Selasa, 04 April 2017

Tentang Rindu

Tentang Rindu

Hampir tidak ada, orang yang menulis tentang rindu, tetapi rindu itu bukan miliknya.
Hanya rekayasa, yang dibuat-buat agar terlihat biasa saja dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Kamu mencoba memendam rindu itu?.

Aku hampir tidak yakin, seberapa besar kekuatanmu untuk tetap bertahan.
Sesuatu yang dilakukan, tapi hanya berbuah kesia-siaan.  
Bayangkan saja, analoginya sederhana. Kau seperti mencoba mengendap-endapkan sesuatu yang tetap saja akan mengapung.

Tapi harus kuakui, caramu menyimpan dan menyembunyikan rindu, bahkan caramu mengekspresikannya, selalu membuatku terpesona.
Aku setuju, bahwa rindu tak perlu disampaikan lewat kata-kata. Bahkan ada yang sampai bermanis-manisan dalam sapa berbalut manja.

Tapi inilah kita, yang akan banyak berbeda dengan cara mereka-mereka.
Cara kita lebih elegan bukan…?

Bahwa, kata-kata cinta dan rindu tak harus selalu lewat tegur sapa yang tekun.
Ia butuh lebih dari sekedar kata-kata, yakni ruang hati yang selalu terbuka untuk doa-doa yang selalu mengangkasa.

Kuharap, ruang hati itu, doaku yang selalu mengisinya.
Meski kau tak pernak jujur soal rindumu itu kau tujukan kepada siapa, tapi ingatlah bahwa Tuhan menyematkan rindu, agar kita saling mendoa.

Kamu itu secerdas Fatimah dalam hal menyembunyikan perasaan, tentang cinta dan rindu. Mencintai dan merindui dalam diam.

Ali : “Pernahkah sebelum ini, kau mencintai seseorang….Fatimah?”
Fatimah : “Pernah……..”
Ali : Dengan sedikit bergejolak dan menahan rasa cemburu, “Siapakah dia…Fatimah?”
Fatimah : “Engkau wahai Ali…..”
Ali : (Tersenyum simpul dan agak salah tingkah)

Biarlah waktu yang menentukan, saat yang tepat untuk mengungkapkan. Tentang kejujuran yang telah lama disimpan dan disembunyikan.


Mari kita sambut rindu yang disematkan Tuhan ini, dengan bersama merengkuh dalam taat dan doa-doa.