“BACK
TO BOOK”
Sebagai
Jawaban di Tengah Gempuran Era Teknologi, Informasi, dan Komunikasi
Oleh: Beta Pujangga Mukti
Dunia saat ini sedang mengalami gempuran dalam bidang teknologi. Sebuah masa yang disebut dengan era
informasi dan komunikasi,
interaksi budaya berbagai suku bangsa terjadi melalui produksi pemikiran, seni,
dan media. Di era seperti ini, beberapa pemerintah dan bangsa berada dibawah serangan budaya serta produk seni dan media negara-negara lain. Pada akhirnya, mereka akan kehilangan
rasa percaya diri dan identitas sebagai sebuah bangsa yang merdeka.
Perang terselubung antara berbagai aliran pemikiran sedang berlangsung
di dunia modern ini. Menurut lembaga Asia Pacific Economic Coorperation
(APEC), di tahun 2020, khususnya di wilayah asia pasifik akan terjadi perdagangan
bebas. Akan adanya persaingan sumber daya manusia yang berkwalitas baik dari
segi intelektual maupun ketajaman membaca informasi dan komunikasi dari
berbagai Negara. Sebuah pemikiran dan budaya akan dapat bertahan dan terproteksi dari serangan luar jika memiliki landasan yang kuat.
Salah satu cara untuk melakukan protek terhadap serangan
dari luar adalah meningkatkan kwalitas
ilmu pengetahuan dan ketajaman membaca informasi dan komunikasi. Diantaranya adalah dengan menumbuhkan budaya baca. Dengan hadirnya televisi,
internet, handpone, dan berbagai macam hasil dari teknologi lainya, dewasa ini telah
menjadi magnet yang mengalahkan daya tarik masyarakat terhadap buku. Anak-anak
hingga orang dewasa sekalipun, jamak kita saksikan menghabiskan waktu di depan televisi atau berselancar di internet, berjejaring sosial hingga hampir tak punya waktu untuk membaca.
Budaya membaca hampir memudar dan Buku tidak lagi“Sebaik-baik teman duduk”. Ini merupakan paradoks di tengah geliat dunia perbukuan. Maka Sebagai jawaban dan solusi ditengah geliat
Zaman teknologi, informasi, dan komunikasi sekarang ini, perlu untuk melakukan
protek dengan “Back to Book” yaitu kembali kepada buku, dengan menghimpun,
meneliti, mendalami, serta menelaah isi dari buku tersebut.
Para pakar
percaya bahwa di era modern sebuah bangsa bisa tetap eksis dan dinamis jika
memiliki kemampuan untuk melahirkan pemikiran-pemikiran baru dan kreatif.
Kegiatan membaca akan membuat seseorang terlibat aktif dalam menentukan nasib
dirinya dan masyarakat. Buku akan menumbuhkan rasa cinta antar sesama dan
meningkatkan kekuatan inisiatif dan kreaktif. Buku juga memainkan peran tak
tergantikan dalam mentransfer budaya dan peradaban kepada generasi masa depan.
Jika nilai positif dari buku-buku dibiarkan memudar di tengah masyarakat, tanpa
ragu warisan pemikiran dan budaya mereka tidak akan terwariskan secara benar
kepada generasi mendatang. Kegiatan membaca akan mempengaruhi mental dan
perilaku seseorang dan bahkan memiliki pengaruh besar bagi masyarakat.
Di dunia
modern sekarang ini, kehidupan manusia semakin tergatung pada kemajuan sains
dan teknologi. Oleh karena itu, urgensitas kegiatan membaca dan peningkatan
pemahaman di tengah masyarakat semakin diperlukan.
Wahyu
pertama yang diturunkan oleh Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw dalam surat
Al-‘Alaq ayat pertama, dimulai dengan perintah (Iqra') yaitu bacalah. Perintah
itu ingin menegaskan urgenya kegiatan untuk menghimpun, membaca, meneliti,
mendalami, dan mengetahui. Ungkapan mengajarkan dengan pena juga menunjukkan
pentingnya sarana untuk mentransfer dan memperluas pengetahuan manusia. Oleh
karena itu, mayoritas ahli tafsir meyakini bahwa pena, buku, dan penulisan
memainkan peran besar dalam mengubah sebuah masyarakat.
Allah
Swt telah bersumpah dengan pena karena kemuliaan yang dimilikinya dan kemuliaan
dari tujuan diciptakannya. Dalam surat Al-Mujaadalah ayat sebelas, Sang
Pencipta sangat menghargai ilmu pengetahuan dan memuliakan orang-orang yang
berilmu. Ilmu akan mengeluarkan manusia dari kegelapan dan kebodohan serta
mengantarkan mereka menuju kebenaran.
Negara-negara
Muslim di seluruh Dunia, memberikan perhatian luar biasa terhadap ilmu
pengetahuan. Anak-anak, Para kaum muda, dan semua lapisan masyarakat didorong
untuk rajin membaca dan mendalami berbagai disiplin ilmu. Republik Islam Iran
termasuk salah satu negara yang menaruh perhatian besar di dunia buku dan
budaya membaca.
Iran menyimpan
banyak potensi di bidang sains dan teknologi. Salah satu metode pengembangan
budaya yang mereka galakkan adalah mendorong kaum muda untuk rajin membaca dan
mendalami berbagai disiplin ilmu. Mereka percaya bahwa setiap pembangunan di
tengah masyarakat harus dilandasi oleh unsur-unsur budaya nasional. Kegiatan
membaca juga salah satu cara mengenalkan generasi muda dengan budaya mereka.
Menggalakkan budaya membaca atau tabiat suka membaca harus menjadi prioritas
sebuah bangsa untuk mencapai kemajuan. Di Iran, kegiatan itu digalakkan dengan
berbagai aktivitas yang menuntut kreativitas kaum muda dan salah satunya adalah
menggelar Pekan Buku Republik Islam Iran.
Setiap
tahun masyarakat Iran menggelar kegiatan "Pekan Buku Republik Islam".
Kegiatan itu digelar untuk menyebarkan budaya membaca dan mengapresiasi para
tokoh yang berjasa besar di bidang penulisan, penerjemahan, dan penerbitan
buku. Pengalaman pertama Pekan Buku digelar di Iran pada tahun 1993. Berbagai
acara dan aktivitas di Pekan Buku pada umumnya berkisar pada topik-topik
seperti mendukung penerbit buku-buku yang dibutuhkan masyarakat, memberikan
kemudahan supaya masyarakat mudah membeli dan membaca buku, menyemarakkan
budaya membaca buku, mengembangkan perpustakaan, menggelar pameran buku di
perpustakaan umum atau masjid-masjid, dan menggelar perlombaan membaca buku.
Dalam
masalah budaya membaca, jepang juga termasuk Negara yang sarat akan buku. Jepang menjadi salah satu banchmark (pembanding),
bagaimana buku mampu mentransformasi suatu bangsa.Tak dapat dimungkiri bila
maju dan munculnya Negeri Sakura sebagai satu negara penting di dunia dengan
produk teknologi yang menembus kamar-kamar kita, juga bertitik tolak dari buku.
Jepang adalah bangsa yang gemar membaca.Menurut budayawan dan sastrawan Sunda (Ajip Rosidi), sejak dini kira-kira umur dua hingga
tiga tahun, masyarakat Jepang telah diperkenalkan dengan buku.
Dalam telaah psikologi, usia dua hingga tiga
tahun merupakan masa krusial perkembangan otak manusia.
Menurut Tony Setiabudhi (2003), 80 persen kapasitas otak dan alam bawah sadar
manusia mulai dibentuk pada periode tiga tahun pertama. Oleh karenanya, pada
masa ini, semestinya anak mulai harus dibiasakan dekat dengan buku untuk menumbuhkan budaya intelektual dan literasi.
Mengutip
perkataan Seorang motivator bernama Andrie Wongso, “Sebuah buku ditulis dengan
kerja keras yang luar biasa. Buku adalah buah pemikiran seorang penulis. Hasil
dari pengamatan dan riset selama beberapa tahun, bahkan mungkin puluhan tahun
yang dikristalisasikan dan dituangkan dalam bentuk tulisan”.Betapa
luar biasanya perjuangan
orang-orang yang mengabdikan dirinya dalam
bidang ilmu pengetahuan, mereka
melakukan pengamatan bertahun-tahun untuk
mendapatkan suatu penemuan, yang dengan
penemuan tersebut akan dimanfaatkan bagi
kehidupan umat manusia. Mereka menuliskan hasil pengamatan
tersebut dalam bentuk buku, sehingga dapat diwariskan kepada generasi
sesudahnya. Inilah kekuatan sebuah buku, ia
akan tetap abadidan tidak akan pudar ditelan
oleh zaman. Francis Bacon
(1561-1626) mengatakan, “scientiaestpotentia”, ilmu pengetahuan adalah kekuatan. Buku adalah arsip ilmu pengetahuan yang tak lekang oleh zaman.
Di Indonesia, budaya membaca (culture reading) masih sangat rendah.
Hal ini senada dengan data hasil survei
UNESCO kepada Negara-negara ASEAN. Hasil survei menunjukan bahwa
Indonesia adalah Negara yang paling rendah minat untuk membaca. Yaitu hanya
berjumlah 0,001% saja. Artinya, dari 1000 penduduk hanya satu orang yang mempunyai minat baca yang tinggi. Khususnya dikalangan para
pemuda. Dengan adanya kemajuan teknologi, dewasa ini telah membius pikiran
kaula muda kita. Mereka lebih suka dan
berminat menghabiskan waktu untuk berselancar di internet, facebookan dan
twiteran daripada membaca buku-buku yang bermanfaat. Dengan hadirnya teknologi,
mereka semakin malas melakukan kajian dan telaah terhadap buku. Inilah sebabnya
mengapa Negara Indonesia tidak kunjung maju, dari dulu masih tetap berkembang.
Semakin tertinggal dengan Negara-negara yang lain, seperti Jepang, Thailand, Singapura, Malaysia dan
Negara-negara ASEAN lainya. Mereka sudah mampu menciptakan dan
memproduksi berbagai macam olahan teknologi sendiri, sedangkan Indonesia masih
menjadi Negara yang sarat akan konsumenismenya.
Terdapat
perbedaan kultur dan pola pikir antara masyarakat kita dengan masyarakat pada
Negara maju. seperti Jepang misalnya, mereka menggunakan waktu yang berharga
untuk banyak melakukan kegiatan produktif, sedangkan masyarakat kita sebagian
besar banyak membuang waktu yang berharga untuk kegiatan yang tidak produktif.
Orang-orang di Negara maju memberikan perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan,
sehingga mereka banyak melakukan pengamatan, kajian dan telaah terhadap buku
tentang sains dan yang lainya, sedangkan dikalangan masyarakat kita, khususnya para
kaula muda sangat minim perhatianya terhadap ilmu pengetahuan. Mereka lebih
memilih jalan-jalan di Mall, duduk manis didepan laptop atau komputer untuk
membuka situs facebook, twiter, dan lain sebagainya.
Faktor yang
paling membangun bagi peradaban Jepang
adalah budaya mereka dengan membaca. Jika kita saksikan, di Negri Sakura
ini ketika orang-orang berada di Densha (kereta listrik) menunggu kereta, di
perpustakaan, toko buku dan tempat-tempat lainya, mereka gunakan untuk membaca. Bahkan orang-orang Jepang
dapat memproduksi 1 Milyar buku tiap tahunya. Inilah yang menjadikan Jepang
sebagai Negara teknologi Dunia. Karena
Saking dekatnya mereka dengan
buku, sampai ada seloroh, “kalau orang Jepang tidur sambil membaca, sedangkan orang Indonesia membaca sambil tidur.”.
Sedangkan
di Indonesia, apabila kita menjumpai seseorang yang menggunakan waktu luangnya
untuk membaca ditempat umum, seperti stasiun, di angkutan umum, dan
tampat-tempat umum lainya, hal seperti ini malah dianggap aneh bahkan ada yang
mencibirnya. inilah realita yang terjadi di
Indonesia, kesadaran untuk membaca yang masih sangat rendah. Untuk menghargai
orang yang membacapun juga amat sulit
dilakukan.
Indonesia harus berubah, baik dalam membangun karakter
maupun budaya dalam kehidupan sehari-hari. Indonesia harus menjadikan dan membentuk
setiap generasinya sebagai seorang pembelajar, yang cinta akan ilmu
pengetahuan, cinta akan budaya membaca (culture reading), mengkaji, dan
menelaah buku-buku yang bermanfaat baik bagi dirinya maupun bagi Negaranya. Jangan
membuang waktu yang berharga hanya untuk kegiatan yang tidak produktif. pastikan generasi muda Indonesia menjadi
seorang pembelajar, meningkatkan kualitas kehidupan di Negara ini dengan
membiasakan diri banyak membaca buku yang bermutu dan bermanfaat.
Buku adalah
investasi yang tiada habisnya dan tak ternilai harganya. Buku juga bisa
mengubah nasib seseorang yang siap belajar dan mau berubah. Ditengah geliat zaman teknologi
sekarang ini, seharusnya kita semakin bersemangat menatap masa depan peradaban
Negara kita. Kepada siapa lagi Negara ini akan dititipkan kalau tidak kepada
para pemudanya. peradaban Negara ini akan berlangsung apabila para pemudanya
tangguh dan berilmu. Oleh karena itu, perhatian dan penguatan akan ilmu
pengetahuan sangat penting untuk dilakukan. Tanpa ilmu pengetahuan, peradaban
tidak akan pernah terjadi. Pepatah mengatakan, “Knowladge is power” ilmu
pengetahuan adalah kekuatan. Dengan kekuatan kita bangun Negri ini menjadi
lebih maju dan berperadaban.
Dari beberapa
uraian diatas, penulis tiba pada kesimpulan. Bahwa ditengah geliat era
teknologi, informasi, dan komunikasi sekarang ini, kita harus siap menghadapinya
dengan mental yang baik yaitu Dengan menguatkan kwalitas ilmu pengetahuan dan
daya intelektualitas, jika indikator tersebut sudah ada pada tiap-tiap individu masyarakat Indonesia, maka kita akan
mampu menjadikan Negri ini lebih maju. Untuk merealisasikanya, budaya membaca (culture
reading) harus terus digalakkan ditengah masyarakat kita. Baik kepada
anak-anak, para pemuda dan semua lapisan masyarakat Indonesia. Dengan banyak
membaca dan melakukan kajian terhadap buku, mendalami dan mengamalkan apa yang
dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia, Inilah
syarat agar Indonesia menjadi lebih baik.
Dengan
hadirnya berbagai macam alat teknologi, maka harus ada sikap yang tepat untuk
menghadapi dan memproteknya. Yaitu dengan kita kembali kepada buku, karena dari
bukulah wawasan intelektual akan kita peroleh. Sehingga dengan daya
intelektualitas kita tersebut, peradaban suatu bangsa akan terbangun. Sastrawan
tersohor Amerika Serikat, Thomas Stearns Eliot
(1888) pernah berpetuah “Sulit membangun peradaban tanpa budaya tulis dan
baca”. Menafsirkan petuah Eliot, maka tanpa adanya budaya membaca yaitu
mengkaji dan menelaah buku, tanpa kita membuat karya dalam bentuk tulisan,
sulit suatu peradaban akan terbangun.
Salah satu
cara membentengi serangan budaya dan teknologi yang berkembang pesat dewasa ini
adalah dengan meningkatkan ilmu pengetahuan dan keahlian di berbagai lapisan
masyarakat, melalui kegiatan belajar dan menggalakkan budaya membaca (culture
reading). Saat ini, solusi terbaik untuk mendongkrak taraf
intelektual dan pemahaman publik adalah menggalakkan kegiatan belajar,
pendidikan, dan budaya membaca. Masyarakat dari segi pengetahuan, pemahaman,
dan pertumbuhan pemikiran harus sampai kepada jenjang, yaitu mereka dengan sendirinya dapat
membedakan antara nilai-nilai positif dan negatif.
“Tiada
hari tanpa membaca” nampaknya pernyataan ini harus menjadi semboyan kita
dalam penerapan kehidupan sehari-hari. dengan semboyan tersebut kita handaknya bisa
konsisten menjalankanya. bayangkan
apabila dalam waktu satu minggu kita dapat membaca satu buku, maka dalam satu
bulan kita sudah dapat menghabiskan 4-5 buku, Jika dalam setahun maka sebanyak
52 buku telah kita baca. Jika dalam kurun waktu 5 tahun, kita sudah berhasil
membaca sebanyak 260 buku. Angka yang fantastis. Jika hal ini dapat
terealisasikan dan menjadi kebiasaan masyarakat kita, maka Indonesia hanya
butuh waktu 5 tahun saja untuk berubah menjadi Negara maju dan mampu bersaing
dengan Negara maju lainya.
Jangan membuang
waktu yang berharga untuk kegiatan yang
tidak produktif. Mari, pastikan menjadi seorang pembelajar. Tingkatkan kualitas
kehidupan dan kita bangun peradaban bangsa ini dengan membiasakan diri untuk
membaca, mengkaji, dan mengamalkan buku. Bukan nanti, bukan besok, tapi dimulai
hari ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar