkandung di dalamnya. Apalagi sampai merubah tujuan awal dari sekaten itu sendiri.







B.     KRITIK dan SARAN

Dengan berbagai ungkapan yang telah  penulis buat, penulis merasa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu kami menerima masukan-masukan  ataupun kritikan dan saran yang sifatnya membangun. Dan bisa menjadi perbaikan untuk ke depannya di dalam pembuatan makalah selanjutnya.

C.    KATA PENUTUP

Alhamdulillah, tulisan ini dapat penulis selesaikan, semua ini tidak lain berkat hidayah dan bimbingan dari Allah SWT.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan, walaupun penulis sudah mengerjakan semaksimal mungkin, hal itu karena keterbatasan kemampuan yang penulis miliki. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkandemi perbaikan makalah ini.

Penulis berharap mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan para pembaca pada umumnya.

Akhirnya, semoga Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk kepada kita, bangsa dan Negara Indonesia. Amin.











DAFTAR PUSTAKA


Musa Muhammad Yusuf, Islam: Suatu Kajian Komprehensif, cet. I, (Jakarta, Rajawali, 1998), hlm.3.
Ibid, hlm.3.
Nico Syukur, Pengalaman dan motivasi beragama. Ed. II, (Yogyakarta: Kanisius, 1998), hlm. 17.
Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalis dan pembangunan, (Jakarta: PT. Gramedia, 1992), hlm. 5.
Triyogo Lucas Sasongko, Manusia Jawa dan Gunung Merapi, Persepsi dan Sistem Kepercayaan, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1991), hlm. 83.
Masyfuk Zuhdi, Studi Islam Jilid I, Akidah, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993), hlm. 109.
Masyfuk Zuhdi, Studi Islam Jilid III, Muamalah, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993), hlm. 9-10.
http://omahsinten.net/2012/01/romantika-ritual-sekaten-kota-solo/







Tidak ada komentar:

Posting Komentar