Kamis, 22 September 2016

surat balasanku

                                                  Image result for menulis surat cinta

google images

Salam untuk putri langit.
Aku sudah membaca suratmu putri.
Beberapa waktu cukup lama aku tak membalas surat balasan darimu.
Bukan berarti aku tak mau membalasnya, namun lebih kepada pertimbangan psikologis.
Mungkin saat ini suasana masih nampak keruh bukan?. Biarkan keruh itu luruh menjadi bening dulu, agar kita dapat melihat kejernihan-kejernihan di dalamnya.

Sungguh, dalam surat balasanku kali ini, aku tak mau memperpanjang lagi soal siapa yang salah dan siapa yang benar. Anggap saja di antara kita sudah saling introspeksi pada diri sendiri. Setuju kan?.

Untukmu putri,
Tetaplah menjadi dirimu sendiri, prinsip dan konsep diri yang sudah engkau bangun sejak dulu, pertahankan. Saya kira, dan engkaupun pasti juga sudah memahami betul, bahwa kita tidak perlu menjadi diri menurut pandangan orang lain, atau diubah karena kondisi atau sikap dari luar. Toh yang menilaimu Tuhan, karena di situlah letak kesejatiannya dirimu. Bukan menurut penilaian manusia. maaf, aku tak bermaksud mengguruimu.

Termasuk soal perfeksionismu prihal jodoh. Pertahankan putri, justru engkau akan melihat siapa saja yang akan bertahan dan menggigihkan usahanya untuk menyandingmu.
Semoga engkau tak akan marah, jika kusematkan nama putri langit untukmu.
Sudahlah, kita sudah sama-sama dewasa bukan?. Soal memandang cinta, masihkah kita akan cengeng, lemah, atau bahkan pengecut menghadapinya. Sampai berdoa kepada Tuhan untuk dikuatkan terhadap cinta yang melemahkan.

Kalau ada orang yang lemah karena cinta, jangan salahkan cintanya, tapi salahkan orangnya. Kalau ada orang yang dibuat jatuh karena cinta, lagi-lagi jangan menghukumi salah terhadap cintanya, tapi hukumilah orangnya. Kalau ada orang yang pengecut karena cinta, sekali lagi, bukan cintanya, tapi orangnyalah yang pengecut sesungguhnya.
Aku yakin, engkau lebih tahu dalam bersikap dan memilih mana yang terbaik untuk dilakukan.
Ah, sudahlah. Lebih baik kita membicarakan karya apa yang sudah kita buat dan dedikasikan untuk memotivasi dan menggerakkan orang lain. Setuju?

Sudah berapa karya yang terlahir dari tangan dan imaji hebatmu putri?, setelah karyamu sebelumnya.

Tahukah engkau putri, aku pun sedang belajar mengikuti jejakmu yang lebih dulu melenggang di dunia kepenulisan. Kabar baiknya, karyaku kini sudah diterima oleh penerbit. Jika Allah menghendaki, sebelum aku wisuda pada 22 Oktober, karyaku sudah diterbitkan. Mohon doa darimu putri, semoga semuanya berjalan sesuai yang direncanakan.

Di suratku sebelumnya, engkau mungkin merasa seolah aku menjastifikasi sikapmu. Atau seolah aku nampak menyerah untuk meraihmu?. Bukan putri, sungguh bukan itu maksudku. Ah sudahlah, padahal aku sedang berupaya menyeimbangimu, atau lebih tepatnya berusaha menjadi seperti exspektasimu.

Engkau mungkin tahu kisah Sir Edmund Hillary, dia orang pertama kali yang berhasil mendaki dan mencapai puncak gunung tertinggi di dunia, mount Everest. Dalam usahanya mendaki Everest, ia ditemani oleh seorang pemandu lokal, Tenzing Norgay, yang berasal dari Nepal. Sebagai pemandu, Tenzing Norgay berada di depan, dan seharusnya dia yang pertama menjejakkan kaki di puncak Everest.

Tapi kata Tenzing Norgay ketika diwawancarai oleh seorang reporter, “Pada saat tinggal satu langkah mencapai puncak, saya mempersilahkan Edmund untuk menjejakkan kakinya dan menjadi orang pertama yang berhasil menaklukkan Everest.”

“Mengapa anda lakukan itu?”

Tenzing Norgay menjawab dengan keramahan yang sangat tulus. Saking tulusnya, kedua pipinya berseri-seri. “Karena itulah impian Edmund, bukan impian saya. Impian saya hanyalah berhasil membantu dan mengantar Edmund meraih impiannya.”
Apakah berlebihan, jika aku mengatakan, “Aku ingin menjadi Tenzing Norgay-mu. Aku ingin menemanimu, selalu menyertaimu dalam setiap langkahmu, sampai kamu mencapai impian terbesarmu.”

Itulah alasanku, mengapa kuyakinkan langkahku dan kugigihkan usahaku.
Tapi aku tegaskan putri, jika engkau mengatakan akan bisa bahagia ketika orang yang engkau cinta bersanding dan dimiliki orang lain. Aku pun sama, bisa.

Mungkin, inilah balasan surat yang bisa kutulis untukmu putri. Mungkin engkau bingung dengan isi suratku, hendak mengarah kemana dan apa maksudanya. Tapi, apa yang keluar dari hatiku, itulah yang mengilhamiku untuk menulis surat balasan ini.

Doaku selalu menyertaimu.

#balasan surat, untuk putri langit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar