Jumat, 06 Januari 2017


Kuungkap Isi Hatiku





Aku berharap semoga tulisan sederhana ini akan kau baca. Entah hari ini, esok, lusa, atau milenia lamanya.

Aku hanyalah seorang laki-laki biasa yang punya cinta sederhana. Mungkin tak lebih dari ekspektasimu. Dengan kesederhanaanku, aku berani mencintaimu. Mungkin kau sudah melihatnya sendiri, seberapa mati-matiannya aku dalam berjuang meraihmu.

Mungkin kau perlu tahu. Bagi seorang laki-laki, melihat kecantikan perempuan dengan tiga cara. Dengan akal, ia melihat kecantikan perempuan dari kecerdasannya. Dengan mata, ia melihat kecantikan perempuan dari parasnya. Dan dengan hati, ia melihat kecantikan perempuan dari akhlaknya. Amat sulit menggabungkan ketiganya sekaligus. Dan akal serta mata laki-laki selalu cenderung didahulukan daripada melihat dengan hati.

Aku selalu berusaha meminta fatwa dari hatiku. Dan salah satu fatwa itu adalah, memilihmu dengan hati, melihat kecantikanmu dari akhlak dan tingginya adab pekertimu.

Apakah aku terkesan memaksakan perasaan cintaku kepadamu? Aku rasa tidaklah demikian. Aku pun masih bisa berfikir realistis dan logikaku sepenuhnya masih berjalan normal seperti biasa. Engkau tak perlu khawatir, aku tidak akan sampai menjadi budak dari cinta.

Paling tidak aku pernah jujur padamu. Hatta kejujuranku mencintaimu jatuh pada doa, dan doa-doa itulah yang akan membuatmu mengerti rasanya menjadi aku yang mencintaimu dalam sunyi.

Jika ada yang senantiasa mencintaimu dalam diam yang baik. Yang suaranya tak terjamah telinga, tapi doanya menggema di angkasa. Itu adalah aku.

Aku percaya bahwa mencintai itu adalah anugerah, meskipun pada akhirnya tak berbalas. Paling tidak lewat rasa itu aku bahkan bisa membangun istana megahku sendiri dari keping-keping puisi dan prosa.

Sekali lagi kau tak perlu khawatirkan aku dan bagaimana perasaanku. Dan kau tak perlu bersusah payah memintaku pergi. Tepat ketika kusadari, kau tak benar-benar mencintaiku, ketika itulah kau telah kehilanganku.

Satu prinsip kecil yang ku pegang selama ini. “Jika kau mencintai sesuatu, lepaskan. Jika ia kembali padamu, ia milikmu”. Bukankah cinta yang paling berkesan adalah cinta yang tak pernah sempat dijalani.

Yah. Aku ingin membersihkan takdir. Meletakkanku pada penantian malam-malam kesendirian, yang mengajarkanku bahwa untuk sebuah cinta yang benar, aku memang harus banyak bersabar.

Aku sudah berusaha membuktikan keseriusanku. Beginilah aku, laki-laki biasa dengan cinta sederhana.

Kau memang berhak memilih. Dan aku meyakini, pilhihanmu jatuh pada malam-malam panjang istikarahmu. Jika boleh meminta, sertakan aku dalam sujud dan doa istikarahmu.
  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar