Selasa, 24 Februari 2015

Ditulis oleh:
Beta Pujangga Mukti
(Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah)
1.      Komunikasi bersifat prosesual
Contoh :
Ini adalah kisah nyata yang saya ambil dari kehidupan keluarga saya sendiri. Kami dulu sekeluarga tinggal dan menetap di Palembang, kota Wong Kito Galo. Ayah saya dulu adalah seorang kepala desa, beliau sering pergi ke kota memenuhi panggilan Bupati atau Gubernur untuk melakukan rapat atau sekedar pemberian arahan. Dari sinilah ayah saya banyak mengenal kawan, baik kawan seperjuangan sebagai kepala desa maupun kawan diluar jabatan beliau. Beliau banyak melakukan komunikasi dengan orang-orang yang beliau anggap orang besar. Dari situlah ayah saya mendapat banyak inspirasi kehidupan.
Sebelum mengenal orang-orang besar tersebut, ayah saya memang masih buta tentang banyak  hal. Salah satunya adalah tentang apa arti sebuah pendidikan. Bagi ayah dulu, pendidikan tidak terlalu penting, ayah berfikir terlalu pragmatis tentang pendidikan. Bahkan beliau tidak ada gambaran sedikit pun untuk mengantarkan anak-anaknya ke depan pintu gerbang pendidikan (hehe). Ayah bisa menjadi kepala desa pun, tanpa perlu pendidikan tinggi. Beliau hanya tamatan SMP, tapi bisa menduduki kursi jabatan kepala desa. Karena dulu memang, untuk menjadi kepala desa, tidak disyaratkan harus sarjana. Yang penting adalah kredibel dan punya kemampuan memimpin dengan baik, serta mendapat dukungan dari rakyat.
Setelah ayah saya mengenal banyak kawan orang-orang hebat, di situlah beliau memandang dan berkeyakinan bahwa pendidikan sangatlah penting untuk mengantarkan seseorang mendapat peluang yang lebih baik dalam meraih kesuksesan. Berangkat dari pengalaman itu, ayah saya lantas ingin mengantarkan anak-anaknya meraih hidup yang lebih baik dengan pendidikan. Alhamdulillah, saya dan saudara-saudara saya sampai sekarang sudah menikmati indahnya pendidikan. Terima kasih ayah.  
2.      Komunikasi bersifat irreversibel
Contoh:
            Saya adalah seorang mahasiswa. Bagi seorang mahasiswa, momen-momen yang paling ditunggu adalah saat liburan tiba. Saya pribadi lebih suka dan memilih liburan di rumah. Jadi ketika liburan ujian akhir semester tiba, saya ingin segera pulang ke surga duniaku, yaitu my home. Kenapa saya lebih memilih menghabiskan liburan di rumah?, karena di situlah saya menemukan cinta. Cinta orang tua kepada anak-anaknya, cinta dan bakti anak kepada orang tua, cinta kepada sesama saudara kandung, semua karena cinta. Di setiap titik rumah, selalu kutemukan dan kurasakan nuansa cinta. Bagi saya, wujud cinta paling besar yang diberikan orang tua kepada saya adalah petuah nasehat. Karena bagi saya, orang tua yang hebat bukanlah yang memiliki harta sejagat, tapi orang tua yang hebat adalah yang memiliki sejagat nasehat. Nasehat-nasehat hebat dari orang tua, sampai kapanpun tidak akan pernah terlupakan. Karena nasehat itu benar-benar masuk dalam hati dan pikiran.
            Ada satu nasehat atau pesan yang paling tidak bisa saya lupakan sampai sekarang dan sampai kapanpun. Yaitu perkataan ayah yang bunyinya seperti ini, “Tidak ada hal yang paling saya banggakan di dunia ini, kecuali hanya kalian putra-putriku. Biarlah orang tua ini kehabisan harta, yang penting anak-anaknya bisa berilmu, menjadi sukses. Ayah tidak bisa menjanjikan harta buat kalian, tapi ayah berjanji, akan memberikan yang terbaik buat kalian, yaitu ilmu”.
            Nasehat atau pesan tersebut sangat membekas dalam hati saya, dan dengan bekal sejagat nasehat dari orang tua hebat, saya percaya kelak saya juga akan menjadi orang hebat. Amiin.
3.      Komunikasi bersifat bukan panasea
Pernah suatu ketika, saat saya menjabat sebagai ketua IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) di SMA. Saya beserta jajaran pengurus membuat aturan-aturan yang harus dijalankan oleh setiap anggota IPM. Sebagai manusia biasa, tentu saya punya khilaf dan salah. Ketika itu saya pernah melanggar aturan yang pernah saya buat sendiri. Akibatnya ketika saya menegur salah seorang anggota, karena melanggar aturan, dia malah menegur balik saya, “Loh, mas aja kemarin pernah melanggar aturan yang mas buat sendiri, padahal mas sebagai ketua IPM, seharusnya memberi tauladan yang baik”, mendengar kata-kata itu saya menjadi malu sendiri. “Haduh, kena deh” batin saya. Saat kejadian itu, saya benar-benar meminta maaf kepada seluruh anggota atas kesalahan yang saya buat.
Pesan moral: Mana mungkin semua bawahan anda patuh terhadap peraturan, kalau anda sendiri sebagai atasan tidak mematuhi aturan yang anda buat sendiri. Kalau ingin semua bawahan anda menuruti semua aturan yang anda buat, maka anda harus konsisten dan memberikan suri tauladan yang baik.


Jumat, 13 Februari 2015


“BACK TO BOOK”
Sebagai Jawaban di Tengah Gempuran Era Teknologi, Informasi, dan Komunikasi
Oleh: Beta Pujangga Mukti
            Dunia saat ini sedang mengalami gempuran dalam bidang teknologi. Sebuah masa yang disebut dengan era informasi dan komunikasi, interaksi budaya berbagai suku bangsa terjadi melalui produksi pemikiran, seni, dan media. Di era seperti ini, beberapa pemerintah dan bangsa berada dibawah serangan budaya serta produk seni dan media negara-negara lain. Pada akhirnya, mereka akan kehilangan rasa percaya diri dan identitas sebagai sebuah bangsa yang merdeka.
Perang terselubung antara berbagai aliran pemikiran sedang berlangsung di dunia modern ini. Menurut lembaga Asia Pacific Economic Coorperation (APEC), di tahun 2020, khususnya di wilayah asia pasifik akan terjadi perdagangan bebas. Akan adanya persaingan sumber daya manusia yang berkwalitas baik dari segi intelektual maupun ketajaman membaca informasi dan komunikasi dari berbagai Negara. Sebuah pemikiran dan budaya akan dapat bertahan dan terproteksi dari serangan luar jika memiliki landasan yang kuat.                                                                        
Salah satu cara untuk melakukan protek terhadap serangan dari luar adalah  meningkatkan kwalitas ilmu pengetahuan dan ketajaman membaca informasi dan komunikasi. Diantaranya adalah dengan menumbuhkan budaya baca. Dengan hadirnya televisi, internet, handpone, dan berbagai macam hasil dari teknologi lainya, dewasa ini telah menjadi magnet yang mengalahkan daya tarik masyarakat terhadap buku. Anak-anak hingga orang dewasa sekalipun, jamak kita saksikan menghabiskan waktu di depan televisi atau berselancar di internet, berjejaring sosial hingga hampir tak punya waktu untuk membaca.
Budaya membaca hampir memudar dan Buku tidak lagiSebaik-baik teman duduk”. Ini merupakan paradoks di tengah geliat dunia perbukuan. Maka Sebagai jawaban dan solusi ditengah geliat Zaman teknologi, informasi, dan komunikasi sekarang ini, perlu untuk melakukan protek dengan “Back to Book” yaitu kembali kepada buku, dengan menghimpun, meneliti, mendalami, serta menelaah isi dari buku tersebut.
Para pakar percaya bahwa di era modern sebuah bangsa bisa tetap eksis dan dinamis jika memiliki kemampuan untuk melahirkan pemikiran-pemikiran baru dan kreatif. Kegiatan membaca akan membuat seseorang terlibat aktif dalam menentukan nasib dirinya dan masyarakat. Buku akan menumbuhkan rasa cinta antar sesama dan meningkatkan kekuatan inisiatif dan kreaktif. Buku juga memainkan peran tak tergantikan dalam mentransfer budaya dan peradaban kepada generasi masa depan. Jika nilai positif dari buku-buku dibiarkan memudar di tengah masyarakat, tanpa ragu warisan pemikiran dan budaya mereka tidak akan terwariskan secara benar kepada generasi mendatang. Kegiatan membaca akan mempengaruhi mental dan perilaku seseorang dan bahkan memiliki pengaruh besar bagi masyarakat.
Di dunia modern sekarang ini, kehidupan manusia semakin tergatung pada kemajuan sains dan teknologi. Oleh karena itu, urgensitas kegiatan membaca dan peningkatan pemahaman di tengah masyarakat semakin diperlukan.
Wahyu pertama yang diturunkan oleh Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw dalam surat Al-‘Alaq ayat pertama, dimulai dengan perintah (Iqra') yaitu bacalah. Perintah itu ingin menegaskan urgenya kegiatan untuk menghimpun, membaca, meneliti, mendalami, dan mengetahui. Ungkapan mengajarkan dengan pena juga menunjukkan pentingnya sarana untuk mentransfer dan memperluas pengetahuan manusia. Oleh karena itu, mayoritas ahli tafsir meyakini bahwa pena, buku, dan penulisan memainkan peran besar dalam mengubah sebuah masyarakat.
 Allah Swt telah bersumpah dengan pena karena kemuliaan yang dimilikinya dan kemuliaan dari tujuan diciptakannya. Dalam surat Al-Mujaadalah ayat sebelas, Sang Pencipta sangat menghargai ilmu pengetahuan dan memuliakan orang-orang yang berilmu. Ilmu akan mengeluarkan manusia dari kegelapan dan kebodohan serta mengantarkan mereka menuju kebenaran.
Negara-negara Muslim di seluruh Dunia, memberikan perhatian luar biasa terhadap ilmu pengetahuan. Anak-anak, Para kaum muda, dan semua lapisan masyarakat didorong untuk rajin membaca dan mendalami berbagai disiplin ilmu. Republik Islam Iran termasuk salah satu negara yang menaruh perhatian besar di dunia buku dan budaya membaca.
  Iran menyimpan banyak potensi di bidang sains dan teknologi. Salah satu metode pengembangan budaya yang mereka galakkan adalah mendorong kaum muda untuk rajin membaca dan mendalami berbagai disiplin ilmu. Mereka percaya bahwa setiap pembangunan di tengah masyarakat harus dilandasi oleh unsur-unsur budaya nasional. Kegiatan membaca juga salah satu cara mengenalkan generasi muda dengan budaya mereka. Menggalakkan budaya membaca atau tabiat suka membaca harus menjadi prioritas sebuah bangsa untuk mencapai kemajuan. Di Iran, kegiatan itu digalakkan dengan berbagai aktivitas yang menuntut kreativitas kaum muda dan salah satunya adalah menggelar Pekan Buku Republik Islam Iran.
 Setiap tahun masyarakat Iran menggelar kegiatan "Pekan Buku Republik Islam". Kegiatan itu digelar untuk menyebarkan budaya membaca dan mengapresiasi para tokoh yang berjasa besar di bidang penulisan, penerjemahan, dan penerbitan buku. Pengalaman pertama Pekan Buku digelar di Iran pada tahun 1993. Berbagai acara dan aktivitas di Pekan Buku pada umumnya berkisar pada topik-topik seperti mendukung penerbit buku-buku yang dibutuhkan masyarakat, memberikan kemudahan supaya masyarakat mudah membeli dan membaca buku, menyemarakkan budaya membaca buku, mengembangkan perpustakaan, menggelar pameran buku di perpustakaan umum atau masjid-masjid, dan menggelar perlombaan membaca buku.
Dalam masalah budaya membaca, jepang juga termasuk Negara yang sarat akan  buku. Jepang menjadi salah satu banchmark (pembanding), bagaimana buku mampu mentransformasi suatu bangsa.Tak dapat dimungkiri bila maju dan munculnya Negeri Sakura sebagai satu negara penting di dunia dengan produk teknologi yang menembus kamar-kamar kita, juga bertitik tolak dari buku. Jepang adalah bangsa yang gemar membaca.Menurut budayawan dan sastrawan Sunda (Ajip Rosidi), sejak dini kira-kira umur dua hingga tiga tahun,  masyarakat Jepang telah diperkenalkan dengan buku.                                                                                                                             
Dalam telaah psikologi, usia dua hingga tiga tahun merupakan masa krusial perkembangan otak manusia. Menurut Tony Setiabudhi (2003), 80 persen kapasitas otak dan alam bawah sadar manusia mulai dibentuk pada periode tiga tahun pertama. Oleh karenanya, pada masa ini, semestinya anak mulai harus dibiasakan dekat dengan buku untuk menumbuhkan budaya intelektual dan literasi.
Mengutip perkataan Seorang motivator bernama Andrie Wongso, “Sebuah buku ditulis dengan kerja keras yang luar biasa. Buku adalah buah pemikiran seorang penulis. Hasil dari pengamatan dan riset selama beberapa tahun, bahkan mungkin puluhan tahun yang dikristalisasikan dan dituangkan dalam bentuk tulisan”.Betapa luar biasanya perjuangan orang-orang yang mengabdikan dirinya dalam bidang ilmu pengetahuan, mereka melakukan pengamatan bertahun-tahun untuk mendapatkan suatu penemuan, yang dengan penemuan tersebut akan dimanfaatkan bagi kehidupan umat manusia. Mereka menuliskan hasil pengamatan tersebut dalam bentuk buku, sehingga dapat diwariskan kepada generasi sesudahnya. Inilah kekuatan sebuah buku, ia akan tetap abadidan tidak akan pudar ditelan oleh zaman. Francis Bacon (1561-1626) mengatakan, scientiaestpotentia”, ilmu pengetahuan adalah kekuatan. Buku adalah arsip ilmu pengetahuan yang tak lekang oleh zaman.
Di Indonesia, budaya membaca (culture reading) masih sangat rendah. Hal ini senada dengan data hasil survei  UNESCO kepada Negara-negara ASEAN. Hasil survei menunjukan bahwa Indonesia adalah Negara yang paling rendah minat untuk membaca. Yaitu hanya berjumlah 0,001% saja. Artinya, dari 1000 penduduk hanya satu  orang yang mempunyai minat  baca yang tinggi. Khususnya dikalangan para pemuda. Dengan adanya kemajuan teknologi, dewasa ini telah membius pikiran kaula  muda kita. Mereka lebih suka dan berminat menghabiskan waktu untuk berselancar di internet, facebookan dan twiteran daripada membaca buku-buku yang bermanfaat. Dengan hadirnya teknologi, mereka semakin malas melakukan kajian dan telaah terhadap buku. Inilah sebabnya mengapa Negara Indonesia tidak kunjung maju, dari dulu masih tetap berkembang. Semakin tertinggal dengan Negara-negara yang lain, seperti  Jepang, Thailand, Singapura, Malaysia dan Negara-negara ASEAN  lainya. Mereka sudah mampu menciptakan dan memproduksi berbagai macam olahan teknologi sendiri, sedangkan Indonesia masih menjadi Negara yang sarat akan  konsumenismenya.
Terdapat perbedaan kultur dan pola pikir antara masyarakat kita dengan masyarakat pada Negara maju. seperti Jepang misalnya, mereka menggunakan waktu yang berharga untuk banyak melakukan kegiatan produktif, sedangkan masyarakat kita sebagian besar banyak membuang waktu yang berharga untuk kegiatan yang tidak produktif. Orang-orang di Negara maju memberikan perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan, sehingga mereka banyak melakukan pengamatan, kajian dan telaah terhadap buku tentang sains dan yang lainya, sedangkan  dikalangan masyarakat kita, khususnya para kaula muda sangat minim perhatianya terhadap ilmu pengetahuan. Mereka lebih memilih jalan-jalan di Mall, duduk manis didepan laptop atau komputer untuk membuka situs facebook, twiter, dan lain sebagainya.                                                            
Faktor yang paling membangun bagi peradaban Jepang  adalah budaya mereka dengan membaca. Jika kita saksikan, di Negri Sakura ini ketika orang-orang berada di Densha (kereta listrik) menunggu kereta, di perpustakaan, toko buku dan tempat-tempat lainya, mereka gunakan  untuk membaca. Bahkan orang-orang Jepang dapat memproduksi 1 Milyar buku tiap tahunya. Inilah yang menjadikan Jepang sebagai Negara teknologi Dunia. Karena Saking dekatnya mereka dengan buku, sampai ada seloroh, “kalau orang Jepang tidur sambil membaca, sedangkan orang Indonesia membaca sambil tidur.”.                                                            
Sedangkan di Indonesia, apabila kita menjumpai seseorang yang menggunakan waktu luangnya untuk membaca ditempat umum, seperti stasiun, di angkutan umum, dan tampat-tempat umum lainya, hal seperti ini malah dianggap aneh bahkan ada yang mencibirnya. inilah realita yang terjadi di Indonesia, kesadaran untuk membaca yang masih sangat rendah. Untuk menghargai orang yang  membacapun juga amat sulit dilakukan.
Indonesia harus berubah, baik dalam membangun karakter maupun budaya dalam kehidupan sehari-hari. Indonesia harus menjadikan dan membentuk setiap generasinya sebagai seorang pembelajar, yang cinta akan ilmu pengetahuan, cinta akan budaya membaca (culture reading), mengkaji, dan menelaah buku-buku yang bermanfaat baik bagi dirinya maupun bagi Negaranya. Jangan membuang waktu yang berharga hanya untuk kegiatan yang tidak produktif.  pastikan generasi muda Indonesia menjadi seorang pembelajar, meningkatkan kualitas kehidupan di Negara ini dengan membiasakan diri banyak membaca buku yang bermutu dan bermanfaat.
Buku adalah investasi yang tiada habisnya dan tak ternilai harganya. Buku juga bisa mengubah nasib seseorang yang siap belajar dan mau berubah. Ditengah geliat zaman teknologi sekarang ini, seharusnya kita semakin bersemangat menatap masa depan peradaban Negara kita. Kepada siapa lagi Negara ini akan dititipkan kalau tidak kepada para pemudanya. peradaban Negara ini akan berlangsung apabila para pemudanya tangguh dan berilmu. Oleh karena itu, perhatian dan penguatan akan ilmu pengetahuan sangat penting untuk dilakukan. Tanpa ilmu pengetahuan, peradaban tidak akan pernah terjadi. Pepatah mengatakan, “Knowladge is power” ilmu pengetahuan adalah kekuatan. Dengan kekuatan kita bangun Negri ini menjadi lebih maju dan berperadaban.
Dari beberapa uraian diatas, penulis tiba pada kesimpulan. Bahwa ditengah geliat era teknologi, informasi, dan komunikasi sekarang ini, kita harus siap menghadapinya dengan mental yang baik yaitu Dengan menguatkan kwalitas ilmu pengetahuan dan daya intelektualitas, jika indikator tersebut sudah ada pada tiap-tiap  individu masyarakat Indonesia, maka kita akan mampu menjadikan Negri ini lebih maju. Untuk merealisasikanya, budaya membaca (culture reading) harus terus digalakkan ditengah masyarakat kita. Baik kepada anak-anak, para pemuda dan semua lapisan masyarakat Indonesia. Dengan banyak membaca dan melakukan kajian terhadap buku, mendalami dan mengamalkan apa yang dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia, Inilah syarat agar Indonesia menjadi lebih baik.
Dengan hadirnya berbagai macam alat teknologi, maka harus ada sikap yang tepat untuk menghadapi dan memproteknya. Yaitu dengan kita kembali kepada buku, karena dari bukulah wawasan intelektual akan kita peroleh. Sehingga dengan daya intelektualitas kita tersebut, peradaban suatu bangsa akan terbangun. Sastrawan tersohor Amerika Serikat, Thomas Stearns Eliot (1888) pernah berpetuah “Sulit membangun peradaban tanpa budaya tulis dan baca”. Menafsirkan petuah Eliot, maka tanpa adanya budaya membaca yaitu mengkaji dan menelaah buku, tanpa kita membuat karya dalam bentuk tulisan, sulit suatu peradaban akan terbangun.
Salah satu cara membentengi serangan budaya dan teknologi yang berkembang pesat dewasa ini adalah dengan meningkatkan ilmu pengetahuan dan keahlian di berbagai lapisan masyarakat, melalui kegiatan belajar dan menggalakkan budaya membaca (culture reading). Saat ini, solusi terbaik untuk mendongkrak taraf  intelektual dan pemahaman publik adalah menggalakkan kegiatan belajar, pendidikan, dan budaya membaca. Masyarakat dari segi pengetahuan, pemahaman, dan pertumbuhan pemikiran harus sampai kepada jenjang,  yaitu mereka dengan sendirinya dapat membedakan antara nilai-nilai positif dan negatif.
“Tiada hari tanpa membaca” nampaknya pernyataan ini harus menjadi semboyan kita dalam penerapan kehidupan sehari-hari. dengan semboyan tersebut kita handaknya bisa konsisten menjalankanya.  bayangkan apabila dalam waktu satu minggu kita dapat membaca satu buku, maka dalam satu bulan kita sudah dapat menghabiskan 4-5 buku, Jika dalam setahun maka sebanyak 52 buku telah kita baca. Jika dalam kurun waktu 5 tahun, kita sudah berhasil membaca sebanyak 260 buku. Angka yang fantastis. Jika hal ini dapat terealisasikan dan menjadi kebiasaan masyarakat kita, maka Indonesia hanya butuh waktu 5 tahun saja untuk berubah menjadi Negara maju dan mampu bersaing dengan Negara maju lainya.

Jangan membuang waktu yang berharga  untuk kegiatan yang tidak produktif. Mari, pastikan menjadi seorang pembelajar. Tingkatkan kualitas kehidupan dan kita bangun peradaban bangsa ini dengan membiasakan diri untuk membaca, mengkaji, dan mengamalkan buku. Bukan nanti, bukan besok, tapi dimulai hari ini.

REFLEKSI TENTANG MAKNA PEMUDA, ILMU & TAQWA

REFLEKSI TENTANG MAKNA
PEMUDA, ILMU & TAQWA
Oleh: Beta Pujangga Mukti

            Imam Syafi’i pernah berkata “Hayaatu al-fata bil ‘ilmi wa at-tuqa” (hidupnya seorang pemuda adalah dengan ilmu dan taqwa). Ada tiga kata kunci penting dalam ungkapan tersebut, pertama pemuda, kedua ilmu, dan ketiga adalah taqwa. Dalam tulisan ini saya akan menjelaskan mengenai tiga kata kunci tersebut.
            Jika berbicara mengenai pemuda, maka yang menjadi bahasan penting adalah kata idealisme. Idealisme merupakan suatu harapan, keinginan, cita-cita atau suatu hal yang merepresentasi hasrat yang ada dalam diri seseorang untuk mencapai apa yang dia inginkan. Setiap pemuda pasti mempunyai keinginan untuk menciptakan kehidupan yang baik bagi masa depanya. Dengan idealisme yang dimilikinya, seorang pemuda bisa merealisasikan apa saja yang sudah dia planingkan atau rencanakan.
            Tan Malaka adalah seorang tokoh muda yang hebat pada masanya, di usianya yang masih tergolong muda, ia sudah menjadi pimpinan organisasi besar pada waktu itu. Ia pernah mengatakan “Kemewahan seorang pemuda adalah pada idealismenya”, kemewahan pemuda terletak bukan pada pakaianya yang serba mahal atau penampilanya yang serba borjuis, melainkan kemewahan pemuda terletak pada idealismenya. Maka sangat penting seorang pemuda memiliki rasa idealisme tinggi. Terkadang memang antara idealisme dan realita selalu bertentangan, namun jika kita mampu membenturkan antara keduanya, itu yang lebih utama.
Soekarno presiden pertama kita pernah berkata “Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan aku guncangkan dunia”, hal ini memberi isyarat bahwa di tangan para pemudalah harapan bangsa dititipkan, di pundak pemudalah negara ini digantungkan. Dalam rekam sejarah kemerdekaan Indonesia, peran pemuda memiliki andil yang sangat penting. Hal ini terbukti ketika tumbangnya rezim orde baru, para barisan anak muda yang tergabung dalam aliansi persatuan mahasiswa, bergabung menjadi kekuatan tangguh menyuarakan agar rezim orde baru ditumbangkan. Dan dengan kegigihan dan semangat yang tinggi, akhirnya rezim orde baru yang telah berkuasa selama tiga puluh dua tahun lamanya itu dapat ditumbangkan.
Masih mengenai pemuda, ada sekelompok pemuda yang tergabung dalam sebuah organisasi di Inggris. Para anggota organisasi ini masih berumur enam belas sampai delapan belas tahun, usia yang masih sangat belia namun sudah membentuk suatu organisasi kepemudaan. Mereka memiliki idealisme tinggi, hal ini terbukti ketika organisasi ini menyuarakan ke pemerintah Inggris untuk menyetujui surat permohonan mereka. Dalam surat itu mereka memohon agar pemerintah menggeratiskan ongkos bus anak sekolah. Setelah itu mereka dipanggil ke istana negara untuk mempresentasikan argumenya mengenai permohonan tersebut, setelah mendengar paparan presentasi anak-anak muda tersebut, akhirnya pemerintah Inggris menetapka aturan atau undang-undang baru mengenai bus tanpa tarif bagi anak-anak sekolah. Luar biasa.
Dalam Islam, rekam jejak sejarah juga telah memotret berbagai kehidupan para pemuda yang juga mempunyai jiwa pejuang yang luhur, harapan agama dan negara. Sebut nama misal Abdullah Bin Abbas, Abdullah Bin Umar, Abdullah Bin Amr Bin Al-Ash,  Muadz Bin Jabal, Zayd Bin Tsabit, Khalid bin walid (panglima perang), Salahuddin Al-Ayyubi, Muhammad Al-Fatih, dan masih banyak lagi potret kegemilangan yang ditorehkan oleh para pemuda Islam pada waktu itu.
Kalau para pemuda yang telah saya sebutkan di atas sudah mampu menembus cakrawala tahta kisra, sekarang pertanyaanya, dimana suara lantang anak-anak muda sekarang?,. pemuda tidak hanya siap untuk sprint, namun juga harus siap untuk lari maraton.
Kata kunci kedua dari ungkapan Imam Syafi’i di atas adalah tentang ilmu. Jika berbicara mengenai ilmu, sebagian dari kita akan menganggap bahwa pelopor tradisi keilmuan adalah dari Yunani kuno. Sebut nama tokohnya misalkan Rene Deskartes, Sokrates, Aristoteles, Pluto, dll, mereka semua adalah manusia pecinta ilmu dan suka memikirkan berbagai macam hal. Anggapan demikian memang ada benarnya, namun mereka bukanlah yang terhebat. Dan mereka pun juga tidak menjadi pelopor tersebarnya tradisi keilmuan.
Manusia pertama yang meletakkan dasar tersebarnya tradisi keilmuan adalah Nabi Muhammad saw. Hal ini ditandai dengan turunya wahyu pertama yaitu iqra’ (bacalah), kemudian diperjelas dengan ayat tentang keutamaan ilmu, setelah itu diperjelas lagi dengan ayat tentang larangan karena tidak menggunakan alat fikirnya, selanjutnya Allah juga memerintahkan untuk bertanya kepada ahlinya jika kita tidak mengetahui di dalam bidang tersebut. Sangat terlihat jelas bahwa pelopor tradisi keilmuan adalah dari Islam. Spirit ajaran-ajaran Islam telah membentuk peradaban Islam yang sangat begitu gemilang.
Seorang orientalis barat Mr. Rosenthal mengatakan, “Faktanya, tidak ada ajaran-ajaran yang begitu komprehensif dan integral yang bisa diimplementasikan ke seluruh lini kehidupan manusia kecuali hanya ajaran Islam.
Rasul memerintahkan kepada seluruh kaum muslimin, tidak pandang bulu baik laki-laki maupun perempuan agar menuntut ilmu. Bahkan dalam haditsnya disabdakan agar setiap muslim menuntut ilmu dari buaian hingga wafat. Demikian juga dengan perintah Rasul agar mencari ilmu hingga ke negri Cina, dan Rasul juga memerintahkan kepada Zayd bin Tsabit untuk menguasai bahasa Yahudi. Hal ini mengisyaratkan bahwa Islam tidak men-dikotomikan (memisahkan) antara ilmu agama dan ilmu umum atau yang selain agama. Jika kita tidak menguasai ilmu umum (ilmu barat) yang lain, maka kitalah yang akan dikuasai oleh barat.
Transformasi spirit ajaran Islam telah mampu mencetak para ulama besar dan juga para cendekiawan atau ilmuan muslim di berbagai bidang disiplin ilmu. Sebut saja misal Ibnu Nafis seorang ilmuan muslim yang menemukan sirkulasi darah, 300 tahun sebelum Servet dari eropa, lalu Abdul Qosim penemu penyakit TBC, 7 abad sebelum Pecivaal Pot. Dan masih banyak lagi para ilmuan Islam yang amat berjasa dalam penemuan-penemuan mereka di bidang sains dan teknologi jauh sebelum para penemu dari barat. Selain menjadi para ulama, ilmuan muslim, mereka juga terkenal sebagai filosof,  mereka juga mencintai dunia filsafat, berfikir tentang berbagai hal sehingga banyak penemuan-penemuan yang mereka hasilkan.  
Banyak orang berpandangan belajar filsafat hanya akan membuat pola fikir kita menjadi sesat, jauh dari agama atau bahkan ilmu filsafat dapat menjadikan orang tidak percaya lagi terhadap agama yang dipeluknya. Hal ini suatu kesalahan besar, karena mereka belajar filsafat, berfikir tentang berbagai hal yang sifatnya metafisik atau bahkan ranahnya tentang teologi, mana mungkin otak atau akal dapat menjangkau ranah tersebut. Ada dua ranah yang menjadi obyek bahasan ilmu filsafat, yaitu ranah teologi dan ranah alam. Para filosof muslim mempelajari ilmu filsafat pada ranah alam atau nature. Sehingga dari proses read, memory, understand, analyze, teach, dan terakhir adalah create (menciptakan) para filosof muslim dapat menggali hakikat sebenarnya tentang ilmu filsafat. Mereka tidak mendikotomikan antara wahyu dan akal, namun mereka mampu mengintegrasikan keduanya.
Banyak orang-orang muslim saat ini terjebak pada sebuah mindsite yang dinamakan context of justification (cinta pada kebenaran masa lalu), lebih meyakini ilmu-ilmu yang telah ditemukan atau yang telah diciptakan oleh para pendahulu. Maka konsekwensinya adalah terjadi taklid dan kejumudan dalam berfikir. Mereka kurang menghargai imajinasi, apa yang sudah ditemukan oleh para pendahulu mereka, maka itulah yang menjadi pegangan dan keyakinan sampai kapanpun. Beda halnya jika orang muslim ber-maindsite ­context of discovery (cinta pada imajinasi), mereka menghargai imajinasi, berfikir dinamis dan memiliki rasa ingin tau yang tinggi, sehingga banyak karya yang tercipta. Inilah yang diharapkan agar umat muslim berfikir dinamis, agar peradaban Islam kembali menjulang.
Refleksi yang terakhir adalah tentang makna taqwa. Sering kita mendengar ketika kutbah jumat, para khotib berwasiat dan mengajak kepada ketakwaan. Takwa yang banyak difahami oleh sebagian besar kita adalah menjalankan semua perintah Allah, dan berusaha untuk menjauhi segala larangan-Nya. Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana sekarang aplikasinya dalam kehidupan?, saya ingin memberi sebuah contoh, kisah seorang pemuda yang sangat teguh keimanan dan ketaqwaanya kepada Allah SWT, dia adalah Nabi Yusuf AS. Di saat usianya yang masih muda, tentu jiwa syahwatnya masih labil.

Diceritakan bahwa waktu itu Yusuf digoda oleh Zulaikha, wanita tercantik dan amat jelita tiada bandinganya, Zulaikha mengajak Yusuf berzina. Bagaimana mungkin seorang pemuda yang digoda wanita cantik bisa menahan dan menolak rayuan tersebut, termasuk juga yusuf. Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Yusuf juga tergoda dan mau diajak untuk berzina dengan zulaikha. Namun, akhirnya Yusuf tersadar bahwa Tuhanya tidak tidur, apa yang ia perbuat akan selalu dapat dilihat dan diawasi oleh sang Pencipta. Maka seketika itu Yusuf menolak ajakan dan rayuan Zulaikha, dengan mengatakan “Inni akhaafullaha rabba al-‘alamiin” sesungguhnya aku amat takut pada Rabb semesta alam. Sungguh dahsyat keteguhan iman dan taqwa Yusuf, sehingga beliau patut menjadi teladan bagi para pemuda di zaman sekarang.