Jumat, 13 Februari 2015


“BACK TO BOOK”
Sebagai Jawaban di Tengah Gempuran Era Teknologi, Informasi, dan Komunikasi
Oleh: Beta Pujangga Mukti
            Dunia saat ini sedang mengalami gempuran dalam bidang teknologi. Sebuah masa yang disebut dengan era informasi dan komunikasi, interaksi budaya berbagai suku bangsa terjadi melalui produksi pemikiran, seni, dan media. Di era seperti ini, beberapa pemerintah dan bangsa berada dibawah serangan budaya serta produk seni dan media negara-negara lain. Pada akhirnya, mereka akan kehilangan rasa percaya diri dan identitas sebagai sebuah bangsa yang merdeka.
Perang terselubung antara berbagai aliran pemikiran sedang berlangsung di dunia modern ini. Menurut lembaga Asia Pacific Economic Coorperation (APEC), di tahun 2020, khususnya di wilayah asia pasifik akan terjadi perdagangan bebas. Akan adanya persaingan sumber daya manusia yang berkwalitas baik dari segi intelektual maupun ketajaman membaca informasi dan komunikasi dari berbagai Negara. Sebuah pemikiran dan budaya akan dapat bertahan dan terproteksi dari serangan luar jika memiliki landasan yang kuat.                                                                        
Salah satu cara untuk melakukan protek terhadap serangan dari luar adalah  meningkatkan kwalitas ilmu pengetahuan dan ketajaman membaca informasi dan komunikasi. Diantaranya adalah dengan menumbuhkan budaya baca. Dengan hadirnya televisi, internet, handpone, dan berbagai macam hasil dari teknologi lainya, dewasa ini telah menjadi magnet yang mengalahkan daya tarik masyarakat terhadap buku. Anak-anak hingga orang dewasa sekalipun, jamak kita saksikan menghabiskan waktu di depan televisi atau berselancar di internet, berjejaring sosial hingga hampir tak punya waktu untuk membaca.
Budaya membaca hampir memudar dan Buku tidak lagiSebaik-baik teman duduk”. Ini merupakan paradoks di tengah geliat dunia perbukuan. Maka Sebagai jawaban dan solusi ditengah geliat Zaman teknologi, informasi, dan komunikasi sekarang ini, perlu untuk melakukan protek dengan “Back to Book” yaitu kembali kepada buku, dengan menghimpun, meneliti, mendalami, serta menelaah isi dari buku tersebut.
Para pakar percaya bahwa di era modern sebuah bangsa bisa tetap eksis dan dinamis jika memiliki kemampuan untuk melahirkan pemikiran-pemikiran baru dan kreatif. Kegiatan membaca akan membuat seseorang terlibat aktif dalam menentukan nasib dirinya dan masyarakat. Buku akan menumbuhkan rasa cinta antar sesama dan meningkatkan kekuatan inisiatif dan kreaktif. Buku juga memainkan peran tak tergantikan dalam mentransfer budaya dan peradaban kepada generasi masa depan. Jika nilai positif dari buku-buku dibiarkan memudar di tengah masyarakat, tanpa ragu warisan pemikiran dan budaya mereka tidak akan terwariskan secara benar kepada generasi mendatang. Kegiatan membaca akan mempengaruhi mental dan perilaku seseorang dan bahkan memiliki pengaruh besar bagi masyarakat.
Di dunia modern sekarang ini, kehidupan manusia semakin tergatung pada kemajuan sains dan teknologi. Oleh karena itu, urgensitas kegiatan membaca dan peningkatan pemahaman di tengah masyarakat semakin diperlukan.
Wahyu pertama yang diturunkan oleh Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw dalam surat Al-‘Alaq ayat pertama, dimulai dengan perintah (Iqra') yaitu bacalah. Perintah itu ingin menegaskan urgenya kegiatan untuk menghimpun, membaca, meneliti, mendalami, dan mengetahui. Ungkapan mengajarkan dengan pena juga menunjukkan pentingnya sarana untuk mentransfer dan memperluas pengetahuan manusia. Oleh karena itu, mayoritas ahli tafsir meyakini bahwa pena, buku, dan penulisan memainkan peran besar dalam mengubah sebuah masyarakat.
 Allah Swt telah bersumpah dengan pena karena kemuliaan yang dimilikinya dan kemuliaan dari tujuan diciptakannya. Dalam surat Al-Mujaadalah ayat sebelas, Sang Pencipta sangat menghargai ilmu pengetahuan dan memuliakan orang-orang yang berilmu. Ilmu akan mengeluarkan manusia dari kegelapan dan kebodohan serta mengantarkan mereka menuju kebenaran.
Negara-negara Muslim di seluruh Dunia, memberikan perhatian luar biasa terhadap ilmu pengetahuan. Anak-anak, Para kaum muda, dan semua lapisan masyarakat didorong untuk rajin membaca dan mendalami berbagai disiplin ilmu. Republik Islam Iran termasuk salah satu negara yang menaruh perhatian besar di dunia buku dan budaya membaca.
  Iran menyimpan banyak potensi di bidang sains dan teknologi. Salah satu metode pengembangan budaya yang mereka galakkan adalah mendorong kaum muda untuk rajin membaca dan mendalami berbagai disiplin ilmu. Mereka percaya bahwa setiap pembangunan di tengah masyarakat harus dilandasi oleh unsur-unsur budaya nasional. Kegiatan membaca juga salah satu cara mengenalkan generasi muda dengan budaya mereka. Menggalakkan budaya membaca atau tabiat suka membaca harus menjadi prioritas sebuah bangsa untuk mencapai kemajuan. Di Iran, kegiatan itu digalakkan dengan berbagai aktivitas yang menuntut kreativitas kaum muda dan salah satunya adalah menggelar Pekan Buku Republik Islam Iran.
 Setiap tahun masyarakat Iran menggelar kegiatan "Pekan Buku Republik Islam". Kegiatan itu digelar untuk menyebarkan budaya membaca dan mengapresiasi para tokoh yang berjasa besar di bidang penulisan, penerjemahan, dan penerbitan buku. Pengalaman pertama Pekan Buku digelar di Iran pada tahun 1993. Berbagai acara dan aktivitas di Pekan Buku pada umumnya berkisar pada topik-topik seperti mendukung penerbit buku-buku yang dibutuhkan masyarakat, memberikan kemudahan supaya masyarakat mudah membeli dan membaca buku, menyemarakkan budaya membaca buku, mengembangkan perpustakaan, menggelar pameran buku di perpustakaan umum atau masjid-masjid, dan menggelar perlombaan membaca buku.
Dalam masalah budaya membaca, jepang juga termasuk Negara yang sarat akan  buku. Jepang menjadi salah satu banchmark (pembanding), bagaimana buku mampu mentransformasi suatu bangsa.Tak dapat dimungkiri bila maju dan munculnya Negeri Sakura sebagai satu negara penting di dunia dengan produk teknologi yang menembus kamar-kamar kita, juga bertitik tolak dari buku. Jepang adalah bangsa yang gemar membaca.Menurut budayawan dan sastrawan Sunda (Ajip Rosidi), sejak dini kira-kira umur dua hingga tiga tahun,  masyarakat Jepang telah diperkenalkan dengan buku.                                                                                                                             
Dalam telaah psikologi, usia dua hingga tiga tahun merupakan masa krusial perkembangan otak manusia. Menurut Tony Setiabudhi (2003), 80 persen kapasitas otak dan alam bawah sadar manusia mulai dibentuk pada periode tiga tahun pertama. Oleh karenanya, pada masa ini, semestinya anak mulai harus dibiasakan dekat dengan buku untuk menumbuhkan budaya intelektual dan literasi.
Mengutip perkataan Seorang motivator bernama Andrie Wongso, “Sebuah buku ditulis dengan kerja keras yang luar biasa. Buku adalah buah pemikiran seorang penulis. Hasil dari pengamatan dan riset selama beberapa tahun, bahkan mungkin puluhan tahun yang dikristalisasikan dan dituangkan dalam bentuk tulisan”.Betapa luar biasanya perjuangan orang-orang yang mengabdikan dirinya dalam bidang ilmu pengetahuan, mereka melakukan pengamatan bertahun-tahun untuk mendapatkan suatu penemuan, yang dengan penemuan tersebut akan dimanfaatkan bagi kehidupan umat manusia. Mereka menuliskan hasil pengamatan tersebut dalam bentuk buku, sehingga dapat diwariskan kepada generasi sesudahnya. Inilah kekuatan sebuah buku, ia akan tetap abadidan tidak akan pudar ditelan oleh zaman. Francis Bacon (1561-1626) mengatakan, scientiaestpotentia”, ilmu pengetahuan adalah kekuatan. Buku adalah arsip ilmu pengetahuan yang tak lekang oleh zaman.
Di Indonesia, budaya membaca (culture reading) masih sangat rendah. Hal ini senada dengan data hasil survei  UNESCO kepada Negara-negara ASEAN. Hasil survei menunjukan bahwa Indonesia adalah Negara yang paling rendah minat untuk membaca. Yaitu hanya berjumlah 0,001% saja. Artinya, dari 1000 penduduk hanya satu  orang yang mempunyai minat  baca yang tinggi. Khususnya dikalangan para pemuda. Dengan adanya kemajuan teknologi, dewasa ini telah membius pikiran kaula  muda kita. Mereka lebih suka dan berminat menghabiskan waktu untuk berselancar di internet, facebookan dan twiteran daripada membaca buku-buku yang bermanfaat. Dengan hadirnya teknologi, mereka semakin malas melakukan kajian dan telaah terhadap buku. Inilah sebabnya mengapa Negara Indonesia tidak kunjung maju, dari dulu masih tetap berkembang. Semakin tertinggal dengan Negara-negara yang lain, seperti  Jepang, Thailand, Singapura, Malaysia dan Negara-negara ASEAN  lainya. Mereka sudah mampu menciptakan dan memproduksi berbagai macam olahan teknologi sendiri, sedangkan Indonesia masih menjadi Negara yang sarat akan  konsumenismenya.
Terdapat perbedaan kultur dan pola pikir antara masyarakat kita dengan masyarakat pada Negara maju. seperti Jepang misalnya, mereka menggunakan waktu yang berharga untuk banyak melakukan kegiatan produktif, sedangkan masyarakat kita sebagian besar banyak membuang waktu yang berharga untuk kegiatan yang tidak produktif. Orang-orang di Negara maju memberikan perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan, sehingga mereka banyak melakukan pengamatan, kajian dan telaah terhadap buku tentang sains dan yang lainya, sedangkan  dikalangan masyarakat kita, khususnya para kaula muda sangat minim perhatianya terhadap ilmu pengetahuan. Mereka lebih memilih jalan-jalan di Mall, duduk manis didepan laptop atau komputer untuk membuka situs facebook, twiter, dan lain sebagainya.                                                            
Faktor yang paling membangun bagi peradaban Jepang  adalah budaya mereka dengan membaca. Jika kita saksikan, di Negri Sakura ini ketika orang-orang berada di Densha (kereta listrik) menunggu kereta, di perpustakaan, toko buku dan tempat-tempat lainya, mereka gunakan  untuk membaca. Bahkan orang-orang Jepang dapat memproduksi 1 Milyar buku tiap tahunya. Inilah yang menjadikan Jepang sebagai Negara teknologi Dunia. Karena Saking dekatnya mereka dengan buku, sampai ada seloroh, “kalau orang Jepang tidur sambil membaca, sedangkan orang Indonesia membaca sambil tidur.”.                                                            
Sedangkan di Indonesia, apabila kita menjumpai seseorang yang menggunakan waktu luangnya untuk membaca ditempat umum, seperti stasiun, di angkutan umum, dan tampat-tempat umum lainya, hal seperti ini malah dianggap aneh bahkan ada yang mencibirnya. inilah realita yang terjadi di Indonesia, kesadaran untuk membaca yang masih sangat rendah. Untuk menghargai orang yang  membacapun juga amat sulit dilakukan.
Indonesia harus berubah, baik dalam membangun karakter maupun budaya dalam kehidupan sehari-hari. Indonesia harus menjadikan dan membentuk setiap generasinya sebagai seorang pembelajar, yang cinta akan ilmu pengetahuan, cinta akan budaya membaca (culture reading), mengkaji, dan menelaah buku-buku yang bermanfaat baik bagi dirinya maupun bagi Negaranya. Jangan membuang waktu yang berharga hanya untuk kegiatan yang tidak produktif.  pastikan generasi muda Indonesia menjadi seorang pembelajar, meningkatkan kualitas kehidupan di Negara ini dengan membiasakan diri banyak membaca buku yang bermutu dan bermanfaat.
Buku adalah investasi yang tiada habisnya dan tak ternilai harganya. Buku juga bisa mengubah nasib seseorang yang siap belajar dan mau berubah. Ditengah geliat zaman teknologi sekarang ini, seharusnya kita semakin bersemangat menatap masa depan peradaban Negara kita. Kepada siapa lagi Negara ini akan dititipkan kalau tidak kepada para pemudanya. peradaban Negara ini akan berlangsung apabila para pemudanya tangguh dan berilmu. Oleh karena itu, perhatian dan penguatan akan ilmu pengetahuan sangat penting untuk dilakukan. Tanpa ilmu pengetahuan, peradaban tidak akan pernah terjadi. Pepatah mengatakan, “Knowladge is power” ilmu pengetahuan adalah kekuatan. Dengan kekuatan kita bangun Negri ini menjadi lebih maju dan berperadaban.
Dari beberapa uraian diatas, penulis tiba pada kesimpulan. Bahwa ditengah geliat era teknologi, informasi, dan komunikasi sekarang ini, kita harus siap menghadapinya dengan mental yang baik yaitu Dengan menguatkan kwalitas ilmu pengetahuan dan daya intelektualitas, jika indikator tersebut sudah ada pada tiap-tiap  individu masyarakat Indonesia, maka kita akan mampu menjadikan Negri ini lebih maju. Untuk merealisasikanya, budaya membaca (culture reading) harus terus digalakkan ditengah masyarakat kita. Baik kepada anak-anak, para pemuda dan semua lapisan masyarakat Indonesia. Dengan banyak membaca dan melakukan kajian terhadap buku, mendalami dan mengamalkan apa yang dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia, Inilah syarat agar Indonesia menjadi lebih baik.
Dengan hadirnya berbagai macam alat teknologi, maka harus ada sikap yang tepat untuk menghadapi dan memproteknya. Yaitu dengan kita kembali kepada buku, karena dari bukulah wawasan intelektual akan kita peroleh. Sehingga dengan daya intelektualitas kita tersebut, peradaban suatu bangsa akan terbangun. Sastrawan tersohor Amerika Serikat, Thomas Stearns Eliot (1888) pernah berpetuah “Sulit membangun peradaban tanpa budaya tulis dan baca”. Menafsirkan petuah Eliot, maka tanpa adanya budaya membaca yaitu mengkaji dan menelaah buku, tanpa kita membuat karya dalam bentuk tulisan, sulit suatu peradaban akan terbangun.
Salah satu cara membentengi serangan budaya dan teknologi yang berkembang pesat dewasa ini adalah dengan meningkatkan ilmu pengetahuan dan keahlian di berbagai lapisan masyarakat, melalui kegiatan belajar dan menggalakkan budaya membaca (culture reading). Saat ini, solusi terbaik untuk mendongkrak taraf  intelektual dan pemahaman publik adalah menggalakkan kegiatan belajar, pendidikan, dan budaya membaca. Masyarakat dari segi pengetahuan, pemahaman, dan pertumbuhan pemikiran harus sampai kepada jenjang,  yaitu mereka dengan sendirinya dapat membedakan antara nilai-nilai positif dan negatif.
“Tiada hari tanpa membaca” nampaknya pernyataan ini harus menjadi semboyan kita dalam penerapan kehidupan sehari-hari. dengan semboyan tersebut kita handaknya bisa konsisten menjalankanya.  bayangkan apabila dalam waktu satu minggu kita dapat membaca satu buku, maka dalam satu bulan kita sudah dapat menghabiskan 4-5 buku, Jika dalam setahun maka sebanyak 52 buku telah kita baca. Jika dalam kurun waktu 5 tahun, kita sudah berhasil membaca sebanyak 260 buku. Angka yang fantastis. Jika hal ini dapat terealisasikan dan menjadi kebiasaan masyarakat kita, maka Indonesia hanya butuh waktu 5 tahun saja untuk berubah menjadi Negara maju dan mampu bersaing dengan Negara maju lainya.

Jangan membuang waktu yang berharga  untuk kegiatan yang tidak produktif. Mari, pastikan menjadi seorang pembelajar. Tingkatkan kualitas kehidupan dan kita bangun peradaban bangsa ini dengan membiasakan diri untuk membaca, mengkaji, dan mengamalkan buku. Bukan nanti, bukan besok, tapi dimulai hari ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar