Minggu, 30 Oktober 2016

Menuju kesesuaian jiwa

Suara kehidupanku memang tak akan mampu menjangkau kehidupanmu, tapi marilah kita coba saling bicara, barangkali kita dapat mengusir kesepian dan tidak merasa jemu.

Mungkin kau sependapat denganku, cinta tidak datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah kesesuaian jiwa dan jika itu tak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Jika kau ingin mencari sesosok dirimu dalam ceritaku, jangan mencarinya dalam tulisan-tulisanku, kau tak akan menemukannya. Tapi rasakanlah, dalam setiap doa panjang malam-malammu, karena di waktu itulah kunyalakan kalimatku dalam tungku namamu.

Ku sebut namamu di setiap doa malamku. Biarkan ia menaiki tangga-tangga langit, mengalir bersama desir, memberi kabar tentang segala debar.

Namamu yang kusemogakan. Aku hanya ingin menyesuaikan jiwaku dengan jiwamu, antara aku dan engkau agar melebur menjadi kita.

Hingga detik ini, aku masih menunggu gayung bersambut darimu. Balasan yang dulu pernah kau ucap sebagai jawab dari tawaran cinta dariku, masih ku ingat. Jika kau ingin menyambutku, tidak berlebihan seandainya kau jelaskan maksud jawabmu dengan kata-kata “Cenderung tidak bisa”. Apa kau benar-benar tak ingin aku ada dalam kehidupanmu atau memang dengan kata-kata itu kau ingin mengatakan bahwa kau sebenarnya belum siap dengan segala konsekuensi cinta yang akan kau tanggung?

Ya. Lebih baik kau jelaskan soal itu terlebih dahulu. Agar jiwa kita sepakat untuk menuju kesesuaian.

Aku nampaknya sepakat dengan ungkapan “Wanita memang ingin selalu dimengerti”. Sungguh, aku ingin mengertimu sebatas mampuku.


Memahamimu, layaknya memahami teori atom, “Rumit”. Bukankah begitu. Pada umumnya ketika seorang laki-laki memahami seorang perempuan. Tapi aku suka dengan kerumitan, yang pada akhirnya semua kerumitan itu akan terpecahkan bukan?. 

Minggu, 09 Oktober 2016

Nyimak ceramah menggelitik Duo Ustad; Arifin Ilham dan Hasan Abdullah Sahal


Image result for kajian ustadz arifin ilham dan ustadz hasan abdullah sahalImage result for kajian ustadz arifin ilham
googleimages

Tema kajian pagi kemarin di UGM adalah “Membangun Pondasi Anak Bangsa Untuk Indonesia Yang Bermartabat”. Berawal ketika, aku dan pasukan PPK (Para Pencari Kajian) memutuskan untuk menghadiri kajian sabtu pagi di masjid UGM, dan tentu yang membuat kami semakin semangat untuk hadir adalah, dua pemateri yang sudah sangat kondang dengan spesialisasi masing-masing. Siapa yang tidak tahu dengan majelis dzikir, dengan dresscode warna putih, yang setiap kajiannya, beliau selalu mengajak para jamaah untuk berdzikir, mengucap istighfar, bermuhasabah diri, dan tentu banyak dari para jamaah akan menitikan air mata tanda penyesalan yang amat dalam atas dosa dan maksiat yang telah dilakukan. Ya, beliau adalah Ustad Arifin Ilham.

Ibnu rajab pernah mengatakan, “Kalau kita tidak mampu bersaing dengan orang sholeh dalam ibadahnya, maka bersainglah dengan pendosa yang menangis dalam istighfarnya”. Begitulah kira-kira maksud Ustad Arifin Ilham dengan majelis dzikirnya. Mengajak jamaah untuk terus beristighfar, memohon ampun kepada Rabb yang Maha Pengampun. Ketika kami sudah sampai di lokasi, aku segera mencari tempat duduk yang memungkinkan untuk khusyu’ saat mendengar ceramah.
Baru mendengar ceramah sekitar lima menit, Ust Arifin memulai dzikirnya. Ya memang aku dan pasukan PPK agak telat datangnya. Saat mengucap istighfar, bersama para jamaah lainnya, aku sudah tak bisa memikirkan apapun selain dosa dan maksiat yang sudah terlalu menggunung dan mungkin seperti debu yang tak terhitung. Mulailah mengucur air mataku, layaknya air hujan deras yang mengguyur.  “Astaghfirullaahaladziim,,,,,, Astaghfirullaahaladziim,,,, Astaghfirullaahaladziim………..,”. Ya Allah Ya Ghofur, yang ampunan-Mu lebih besar dari siksa-Mu. Dosaku menggunung tinggi, tapi Rahmat-Mu terbentang luas. “Laa Ilaaha Illa anta subhaanaka innii kuntu minadzaalimin”. Dzalim ya Allah diri ini, sangat dan amat dzalim.

Ustad Arifin Ilham menutup majelisnya dengan doa dan para jamaah mengamininya. Satu hal penting yang menjadi catatan dari ustad Arifin, indahnya hidup ini akan terasa nikmat senikmat hidup di syurga, di antara taman-taman syurga, hanya keindahan yang dipandang dan kenikmatan yang dirasakan, apabila taqwa selalu tertanam kuat dalam hati dan jiwa. Tumbuh rasa takut untuk bermaksiat, menguatkan dan menjaga diri dari hinggapan dosa.
Bukan berapa banyak dosa yang telah engkau perbuat, tapi seberapa cepat dan istiqomah langkahmu menuju ampunan-Nya.

Sejenak kuusap air mataku, kutarik nafas dalam-dalam. Merasakan rahmat dan ampunan-Nya memeluk hangat tubuhku. Aku teringat perkataan Imam Al-Ghazali, “Mengapa aku masih diberikan kenikmatan hidup hingga detik ini?. Karena Allah masih menaruh rasa cinta dan sayang kepadaku. Sehingga Allah masih memberikanku kesempatan untuk kembali ke jalan-Nya, bertobat kepada-Nya.” aku hanya ingin menjaga cinta dan sayangnya Allah padaku, hingga detik ini masih diberikan nikmat untuk hidup, tentu ini adalah suatu kesempatan agar aku kembali pada-Nya, selangkah demi selangkah istiqomah di jalan-Nya.

Lalu ceramah pun dilanjutkan, ustad Arifin Ilham menyinggung soal “Nikah”, karena memang mayoritas yang mengikuti kajian pagi itu adalah anak-anak muda yang punya prinsip SSN (Single Sampai Nikah), ya semoga saja prasangkaku benar. Hehe. Di sinilah ceramah beliau terasa 
menggelitik, mengena dan terdengar begitu apik.

Beliau mencontohkan putra beliau sendiri, yang bernama Alvin. Di usianya yang baru 17 th, sudah berani menikahi seorang perempuan mu’allaf yang awalnya sempat berdebat sengit dengannya lalu akhirnya perempuan ini menerima Islam sebagai agama yang Haq (benar). Ya, perempuan itu adalah Larissa Chow. Bukan soal berani nikahnya, tapi soal berani memutuskan di usianya yang baru 17 tahun, berhenti untuk maksiat dan menyelamatkan dirinya dengan mengambil jalan menikah.
“Dulu Alvin sebelum menikah, jarang sekali ada di rumah. Kalau ditanya, Alvin kemana?, Alvin dimana?. Selalu jawabnya, di Bandung, di Jakarta, di Jogja. Karena memang Alvin berkelana untuk memutqinkan hafalan qur’an nya. tapi setelah nikah, kalau ditanya, Alvin dimana, Alvin kemana?. Selalu jawabnya, Di Kamar, di kamar, dan di kamar.” Hahaha. Cerita dari ustad Arifin Ilham itu Sontak membuat seluruh jamaah tertawa. Tentu di kamar dengan istrinya.

“Apa yang dilakukan Alvin berduaan dengan istrinya di kamar?, Alvin sedang mengajari istrinya untuk menghafal Al-Quran. dan Alhamdulillah kini Larissa Chow sudah menghafal hampir dua juz. Dan ketika menghafal, kalau istrinya salah, hukumannya adalah di kasih ciuman sama si Alvin.” Hahaha.  Lagi-lagi jamaah tertawa mendengar cerita dari ustad Arifin, dan jamaah juga merasakan betapa manis dan mesranya hubungan rumah tangga Alvin dan Larissa Chow.

Aku sempat berfikir. Nanti kalau aku sudah menikah, menyimak hafalan quran istri, kalau salah, hukumannya gak Cuma kasih cium, tapi juga mau tak gendong keliling rumah. :-D

Intinya, nikmati manisnya iman dengan ketaatan. Jemputlah cintamu dengan cara yang berkah dan diridhoi-Nya. kalau berani menghentikan maksiat sekarang juga, kalau mau merubah yang awalnya dosa menjadi pahala, mau nunggu apa lagi?. #Cuma bisa teori. Harap maklum. Hehe.

Relevansi ceramah ustad Arifin Ilham dengan tema besar kajian pagi kemarin adalah; untuk membangun pondasi anak bangsa menuju Indonesia yang bermartabat, yaitu dengan cara membentengi diri dari perbuatan maksiat. Jaga diri dari hinggapan dosa. Kalau sudah tidak mampu menahan nafsu, jalan terbaik menuju keselamatan adalah dengan cara menikah.
Setelah ustad Arifin Ilham menutup ceramahnya, lalu beliau mohon pamit untuk melanjutkan kajian yang sama di masjid Jogokaryan Jogjakarta.

Kini aku sudah siap-siap untuk mendengarkan ceramah selanjutnya dari ustad Hasan Abdullah Sahal. Beliau lebih sering dipanggil dengan sebutan kiyai Sahal, beliau adalah salah satu pendiri Pondok Gontor. Jujur, baru pertama kalinya saya mendengar ceramah beliau secara langsung. Usia beliau sudah terbilang sepuh.

Kalimat pembuka beliau, langsung membuat jamaah heran sekaligus agak bingung. Dengan tema “Membangun pondasi anak bangsa untuk Indonesia yang Bermartabat” justru beliau memulainya dari sisi kebalikannya. “Menghancurkan Pondasi anak bangsa untuk Indonesia yang tidak bermartabat”. Beliau lebih bicara soal realita daripada idealita. Dan justru di situlah ada kesan menggelitiknya. Dan memang gaya ceramah beliau yang ku suka. Menggebu-gebu penuh dengan semangat. Ceplas-ceplos tanpa ada tedeng aling-aling, jujur apa adanya, tapi ada kontrol di dalamnya. Sungguh mengagumkan.

“Lebih enak membangun atau menghancurkan?” Tanya beliau kepada para jamaah. Dan memang membangun adalah suatu pekerjaan yang tidak semudah membalikkan telapak tangan bukan?. Tapi jika menghancurkan, itu merupakan pekerjaan yang sangat mudah untuk dilakukan.

Beliau menganalogikan seperti bangunan rumah. Bersusah-susah dan berpayah-payah orang membangun rumah, berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan. tapi amat mudah untuk menghancurkannya, bahkan hanya dengan hitungan jam. Begitulah kondisi bangsa ini, ada orang-orang yang mengupayakan dengan susah payah untuk membangun martabat bangsa, tapi di satu sisi juga ada oknum-oknum yang dengan sangat mudahnya menghancurkan martabat bangsa. Dan oknum itu adalah diri kita sendiri.

Betapa permisifnya kita dengan budaya-budaya asing. Makanan-makanan asing. Hingga gaya hidup orang asing. Dimama jati diri kita, kemana kesejatian bangsa kita?. “Sungguh, penjajahan baru telah terjadi. Bukan secara fisik seperti 71 tahun yang lalu sebelum merdeka. Tapi ini penjajahan yang lebih kejam dan menghinakan. Karena kita kehilangan jati diri, martabat diri, dan harga diri bangsa kita sendiri.” Lantang beliau dengan ceramahnya.

“Ingatlah, di balik bangunan rumah yang megah, tegak tinggi menjulang, ada pondasi yang menguatkannya. Tanpa adanya pondasi, rumah itu tidak akan bisa berdiri tegak dan kokoh. Bangsa ini bisa berdiri tegak kokoh, karena dikuatkan dengan pondasi. Apa pondasinya?. Jati diri, harga diri, dan martabat diri adalah pondasi suatu bangsa untuk bisa tegak berdiri kokoh.” Aku khusyuk mendengar ceramah beliau dengan tangan yang terus mencatat poin-poinnya.

“Indonesia itu ya harus dijajah. Bodoh kalau bangsa luar tidak menjajah Indonesia.” Semua jamaah terpaku dan heran. “Tapi lebih bodoh lagi, kalau Indonesia mau-maunya dijajah”. Hahaha. Jamaah kini dibuat ketawa dengan sindirin beliau.

“Tapi kita harus bangga, bahwa Indonesia adalah Negara yang akan masuk syurga pertama kali. Karena begitu baiknya kita dengan bangsa luar, coba berapa banyak emas yang kita sedekahkan tiap tahunnya?. Belum sumber alam yang lain, bahkan sampai TKI saja juga disedekahkan.” Hahaha. Lagi-lagi jamaah dibuat tertawa dengan selorohan beliau.

Begitulah adanya, bangsa ini sedang menuju kehancuran bukan sedang berupaya menuju sebuah pembangunan.

“Saat ini, lebih sering mana, kita membenarkan pernyataan atau menyatakan kebenaran?” Tanya beliau serius. “Membenarkan pernyataan….,” jawab jamaah hampir kompak.

Yah, begitulah adanya. Kita justru lebih sering membenarkan suatu pernyataan daripada menyatakan suatu kebenaran. Kenapa kemudian timbul kasus suap, korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Inti dari ceramah beliau adalah; membangun pondasi harus dimulai dari diri-sendiri. Pondasi itu adalah; jati diri, harga diri, nilai diri, dan martabat diri, kesemua itu harus dijaga dan dipegang teguh sebagai prinsip dalam hidup. Berani menyatakan kebenaran adalah wujud anak bangsa untuk menuju Indonesia yang bermartabat.


Rabu, 05 Oktober 2016

Ketertarikanku soal lagu-lagu kenangan dan lagu "Puisi"



Sudah lama memang, aku akan menyendiri mencari tempat yang sunyi, hanya sekedar mendengar tembang lagu “Puisi” milik Jikustik. Tidak hanya sekedar mendengar, aku juga menyanyikannya. Karena di laptopku ada aplikasi karaoke, lagu-lagu pilihannya dari tembang kenangan sejak masanya Broery Marantika sampai lagus-lagu pop yang kekinian.

Yah, aku harus jujur. Ketertarikanku dengan dunia karaoke sudah amat lama, tepatnya sejak SMP. Mungkin karena faktor keluarga yang mayoritas punya hobi menyanyi (karaoke-an). Terutama bapak. Beliau punya “Piano” yang selalu menjadi teman di kala penat mendera karena seharian sibuk kerja. Dulu sekali, ketika bapak sudah di depan piano, aku dengan semangatnya akan menyiapkan satu buah lagu yang akan kusumbangkan, tentu bapak yang mengiringinya. Bahkan hingga sekarang, setiap ada momen kumpul keluarga besar, acara karaoke-an adalah termasuk agenda wajib yang harus ada.

Entah kenapa, aku suka lagu-lagu kenangan “waktu itu”. Untuk anak seusiaku, yang masih SMP, bisa dikatakan remaja awal mungkin. Aku sudah mengoleksi kaset-kaset tembang kenangan. Seperti; The Mercy’s, Koes Plus, Dlloyd, Pance F Podang, Tommy J Pissa, Broery Marantika, Dewi Yull, ya masih banyak lagi sepertinya.

“Lagu-lagu kenangan liriknya bagus, enak didengar” pikirku waktu itu.

Sampai masuk usia dewasa awal, sampai sekarang, aku masih exited dengan lagu-lagu kenangan. Penilaianku soal lagu kenangan, liriknya terasa keluar dari relung hati yang paling dasar. Terkesan jujur dan apa adanya. Aku suka memang dengan pilihan-pilihan diksinya. Meski kenangan selalu identik dengan masa lalu, bukankah dalam menjalani hidup, kita juga perlu sesekali menengok masa lalu, ia akan mengajarkan kita banyak hal untuk menatap masa depan. Dan terbukti, lagu-lagu kenangan tetap exist sampai sekarang, seolah tak akan lekang oleh waktu.

Sampai masuk SMA, kegandrunganku soal tembang kenangan tidak bisa diragukan lagi. Dari sekian lagu, pilihan favoritku memang lagu “Ayah” karya The Mercy’s. bahkan aku pernah diminta untuk menyanyikan lagu “Ayah” di saat momentum akhirussanah (wisuda) kakak kelas di pondok dulu.
Aku dalami betul setiap liriknya, kurasakan bait demi baitnya. Saat menyanyikan lagu “Ayah”, aku betul-betul meresapinya, di tengah-tengah lagu, aku tak kuasa menahan air mata hingga tumpah ruah membasahi pipi. Lagu pun terus berlanjut sampai akhir liriknya. Suara gemuruh tepuk tangan dari para guru dan wali santri, begitu juga santri-santrinya, saat ku mengakhiri lagunya.

Kulihat banyak di antara mereka yang juga menitikan air mata. Di momentum wisuda, lagu ini kunyanyikan teruntuk para ayah yang telah berjuang demi kebahagiaan anak-anaknya. Walaupun, saat itu sosok ayahku tak berada di sisi. Terpisahkan jarak dan waktu, aku di jawa, sedangkan beliau di Sumatera.

Aku juga suka lagu “Kharisma Cinta” milik Broery Marantika dan Dewi Yull. Lagu paling romantis yang ingin kunyanyikan kelak dengan istriku. J

Begitulah. Nampaknya, lagu-lagu kenangan punya banyak arti untukku.

Kembali pada topik utama, tulisan ini sesungguhnya ingin bicara soal ketertarikanku dengan lagu “Puisi” milik Jikustik.

Kesukaanku pada lagu ini, bermula ketika Om-ku menyanyikan lagu ini teruntuk istrinya. Aduhai, syahdu sekali suasana kala itu. Aku Cuma bisa bilang, “Cie, cie, cie,….” Tepuk tangan dengan keharuan.

Yah, dari situ, lagu “Puisi” menjadi berarti untukku. Lagu ini booming tahun 2000 an. Lagu lama memang, tapi sekali lagi, lagu ini terasa jujur apa adanya. Pilihan diksinya sederhana, tapi amat dalam kesannya bagi mereka yang meresapinya.

Entah mengapa, setiap mendengar lagu ini, ingatanku tak ingin lepas dari masa lalu, tepat di mana untuk pertama kalinya aku bersua dengannya. Dan tepat juga untuk pertama kalinya, aku mengagumi sosok perempuan itu yang tampil apa adanya, sikapnya terasa jujur tak dibuat-buatnya. Tentu juga tulisan-tulisannya yang membuatku kagum akan sosoknya.

Padahal lagu ini sangat kujaga kerahasiaannya. Tapi sayang, semenjak aku ketahuan mendengar lagu ini sendiri, di tempat yang sunyi, ada teman berinisial “I_Z” yang akhirnya ikut mendegar lagu ini. Dia bilang “Ini laguku bangetttt,,.” Yah, maklum, dia ini memang cowok yang sudah lama jomlo. Termasuk aku juga sih.

Ya sudahlah, biarkanlah dua cowok yang senasib ini sama-sama mendengar lagu “Puisi”. Sesama jomlo tidak boleh saling mendahului.

"Puisi"_Jikustik_Live Acoustic Album