Tentang Rindu
Hampir tidak
ada, orang yang menulis tentang rindu, tetapi rindu itu bukan miliknya.
Hanya rekayasa,
yang dibuat-buat agar terlihat biasa saja dan seolah-olah tidak terjadi
apa-apa.
Kamu mencoba
memendam rindu itu?.
Aku hampir
tidak yakin, seberapa besar kekuatanmu untuk tetap bertahan.
Sesuatu yang
dilakukan, tapi hanya berbuah kesia-siaan.
Bayangkan saja,
analoginya sederhana. Kau seperti mencoba mengendap-endapkan sesuatu yang tetap
saja akan mengapung.
Tapi harus
kuakui, caramu menyimpan dan menyembunyikan rindu, bahkan caramu
mengekspresikannya, selalu membuatku terpesona.
Aku setuju,
bahwa rindu tak perlu disampaikan lewat kata-kata. Bahkan ada yang sampai
bermanis-manisan dalam sapa berbalut manja.
Tapi inilah
kita, yang akan banyak berbeda dengan cara mereka-mereka.
Cara kita
lebih elegan bukan…?
Bahwa,
kata-kata cinta dan rindu tak harus selalu lewat tegur sapa yang tekun.
Ia butuh lebih
dari sekedar kata-kata, yakni ruang hati yang selalu terbuka untuk doa-doa yang
selalu mengangkasa.
Kuharap,
ruang hati itu, doaku yang selalu mengisinya.
Meski kau
tak pernak jujur soal rindumu itu kau tujukan kepada siapa, tapi ingatlah bahwa
Tuhan menyematkan rindu, agar kita saling mendoa.
Kamu itu
secerdas Fatimah dalam hal menyembunyikan perasaan, tentang cinta dan rindu. Mencintai
dan merindui dalam diam.
Ali : “Pernahkah
sebelum ini, kau mencintai seseorang….Fatimah?”
Fatimah : “Pernah……..”
Ali : Dengan
sedikit bergejolak dan menahan rasa cemburu, “Siapakah dia…Fatimah?”
Fatimah : “Engkau
wahai Ali…..”
Ali :
(Tersenyum simpul dan agak salah tingkah)
Biarlah waktu
yang menentukan, saat yang tepat untuk mengungkapkan. Tentang kejujuran yang
telah lama disimpan dan disembunyikan.
Mari kita
sambut rindu yang disematkan Tuhan ini, dengan bersama merengkuh dalam taat dan
doa-doa.