RITUAL SEKATEN DI KOTA MADYA SURAKARTA
MAKALAH
Untuk Memenuhi Tugas Akhir Mata Kuliah
Pengantar Filsafat
DOSEN PENGAMPU :
Dr. Rizal Musytansir, M.Hum
OLEH :
BETA PUJANGGA MUKTI
NIM: 12090206
PENDIDIKAN ULAMA’ TARJIH MUHAMMADIYAH
PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2013
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang
telah memberikan nikmat dan Karunia-Nya sehingga penulisan makalah dengan judul
“RITUAL SEKATEN DI KOTA MADYA SURAKARTA” ini dapat terselesaikan. Shalawat
serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW, para keluarganya,
dan para sahabat-sahabatnya.
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas ahir mata
kuliah PENGANTAR FILSAFAT. Dalam makalah ini akan dibahas tentang sejarah,
maksud dan tujuan diadakan ritual sekaten di kota madya Surakarta.
“Tak ada gading yang tak retak” dan permohonan maaf kami
pribadi apabila di dalam penulisan makalah ini banyak terdapat kesalahan. Kami
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun, agar dapat memperbaiki kekurangan
dan kesalahan dalam penyusunan makalah selanjutnya. Mudah-mudahan makalah ini dapat
bermanfaat bagi pribadi penulis dan
khususnya bagi masyarakat umum.
Yogyakarta, 7 Juni 2013
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman Sampul………………………………………………………………………. 1
Kata Pengantar………………………………………………………………………… 2
Daftar Isi………………………………………………………………………………. 3
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang………………………………………………………………... 4
B.
Rumusan
Masalah…………………………………………………………….. 5
BAB II ANALISIS
A.
Konsep
Awal………………………………………………………………….. 6
B.
Konsep
Simbol dan Makna yang Terkandung dalam Simbol-simbol
Ritual………………………………………………………………………….. 7
BAB III PEMBAHASAN
A.
Sejarah
Ritual Sekaten………………………………………………………... 9
B.
Tujuan
Pelaksanaan Ritual…………………………………………………… 10
C.
Prosesi
Ritual…………………………………………………………………. 10
D.
Tahap-tahap Pelaksanaan
Ritual……………………………………………… 11
BAB IV. RELEVANSI RITUAL SEKATEN DENGAN
AGAMA
A.
Pandangan
Agama Islam Terhadap Ritual Sekaten…………………………… 12
BAB V. PENUTUP
A.
Kesimpulan……………………………………………………………………
14
B.
Kritik
dan Saran………………………………………………………………. 15
C.
Kata
Penutup…………………………………………………………………. 15
DAFTAR
PUSTAKA………………………………………………………………... 16
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Agama
diartikan sebagai suatu sistem sosial yang dianut oleh sekelompok orang yang
disertai pelaksanaan ritus-ritus tertentu dan amal perbuatan yang terus-menerus
serta kepercayaan kepada kekuatan spiritual yang berkuasa diatas manusia
seluruhnya. Kekuatan ini di kenal dengan nama “Allah”. Sebagian orang barat ada
yang meendefinisikan agama sebagai sekumpulan kewajiban manusia kepada Allah,
masyarakat dan kepada dirinya sendiri.
Disisi
lain dikatakan bahwa agama adalah sejumlah kepercayaan dan pesan yang harus
mengarahkan tingkah laku kita terhadap Allah, manusia dan diri kita sendiri.
Al-Syihristany berpendapat bahwa agama adalah ketaatan serta kepatuhan, dan
bisa diartikan sebagai pembalasan dan perhitungan (amal perbuatan di akhirat).
Manusia
dan hubunganya dengan realitas mutlak diperkuat dan diperkokoh melalui berbagai
perbuatan keagamaan, yang merupakan ekspresi pengalaman keagamaan dalam bentuk
praktis. Secara umum, perbuatan keagamaan ini dapat disebut dengan kultus atau
peribadatan dalam arti luas. Kultus atau ibadat dapat dianggap sebagai sebuah
reaksi perjumpaan manusia yang diwujudkan dalam bentuk tingkah laku dan
perbuatan ketika menghadapi realitas mutlak.
Kultus
merupakan sebuah tanggapan yang bersifat mendalam dan integral dari manusia
utuh terhadap realitas mutlak. Manifestasi kultus-kultus telihat dalam berbagai
bentuk perbuatan keagamaan. Perbuatan keagamaan ini merupakan sebuah perbuatan
yang dipandang penting yang dikembangkan melalui kedalaman spiritual menuju
suatu tin yang lebih tinggi. Dalam
kehidupan paling sederhana pun dapat ditemukan adanya oerbuatan-perbuatan
tertentu yang dapat disebut dengan perbuatan keagamaan.
Beragama
merupakan bentuk ekspresi manusia kepada Tuhan-Nya, sedang manifestasi dari
ekspresi tersebut tertuang dalam bentuk ritual yang disesuaikan dengan daya
nalar, kultur, latar belakang dari manusia tersebut dalam mencapai kebenaran
Tuhan. Sebab pada dasarnya manusia percaya “ada” kekuatan lain di luar dirinya
dan kekuatan tersebut adalah “tak terhingga”, walaupun tingkat kepercayaan dan
keyakinan tersebut kadang tidak diformalkan menjadi institusi yang bernama
agama, dengan demikian fenomena keagamaan ini merupakan perwujudan sikap dari
prilaku manusia yang menyangkut hal-hal yang dipandang suci, keramat, yang
berasal dari keghaiban. Robert Thouless sebagaimana dikutip Nico Syukur
mendefinisikan agama secara lebih luas sebagai suatu sikap terhadap dunia,
sikap yang menunjuk kapada suatu lingkungan yang lebih luas dari lingkungan
dunia ini. Lingkungan yang lebih luas itu adalah dunia rohani.
Sepanjang
sejarah manusia, penggunaan simbol-simbol telah mewarnai tindakan-tindakan
manusia, baik tingkah laku, bahasa, ilmu pengetahuan, maupun religinya. Salah
satu bentuk simbol yang telah mewarnai tindakan mainusia dalam religinya
misalnya terwujud dalam ritual tradisional di Surakarta yaitu ritual Sekaten.
Ritual ini merupakan tingkah laku perayaan untuk memperingati Maulud Nabi Muhhamad S.a.w.
Dalam pengertian umum, maka kebudayaan dapat disebut sebagai
adat-istiadat. Setiap tempat atau di daerah mempunyai kebudayaan masing-masing dan
memiliki ritual yang berbeda-beda, seperti di Yogya dengan tradisi labuhan
gunung merapi dengan maksud agar memperoleh keselamatan lahir dan batin dari
gangguan makhluk halus penghuni gunung. Di Surakarta dikenal dengan nama ritual
Sekaten.
Ritual Sekaten merupakan ritual tahunan masyarakat
muslim kota Surakarta pada waktu maulud Nabi Muhammad SAW. Perayaan sekaten
bertepatan dengan hari raya Maulud Nabi, yang merupakan tradisi kelanjutan para
wali. Gamelan ditabuh saat sekaten dengan maksud untuk menarik para masyarakat.
Sekaten dilaksanakan juga untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad S.a.w.
B.
Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah tersebut diatas maka, maka dapat
diambil rumusan masalah sebagai berikut :
1.
Mengapa
ritual Sekaten itu dilaksanakan?
2.
Bagaimana
proses pelaksanaan ritual Sekaten?
BAB II
ANALISIS
A.
Konsep
Awal
Timbulnya perayaan sekaten di Surakarta sebenarnya hanya
merupakan kelanjutan daritradisi Demak. Tetapi timbulnya tradisi sekaten di
Surakarta sejak PB III. Pada waktu Mataram pecah jadi dua yaitu Surakarta dan
Yogyakarta maka Gamelan sekaten juga dipecah menjadi dua, sehingga perayaan
sekaten pada waktu PB III tidak meriah. Akan tetapi pada waktu PB IV bertahta,
perayaan sekaten lebih meriah, karena PB IV memesan satu gamelan lagi yang
diberi nama Kyai Guntur Maadu. Perayaan sekaten di Surakarta merupakan
perpaduan antara kebidayaan jawa dan Islam, kebudayaan jawa berbentuk Gamelan
sedang Islam berbentuk Masjid. Sekaten berlangsung dari tanggal 5 s.d. 12
Maulud.
1.
Persiapan Upacara Sekaten Di Surakarta
Perayaan ini merupakan tradisi Keraton maka kepanitiaan
ditangani langsung oleh Keraton. Yang kebagian tugas yaitu Roh Kepatihan
yaitu menyangkut keamanan, ketertiban, dan sebagainya ditangani oleh Roh
Kepatihan. Tetapi sekarang bekerjasama dengan Kesra, Pariwisata dan Kantor
agama Surakarta, sebab upacara ini tidak hanya adat tetapi sekarang merupakan
perpaduan antara adat, agama, dan pesta. Campur tangan Keraton yaitu waktu
gamelan diturunkan dari Sitinggil, agama yaitu tempat gamelan diletakkan
(Masjid Agung ). Sedangkan pesta yaitu hiburan yang berupa promosi, stand,
iklan, permainan yang ada di luar Masjid.
Gamelan Kyai Guntur Sari dan Kyai Guntur Madu diturunkan
dari Sitinggil + jam 10.00 pagi, lewat Pagelaran kemudian menuju Alun alun dan
belok ke kiri, tepat disebelah selatan waringin kurung menuju Masjid Agung.
Gamelan sekaten tersebut terdiri atas :
- Bonang besar satu pangkon
terdiri dari dua baris
- Demung dua pangkon
- Gembyangan dua pangkon
- Saron penerus dua pangkon
- Gong besardua buah
- Bedug
2.
Pelaksanaan
Sekaten di Surakarta
Perayaan ini dilaksanakan pada bulan Maulud tanggal 5 s.d.
12 Rabiul awal dihalaman Masjid Agung Surakarta.
Perayaan bersifat umum dan terbuka, maka banyak pengnjung
yang datang baik dari masyarakat Surakarta sendiri maupun dari luar
kota,seperti : Wonogiri, Karanganyar, Boyolali, Sukoharjo,dan lainnya.
Sebelum pelaksaan sekaten disiarkan melalui radio baik lewat
RRIataupun yang lain.
Perayaan sekaten tidak lepas dari prakarsa Sunan Kalijaga
yaitu sebagai sarana da’wah. Sebab dengan gamelan sekaten tersebut, maka bisa
berhasildengan gemilang. Dua gamelan yang penulis uraikan diatas, Kyai Guntur
Madu memperdengarkan gending-gending”Rambu” dan Kyai Guntur Sari
memperdengarkan gending “Rangkung”, jadi gamelan sekaten memperdengarkan
gending “ Rambu dan Rangkung “.
Pada upacara pembukaan perayaan sekaten di serambi Masjid
Agung dengan acara sebagai berikut :
- Pembacaan ayat suci Al Qur’an
- Pembukaan oleh ketua panitia
- Sambutan dari Bapak Walikota Kota
Madya Surakarta
- Uraian Sejarah timbulnya
sekaten oleh Bapak sesepuh Keraton Surakarta Hadiningrat
- Doa penutup.
B.
Konsep Simbol dan Makna yang terkandung dalam Simbol-simbol
Ritual
Hubungan antara manusia dan
kebudayaan sungguh begitu eratnya, sehingga ia disebut makhluk berbudaya.
Kebudayaan sendiri terdiri dari gagasan-gagasan, simbol-simbol dan nilai-nilai
sebagai hasil karya dari tindakn manusia. Sehingga tidaklah berlebihan
jika ada ungkapan begitu eratnya
kebudayaan manusia dengan simbol-simbol, sampai manusiapun disebut makhluk
dengan symbol-simbol. Manusia berfikir, berperasaan dan bersikap dengan
ungkapan-ungkapan yang sibolis. Ungkapan-ungkapan simbolis ini merupakan ciri
khs manusia, yang membedakanya dengan hewan. Maka Erns Cassirer cenderung
menyebut manusia sebagai hewan yang bersimbol (animal symbolicum). Ia
menegaskan bahwa manusia itu tidak pernah melihat, menemukan dan mengenal dunia
secara langsug kecuali melalui bebbagai simbol. Kenyataan memang sekedar
fakta-fakta, tidak mempunyai makna psikis, krena simbol mempunyai unsur
pembebsan dan perluasan pandanagan.
Kata simbol berasal dari bahasa
yunani “symbolos”, yang berarti tanda atau ciri yang membaritahukan
sesuatu hal pada seseorang. Dalam kamus umum bahasa Indonesia karya W.J.S Purwadarminta
disebutkan bahwa simbol atau lambang adalah semacam tanda, lukisan, perkataan,
rancana dan sebagainya yang menyatakan sesuatu hal atu mengandung maksud
tertentu.
Simbol adalah sesuatu hal atau
keadaan yang merupakan media pemahaman terhadap obyek1. Pengkajian
kehidupan beragama (Islam) pada suatu masyarakat tertentu yang berarti
mendeskripsikan tentang cara-cara pemberian makna terhdap simbol-simbol agama
oleh para penganutnya termasuk dalam masalah kebudayaan. Dengan demikian agama dapat ditanggapi
sebagai sistem kebudayaan. Karenanya agama yang dianut oleh suatu masyarakat
pada dasarnya adalah sama dengan kebudayaan yang terwujud melalui sosialisasi
dan akulturasi yang diwariskan secara turun-menurun dari satu generasi ke
generasi selanjutnya. Karena itu pulalah maka hubungan antara simbol-simbol dan
makna-makna tersebut selalu dimengerti oleh pendukungnya1. Hal ini akan di
jelaskan dalam uraian berikut ini :
1.
Gunungan
Gunungan merupakan puncak dari upacara tradisi sekaten.
Disini terdapat gunungan yang didalamnya ada berbagai jenis makanan serta sayur
mayur atau kebutuhan makan sehari-hari. Masyarakat percaya kalau
mengambil isi gunungan, segala bentuk keinginan dan cita-cita akan
tercapai. Dan setidaknya bisa mendatangkan berkah.
2.
Janur
Janur disini yang dipercaya dan diperebutkan oleh orang
adalah janur yang dipasang pada saat pembukaan Sekaten, yaitu pada saat gamelan
sekaten pertama kali ditabuh/ dibunyikan. Dengan memperebutkan janur sekaten bisa
mendatangkan rejeki.
3.
Sirih
Para pengunjung sekaten biasanya mengunyah sirih yaitu mulai
pada saat gamelan sekaten dibunyikan. Ini dipercayai dengan mengunyah sirih
kita dapat awet muda.
4.
Telur amal / telur asin
Telur amal / asin biasa dijual diarena stand sekaten, disini
dipercaya oleh masyarakat kalau membeli telur asin maka kita memberi amak pada
pembeli, juga segala amal kebaikan kita diterima oleh Tuhan.
BAB III
PEMBAHASAN
A. Sejarah Ritual
Sekaten
Dalam serat babat menyebutkan bahwa setelah Majapahit
mengalam dekadensi,kerajaan tanah jawa dipindah ke Demak. Pada waktu itu orang
Jawa masih masih menganut paham Hindhu,kepercayaan Animisme, Dinamisme masih
kuat, maka para ulama sepakat akan mengIslamkan masyarakat jawa. Sebelum Islammasuk
masyarakat jawa sudah gemar akan gamelan. Gamelan dapat dipakainsebagai
pelengkap didalam pertunjukan wayang, pengiring gendhing jawa ( tembang ), oleh
para wali lebih lebih Sunan Kalijaga gamelan tersebut dimanfaatkan sebagai alat
untuk da’wah. Oleh karena itu Sunan Kali jaga dengan menggunakan gamelan dan
dibuyikan dihalaman Masjid Agung Demak dengan maksud agar rakyat datang
mendengarkan kemudian menganut Islam.
Adapun orang yang masuk Masjid diwajibkan membaca “ dua
syahadat “.dalam bahasa arab “ syahadat ain “ Kemudian orang jawa
menamakan sekaten. Adapun syahadat tersebut adalah :
- Asshadu alla illaha illalloh :
yang artinya tidak ada makhlukyang disermbah didunia ini kecuali hanya
ALLAH saja.
- Wa asshadu anna
Muhammadarosullulloh : yang artinya dan saya percaya bahwa Nabi Muhhamad
utusan ALLAH.
Pengertian
Sekaten
Sekaten
berhubungan erat dengan proses Islamisasi di Jawa. Masyarakat Jawa gemar aka
gamelan maka oleh Sunan Kalijaga Alat itu dipakai untuk menyiarkan agama Islam.
Gamelan yang dipakai itu oleh Sunan Kalijaga diberi nama Kyai Sekati. Adapun
maksudnya adalah untuk memperlambangkan agama Islam.
Setiap
tahun sekali di Masjid Agung yaitu pada bulan Maulud diadakan tablikakbar
atas prakarsa Sunan Kalijaga. Tabligh ini untuk memperingatti Maulud Nabi
Muhhamad S.a.w. dan pada waktu itu sebagai musyawarah para wali.
Seusai
perkembangan jaman sekaten dikemas sedemikian rupa hingga dapat menarik
masyarakat. Pada hari Maulud Nabi, gamelan Kyai Sekati ditabuh bertalu talu
dengan tidak hentinya.
Jadi
disini penulis mengartikan pengertian sekaten adalah : Suatu upacara
keagamaan, dimana gamelan dibunyikan dihalaman Masjid dengan tujuan agar orang
masuk Masjid dengan membaca dua kalimat syahadat.
B. Tujuan
Pelaksanaan Ritual
Perayaan
sekaten bertepatan dengan hari raya Maulud Nabi, yang merupakan tradisi
kelanjutan para wali. Gamelan ditabuh saat sekaten dengan maksud untuk menarik
para masyarakat. Sekaten dilaksanakan juga untuk memperingati kelahiran
Nabi Muhammad S.a.w.
Didalam sekaten karena pengunjungya
sangat banyak maka diadakan kotbah-kotbah yang bernuansa Islam untuk menggugah
keimanan mereka agar menghayati perintah Nabi.
C. Prosesi
Pelaksanaan
1. Tahap Persiapan
Terdapat dua jenis persiapan
dalam pelaksanaanya, yaitu persiapan secara fisik dan persiapan non fisik.
Dalam persiapan fisik adalah benda-benda dan perlengkapan-perlengkapan yang
dibutuhkan dalam proses penyelenggaraan upacara tersebut: Gamelan Sekaten
(gamelan khusus yang dibunyikan pada saat penyelenggaraan upacara Sekaten),
Perbendaharaan lagu-lagu atau gending-gending Sekaten (‘Rambu’
pathet lima, ‘Rangkung’ pathet lima, ‘Lunggadhung’ pelog pathet lima,
‘Atur-atur’ pathet lima, ‘Jaumi’ pathet lima, ‘Atur-atur’ pathet nêm, ‘Salatun’
pathet nêm, ‘Dhindhang Sabinah’ pathet nêm, ‘Muru putih’ ‘Orang-aring’ pathet
nêm, ‘Ngajatun’ pathet nêm, ‘Bayem Tur’ pathet nêm, ‘Supiatun’ pathet barang,
‘Srundheng Gosong’ pelog pathet barang, Beberapa kepingan uang logam
(untuk disebarkan dalam upacara udhik-udhik), Naskah riwayat Mulud
Nabi Muhammad s.a.w. , Sejumlah bunga kanthil (cempaka), Busana
seragam yang masih baru dan sejumlah samir yang khusus (dikenakan oleh para niyaga
atau penabuh gamelan selama menabuh gamelan Sekaten dalam upacara Sekaten),
Atribut dan perlengkapan prajurit Kraton. Sedangkan dalam persiapan non
fisiknya adalah berupa sikap dan perbuatan yang harus dilakukan sebelum
pelaksanaan upacara Sekaten, yaitu persiapan diri terutama
mempersiapakan mental, penyucian diri (berpuasa dan siram jamas atau
mandi keramas).
2. Tahap Gamelan Sekaten Mulai Dibunyikan
Dalam tahap ini, proses gamelan sekaten mulai dibunyikan di dalam
Kraton yaitu pada malam tanggal 6 Mulud di Bangsal Ponconiti (pada zaman dahulu
gamelan dibunyikan di Bangsal Srimanganti dan di Bangsal Trajumas) mulai pukul
19.00 W.I.B hingga pukul 23.00 W.I.B.
3. Tahap Gamelan Sekaten Dipindahkan ke
Halaman Masjid Besar
Pukul 23.00 W.I.B. bunyi gamelan
harus sudah berhenti dan bersamaan dengan itu pula, para prajurit Kraton
mengawal iring-iringan dipindahkannya gamelan Sekaten menuju halaman
Masjid Besar.
4. Tahap Sri Sultan Hadir di Masjid Besar
Tahap ini menyebutkan tentang kehadiran Sultan dari Kraton menuju Masjid
Besar dengan mengendarai kendaraan dan iring-iringan para Pangeran dan kerabat
Kraton pada malam ketujuh, tanggal 11 Rabiulawal malam atau malam tanggal 12
Rabiulawal dimana pembacaan riwayat Nabi Muhammad s.a.w. dibacakan yang selesai
pada pukul 24.00 W.I.B. dan penyebaran udhik-udhik dilakukan oleh
Sultan, yang disebut juga sebagai Pisowanan Malem Garebeg/ Muludan. Kemudian,
diakhiri dengan bacaan doa oleh Kangjeng Raden Penghulu, setelah itu
Sultan kembali ke dalam Kraton.
5. Tahap Kondur Gongsa
Proses pemboyongan gamelan sekaten kembali ke dalam Kraton disebut
sebagai kondur gongsa dengan pengawalan dari dua pasukan abdi dalem
prajurit, yaitu Prajurit Mantrijero dan Prajurit Ketanggung pada tanggal 11
Mulud (Rabiulawal), kira-kira pada pukul 24.00 W.I.B. setelah Sultan
meninggalkan Masjid Besar.
Dengan dipindahkannya gamelan pusaka Sekati (Kangjeng Kyai
Sekati) dari halaman Masjid Besar kembali ke dalam Kraton menandai bahwa
upacara Sekaten telah selesai dilaksanakan.
BAB IV
RELEVANSI RITUAL SEKATEN dengan AGAMA
A. Pandangan Agama Islam Terhadap Ritual Sekaten
Agama islam umumnya berkembang baik dikalangan
masyarakat. Hal ini tampak nyata dengan adanya bangunan-bangunan khusus untuk
tempat beribadah orang-orang beragama islam. Walaupun demikian tidak semua
orang beribadah menurut agama islam, sehingga berlandaskan atas kreteria
pemeluk agamanya.
Analisis ritual Sekaten di Surakarta ditinjau dari
agama islam akan penulis jabarkan sebagai berikut :
1. Tujuan Ritual Sekaten
Ritual Sekaten
ini bertepatan dengan hari raya Maulud
Nabi, yang merupakan tradisi kelanjutan para wali. Gamelan ditabuh saat Sekaten dengan
maksud untuk menarik para masyarakat. Tujuan ritual Sekaten
ini dilaksanakan untuk memperingati kelahiran Nabi
Muhammad S.a.w.
Di dalam setiap tahap ritual ada sesembahan atau sesajen
yang disertakan dalam tahap ritual itu, dan disertai dengan memohon do’a
keselamatan. Apabila ditinjau dari agama islam, ketika kita memohon kepada
Allah disertai dengan sesajen maka akan hilang makna Islam.
2. Unsur Semedi
Semedi dalam agama Hindu mempunyai
maksud memuja kepada dewa-dewa. Karena agama Islam tidak mengenal dewa, maka
diganti dengan memuja Allah SWT dengan sholat.
3. Unsur Sesaji
Sesaji menurut agama Hindu mempunyai maksud memberi makanan kepada dewa-dewa dan jin, agar sesuai dengan ajaran Islam diganti dengan zakat fitrah pada fakir miskin.
Sesaji menurut agama Hindu mempunyai maksud memberi makanan kepada dewa-dewa dan jin, agar sesuai dengan ajaran Islam diganti dengan zakat fitrah pada fakir miskin.
Dalam Islam sendiri ritual sesaji tidak
ada sama sekali. Lain halnya dengan agama Hindu yang selalu ada sesaji dalam
setiap menjalankan ibadahnya.
4.
Unsur Keramaian
Dalam agama Hindu keramaian mempunyai maksud menghormat kepada dewa-dewa, diganti keramaian menghormat hari-hari raya Islam.
Dalam agama Hindu keramaian mempunyai maksud menghormat kepada dewa-dewa, diganti keramaian menghormat hari-hari raya Islam.
Pada hakekatnya berubahnya tradisi tidak merusak dan tidak
merupakan suatu problema yang memerlukan suatu pemecahan, yang merusak adalah
menyimpangnya tradisi dari kaidah-kaidah akhlak, ketentuan-ketentuan aqidah
dari keimanan kepada Allah SWT.
Menurut Muhammad Abduh, seorang ahli agama dan filsafat,
bahwa kepercayaan tidak mempunyai landasan yang kuat dari Al-Qur’an dan hadits
mutawatir, tidaklah perlu dan harus dipercayai oleh seorang muslim, sekalipun
kepercayaan itu sudah menjadi kepercayaan umum.
Sikap Islam terhadap adat atau hokum adat adalah disesuaikan
dengan hukum Islam yang bersumber pada kedatangan Nabi Muhammad dan agama Islam
yang diajarkanya membawa tugas suci, diantaranya yang terpenting adalah :
a.
Mengajak
umat manusia agar beriman atau bertauhid dan hanya menyembah kepada Allah.
b.
Mengangkat
derajat atau harkat manusia sebagai makhluk Allah yang tertinggi tanpa ada
deskriminasi yang didasarkan atas perbedaan kelamin, ras, warna kulit, bahasa
dan sebagainya.
c.
Mengajak
,manusia agar melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar (mengajak kebaikan dan
mencegah kemungkaran).
Sikap Islam dan kebijaksanaan Nabi
Muhammad, para khalifah, yang pandai dan bijaksana (al-Khulafaur al-Rasyidin),
para penguasa pemerintah Islam sesudahnya, dan para mubaligh Islam yang
tersebar di seluruh dunia terhadap adat kebiasaan yang telah berakar di
masyarakat adalah sangat bijaksana sebab tidak semua adat kebiasaan suatu
masyarakat atau bangsa disapu bersih sampai ke akar-akarnya oleh Islam dan
pemimpin Islam. Semua tradisi yang mengandung unsur dan nilai positif menurut
akal sehat, dibiarkan bahkan dikembangkan oleh Islam. Sedangkan semua tradisi
yang mengandung unsur negatif, karena bertentangan dengan agama Islam atau
karena merendahkan harkat manusia atau karena termasuk perbuatan mungkar dan
keji, tidak dibenarkan oleh Islam dan diusahakan dihapus dengan cara yang
bijaksana.
Jelaslah bahwa adat atau tradisi
yang mengandung nilai positif dapat diterima oleh Islam dan tradisi yang
mengandug nilai negatif tidak dapat ditolerir oleh Islam.
Berdasarkan hasil pengamatan penulis
dari berbagai sumber, ritual Sekaten
sudah dipengaruhi oleh ajaran Islam, walaupun porsinya tidak terlalu Nampak,
misalnya dalam permulaan acara, modin membaca basmallah dan penutupnya membaca
hamdallah, begitu juga dengan do’a yang dipakai. Do’a menggunakan bahasa arab
yang isinya menyanjung Nabi Muhammad beserta keluarganya, keselamatan dan
perlindungan dari mara bahaya.
Dalam ritual kebudayaan ini,
masyarakat Surakarta mengembang-kan menjadi sebuah kebudayaan yang berasaskan
Islam dan memohonkan keselamatan bagi masyarakat Surakarta pada khususnya.
BAB V
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Sejarah perayaan sekaten tidak terlepas dari peran penting
Masjid Agung Demak yang didirikan Walisanga. Masjid inilah yang dijadikan
sebagai tempat perayaan lahirnya Nabi Muhammad. Penggunaan nama sekaten syarat
makna dan nilai. Kata sekaten diambil dari kata syahadat yang merupakan syarat
keislaman seseorang. Di jawa kata syahadatain ini lebih mudah diucap dengan
kata sekaten.
Prosesi ritual sekaten diawali dengan adanya selametan dan
dilengkapi dengan dibukanya pasar malam. Sebelum puncak acara, dilakukan
pemindahan gamelan dari keraton untuk di bawa ke pagongan utara dan selatan.
Rangkaian upacara selanjutnya adalah numplak wajik yang diiringi gejok lesung.
Kemudian dilaksanakannya acara miyos dalem( Pembacaan riwayat Nabi Muhammad) di
Masjid Agung. Prosesi terakhir dalam sekaten yaitu grebeg maulud yang merupakan
puncak acara dan ditandai dengan dikeluarkannya gunungan yang akan diperebutkan
masyarakat.
Sekaten bukan lah upacara adat biasa, akan tetapi sekaten
memiliki nilai dan makna yang tersirat dalam setiap prosesi ritualnya. Seperti
adanya nilai religi, sejarah, dan budaya. Dan hal itu akan tampak jika
kita benar-benar mau mengkajinya lebih dalam.
Sebagai masyarakat jawa yang terkenal dengan adat ketimuran
dan selalu menjaga amanah dari para leluhurnya agar senantiasa melestarikan
upacara adat yang diprakarsai oleh para leluhur seperti upacara sekaten yang
penuh misi sebagai sarana dakwah islam. Tidak ada salahnya jika sekaten yang
dari masa ke masa selalu mengalami perubahan dan kemajuan, karena mengingat
adanya perkembangan zaman. Akan tetapi tidak seharusnya hal itu
mengurangi pokok-pokok dan nilai yang terkandung di dalamnya. Apalagi sampai
merubah tujuan awal dari sekaten itu sendiri.
B. KRITIK dan SARAN
Dengan berbagai ungkapan yang telah penulis buat, penulis merasa makalah ini masih
jauh dari kesempurnaan, maka dari itu kami menerima masukan-masukan ataupun kritikan dan saran yang sifatnya
membangun. Dan bisa menjadi perbaikan untuk ke depannya di dalam pembuatan
makalah selanjutnya.
C.
KATA
PENUTUP
Alhamdulillah,
tulisan ini dapat penulis selesaikan, semua ini tidak lain berkat hidayah dan
bimbingan dari Allah SWT.
Penulis
menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan, walaupun
penulis sudah mengerjakan semaksimal mungkin, hal itu karena keterbatasan
kemampuan yang penulis miliki. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun
sangat penulis harapkandemi perbaikan makalah ini.
Penulis
berharap mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan
para pembaca pada umumnya.
Akhirnya,
semoga Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk kepada kita, bangsa dan Negara
Indonesia. Amin.
DAFTAR PUSTAKA
Musa
Muhammad Yusuf, Islam: Suatu Kajian
Komprehensif, cet. I, (Jakarta, Rajawali, 1998), hlm.3.
Ibid,
hlm.3.
Nico
Syukur, Pengalaman dan motivasi beragama.
Ed. II, (Yogyakarta: Kanisius, 1998), hlm. 17.
Koentjaraningrat,
Kebudayaan Mentalis dan pembangunan, (Jakarta:
PT. Gramedia, 1992), hlm. 5.
Triyogo
Lucas Sasongko, Manusia Jawa dan Gunung
Merapi, Persepsi dan Sistem Kepercayaan, (Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press, 1991), hlm. 83.
Masyfuk
Zuhdi, Studi Islam Jilid I, Akidah, (Jakarta:
Raja Grafindo Persada, 1993), hlm. 109.
Masyfuk
Zuhdi, Studi Islam Jilid III, Muamalah, (Jakarta:
Raja Grafindo Persada, 1993), hlm. 9-10.
http://omahsinten.net/2012/01/romantika-ritual-sekaten-kota-solo/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar