Kuungkap Isi Hatiku
Aku berharap semoga tulisan sederhana ini akan kau baca. Entah
hari ini, esok, lusa, atau milenia lamanya.
Aku hanyalah seorang laki-laki biasa yang punya cinta sederhana.
Mungkin tak lebih dari ekspektasimu. Dengan kesederhanaanku, aku berani
mencintaimu. Mungkin kau sudah melihatnya sendiri, seberapa mati-matiannya aku
dalam berjuang meraihmu.
Mungkin kau perlu tahu. Bagi seorang laki-laki, melihat
kecantikan perempuan dengan tiga cara. Dengan akal, ia melihat kecantikan
perempuan dari kecerdasannya. Dengan mata, ia melihat kecantikan perempuan dari
parasnya. Dan dengan hati, ia melihat kecantikan perempuan dari akhlaknya. Amat
sulit menggabungkan ketiganya sekaligus. Dan akal serta mata laki-laki selalu
cenderung didahulukan daripada melihat dengan hati.
Aku selalu berusaha meminta fatwa dari hatiku. Dan salah
satu fatwa itu adalah, memilihmu dengan hati, melihat kecantikanmu dari akhlak
dan tingginya adab pekertimu.
Apakah aku terkesan memaksakan perasaan cintaku kepadamu? Aku
rasa tidaklah demikian. Aku pun masih bisa berfikir realistis dan logikaku
sepenuhnya masih berjalan normal seperti biasa. Engkau tak perlu khawatir, aku tidak
akan sampai menjadi budak dari cinta.
Paling tidak aku pernah jujur padamu. Hatta kejujuranku
mencintaimu jatuh pada doa, dan doa-doa itulah yang akan membuatmu mengerti
rasanya menjadi aku yang mencintaimu dalam sunyi.
Jika ada yang senantiasa mencintaimu dalam diam yang baik. Yang
suaranya tak terjamah telinga, tapi doanya menggema di angkasa. Itu adalah aku.
Aku percaya bahwa mencintai itu adalah anugerah, meskipun
pada akhirnya tak berbalas. Paling tidak lewat rasa itu aku bahkan bisa
membangun istana megahku sendiri dari keping-keping puisi dan prosa.
Sekali lagi kau tak perlu khawatirkan aku dan bagaimana
perasaanku. Dan kau tak perlu bersusah payah memintaku pergi. Tepat ketika
kusadari, kau tak benar-benar mencintaiku, ketika itulah kau telah
kehilanganku.
Satu prinsip kecil yang ku pegang selama ini. “Jika kau
mencintai sesuatu, lepaskan. Jika ia kembali padamu, ia milikmu”. Bukankah cinta
yang paling berkesan adalah cinta yang tak pernah sempat dijalani.
Yah. Aku ingin membersihkan takdir. Meletakkanku pada
penantian malam-malam kesendirian, yang mengajarkanku bahwa untuk sebuah cinta
yang benar, aku memang harus banyak bersabar.
Aku sudah berusaha membuktikan keseriusanku. Beginilah aku,
laki-laki biasa dengan cinta sederhana.
Kau memang berhak memilih. Dan aku meyakini, pilhihanmu
jatuh pada malam-malam panjang istikarahmu. Jika boleh meminta, sertakan aku
dalam sujud dan doa istikarahmu.
