google images
Salam untuk
putri langit.
Aku sudah
membaca suratmu putri.
Beberapa
waktu cukup lama aku tak membalas surat balasan darimu.
Bukan
berarti aku tak mau membalasnya, namun lebih kepada pertimbangan psikologis.
Mungkin saat
ini suasana masih nampak keruh bukan?. Biarkan keruh itu luruh menjadi bening
dulu, agar kita dapat melihat kejernihan-kejernihan di dalamnya.
Sungguh,
dalam surat balasanku kali ini, aku tak mau memperpanjang lagi soal siapa yang
salah dan siapa yang benar. Anggap saja di antara kita sudah saling introspeksi
pada diri sendiri. Setuju kan?.
Untukmu
putri,
Tetaplah
menjadi dirimu sendiri, prinsip dan konsep diri yang sudah engkau bangun sejak
dulu, pertahankan. Saya kira, dan engkaupun pasti juga sudah memahami betul,
bahwa kita tidak perlu menjadi diri menurut pandangan orang lain, atau diubah
karena kondisi atau sikap dari luar. Toh yang menilaimu Tuhan, karena di
situlah letak kesejatiannya dirimu. Bukan menurut penilaian manusia. maaf, aku
tak bermaksud mengguruimu.
Termasuk soal
perfeksionismu prihal jodoh. Pertahankan putri, justru engkau akan melihat
siapa saja yang akan bertahan dan menggigihkan usahanya untuk menyandingmu.
Semoga
engkau tak akan marah, jika kusematkan nama putri langit untukmu.
Sudahlah,
kita sudah sama-sama dewasa bukan?. Soal memandang cinta, masihkah kita akan
cengeng, lemah, atau bahkan pengecut menghadapinya. Sampai berdoa kepada Tuhan
untuk dikuatkan terhadap cinta yang melemahkan.
Kalau ada
orang yang lemah karena cinta, jangan salahkan cintanya, tapi salahkan
orangnya. Kalau ada orang yang dibuat jatuh karena cinta, lagi-lagi jangan
menghukumi salah terhadap cintanya, tapi hukumilah orangnya. Kalau ada orang
yang pengecut karena cinta, sekali lagi, bukan cintanya, tapi orangnyalah yang
pengecut sesungguhnya.
Aku yakin,
engkau lebih tahu dalam bersikap dan memilih mana yang terbaik untuk dilakukan.
Ah,
sudahlah. Lebih baik kita membicarakan karya apa yang sudah kita buat dan
dedikasikan untuk memotivasi dan menggerakkan orang lain. Setuju?
Sudah berapa
karya yang terlahir dari tangan dan imaji hebatmu putri?, setelah karyamu
sebelumnya.
Tahukah
engkau putri, aku pun sedang belajar mengikuti jejakmu yang lebih dulu
melenggang di dunia kepenulisan. Kabar baiknya, karyaku kini sudah diterima
oleh penerbit. Jika Allah menghendaki, sebelum aku wisuda pada 22 Oktober,
karyaku sudah diterbitkan. Mohon doa darimu putri, semoga semuanya berjalan
sesuai yang direncanakan.
Di suratku
sebelumnya, engkau mungkin merasa seolah aku menjastifikasi sikapmu. Atau
seolah aku nampak menyerah untuk meraihmu?. Bukan putri, sungguh bukan itu
maksudku. Ah sudahlah, padahal aku sedang berupaya menyeimbangimu, atau lebih
tepatnya berusaha menjadi seperti exspektasimu.
Engkau
mungkin tahu kisah Sir Edmund Hillary, dia orang pertama kali yang berhasil
mendaki dan mencapai puncak gunung tertinggi di dunia, mount Everest. Dalam
usahanya mendaki Everest, ia ditemani oleh seorang pemandu lokal, Tenzing
Norgay, yang berasal dari Nepal. Sebagai pemandu, Tenzing Norgay berada di
depan, dan seharusnya dia yang pertama menjejakkan kaki di puncak Everest.
Tapi kata
Tenzing Norgay ketika diwawancarai oleh seorang reporter, “Pada saat tinggal
satu langkah mencapai puncak, saya mempersilahkan Edmund untuk menjejakkan
kakinya dan menjadi orang pertama yang berhasil menaklukkan Everest.”
“Mengapa
anda lakukan itu?”
Tenzing
Norgay menjawab dengan keramahan yang sangat tulus. Saking tulusnya, kedua
pipinya berseri-seri. “Karena itulah impian Edmund, bukan impian saya. Impian
saya hanyalah berhasil membantu dan mengantar Edmund meraih impiannya.”
Apakah berlebihan,
jika aku mengatakan, “Aku ingin menjadi Tenzing Norgay-mu. Aku ingin
menemanimu, selalu menyertaimu dalam setiap langkahmu, sampai kamu mencapai
impian terbesarmu.”
Itulah
alasanku, mengapa kuyakinkan langkahku dan kugigihkan usahaku.
Tapi aku
tegaskan putri, jika engkau mengatakan akan bisa bahagia ketika orang yang
engkau cinta bersanding dan dimiliki orang lain. Aku pun sama, bisa.
Mungkin,
inilah balasan surat yang bisa kutulis untukmu putri. Mungkin engkau bingung
dengan isi suratku, hendak mengarah kemana dan apa maksudanya. Tapi, apa yang
keluar dari hatiku, itulah yang mengilhamiku untuk menulis surat balasan ini.
Doaku selalu
menyertaimu.
#balasan
surat, untuk putri langit.