Sabtu, 05 November 2016

PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DENGAN PENDEKATAN MOVEMENT UNTUK MEMAJUKAN DAERAH TERTINGGAL

A.    PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan topik utama dalam kehidupan sehari-hari yang senantiasa selalu aktual untuk dibicarakan, serta dituntut untuk selalu relevan dengan kontinuitas dinamika kehidupan masyarakat. Proses pendidikan tidak dapat dipisahkan dari proses pembangunan yang bertujuan untuk mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas. Sedangkan manusia yang berkualitas itu sendiri dapat dilihat dari segi pendidikannya (Hamalik, 2007: 1).
Berangkat dari keyakinan bahwa masa depan bangsa ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia, maka peranan sistem pendidikan nasional dalam kehidupan suatu bangsa menjadi sangat dominan. Oleh sebab itu, pendidikan nasional harus selalu ditata agar benar-benar dapat menjadi wahana bagi pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas (Wahjoetomo, 1993: 6).
Sekolah merupakan salah satu wahana yang dijadikan tempat untuk mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas. Dari sekolah akan melahirkan manusia-manusia yang terdidik, karena semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan semakin mengantarkannya kepada peluang yang akan merubah kehidupannya menjadi lebih baik kedepannya.

Googleimages.com
Sekolah yang diharapkan merupakan sekolah yang unggul, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Ketika sekolah tersebut dilihat dari segi kualitasnya unggul, infrastruktur bangunannya bagus, fasilitas sekolahan yang memadai, serta para tenaga pengajar yang kompeten di bidangnya, maka akan tercetak anak-anak didik yang unggul dan berkualitas. Begitu juga ketika dilihat dari segi kuantitasnya, semakin banyak jumlah sekolahan yang tersedia, maka akan semakin banyak pula anak-anak usia sekolah yang tertampung dan mempunyai akses untuk melanjutkan sekolah, mengenyam pendidikan, dan merasakan duduk di bangku sekolahan.

Googleimages.com
Realita saat ini, potret pendidikan di Indonesia masih jauh dari kata maju atau terdepan. Hal ini dikarenakan akses pendidikan belum merata hingga pelosok negeri. Sekolah-sekolah yang dibangun atau disediakan, masih jauh dari kata cukup. Baik dari segi kualitasnya maupun kuantitasnya. Ditambah jumlah sekolah-sekolah yang rusak dan tidak layak sebagai tempat belajar.

Googleimages.com

Menurut info pendataan dikdas kemdikbud, di tahun 2013, jumlah SD di Indonesia sebanyak 169 ribu, SMP sebanyak 39 ribu, dan SMA sebanyak 26 ribu. Sedangkan jumlah anak yang mengenyam pendidikan setiap tahunya, masuk di SD berjumlah 5,6 Juta anak, tetapi jumlah kelulusan anak hingga tingkat SMA hanya berjumlah 2,3 juta. Yang menjadi pertannyaan adalah, dimana sisa anak yang berjumlah 3,3 juta tersebut?. Idealnya adalah, yang masuk SD berjumlah 5,6 juta, seharusnya yang lulus SMA juga sebanding, atau tidak jauh dari angka tersebut. Tetapi sisa anak yang berjumlah 3,3 juta hilang entah kemana. 
Banyak faktor yang menyebabkan mengapa masalah pendidikan di Indonesia tak kunjung menemui titik terangnya. Beberapa di antaranya adalah soal kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Pemerintah lebih menggunakan kebijakan pendekatan program (Programmatic) daripada kebijakan pendekatan gerakan (movement). Dengan pendekatan program (Programmatic) yang dilakukan oleh pemerintah, seolah-olah semua masalah pendidikan di Indonesia diselesaikan oleh pemerintah.
Pemerintah kurang memberikan ruang yang cukup bagi para aktivis atau LSM yang bergerak di bidang pendidikan untuk ikut turun tangan menyelesaikan masalah pendidikan di Indonesia. Ketika pemerintah masih menerapkan kebijakan program (programmatic) dalam menuntaskan masalah pendidikan di Indonesia, maka dampaknya adalah akan semakin banyak masalah pendidikan di Indonesia yang tidak terselesaikan dengan tuntas. Karena rasa kepemilikan (ownership) terhadap masalah pendidikan di Indonesia sangat rendah (Baswedan, 2013).
Dalam bidang politik, kita lihat telah dimatikannya kehidupan demokrasi. Demokrasi yang menjamin pluralitas atau kemajemukan kehidupan berbangsa dan bernegara, yang mengakui keunikan kemajemukan dan perbedaan pendapat telah dimatikan sedemikian rupa. Dengan demikian, kehidupan bersama berdasarkan dialog dan tukar pikiran telah dikubur, sehingga usaha untuk memecahkan persoalan bersama telah diganti dengan cara-cara pemaksaan melalui berbagai instruksi atau peraturan dari penguasa. Akibatnya, partisipasi masyarakat dalam menentukan berbagai kebijakan baik di dalam kehidupan bersama maupun di dalam pemerintahan semakin lama semakin sempit. Masyarakat menjadi apatis, tidak kreatif dan inovatif, selalu menunggu petunjuk, serba juklak (petunjuk pelaksanaan) dan juknis (petunjuk teknis), dan berfikir prosedural (Hasbullah, 2015: 12-13). 
Masalah yang lain adalah faktor ketidakadilan yang berdampak terhadap rendahnya mutu pendidikan. Terjadinya berbagai gejala ketidakadilan dalam pelayanan pendidikan dapat dijelaskan oleh teori “dual system” (Windham, 1990). Masyarakat seolah terpilah menjadi dua segmen yang terpisah, yaitu segmen miskin (disadvantages) dan segmen kaya (advantages). Yang kaya mendapatkan berbagai kemudahan dalam akses pendidikan, sedangkan yang miskin semakin tertinggal karena kurangnya fasilitas dan akses layanan pendidikan (Suryadi, 2014: 119).
  

Googleimages.com
Di sinilah pentingnya peranan dari semua pihak untuk sama-sama turun tangan dan memiliki rasa ownership atau kepemilikan terhadap masalah pendidikan yang ada di Indonesia. Sudah banyak saat ini lembaga-lembaga yang dibentuk untuk ikut membantu pemerintah dalam menangani masalah-masalah pendidikan yang ada di Indonesia. Sebut saja misalkan, Indonesia Mengajar, Indonesia Menyala, Kelas Inspirasi, Tunas, Gerakan 1001 Buku, Selasar Didik, Pencerah Nusantara, Sekolah Gajah Wong, Armada Pustaka, Rumah Pintar, dan lain sebagainya.
Googleimages.com
Lembaga-lembaga tersebut dibentuk dari semangat gerakan atau lebih menerapkan kebijakan Movement. Sehingga pegiat dan para aktivis pendidikan memiliki rasa peduli terhadap pendidikan di Indonesia. Lambaga-lembaga tersebut memiliki visi dan misi yang sama, yaitu ikut andil dalam menuntaskan berbagai masalah pendidikan di Indonesia, terutama pada sumber daya manusianya.
B.     ISI
Salah satu peran atau tanggung jawab kita sebagai orang yang terdidik dapat diwujudkan dengan membantu pemerintah menyelesaikan masalah pendidikan. Membangun sumber daya manusia Indonesia dari sektor pendidikan. Kita tahu bahwa masalah pendidikan di Indonesia masih sangat perlu diperhatikan dan dicarikan solusinya. Dewasa ini akses layanan pendidikan masih belum bisa menyentuh semua daerah, termasuk daerah-daerah tertinggal. Dari segi kuantitas masih sangat kurang, lebih-lebih dari segi kulaitas, masih jauh dari harapan. Kita tidak bisa hanya menyalahkan pemerintah, tetapi kita harus ikut peran dalam menuntaskan masalah pendidikan di Indonesia.
Di tangan orang-orang terdidik yang memiliki rasa peduli terhadap pendidikan harapan itu digantungkan. Kita seharusnya tidak hanya bisa urun angan, tapi juga harus bisa memberi peran dan sekaligus ikut turun tangan. Kita tidak bisa terus-menerus mengutuk kegelapan, yang perlu kita lakukan adalah segera menyalakan lilin, agar apa yang ada di sekeliling kita bercahaya dengan terang benderang. Melalui semangat movement (gerakan) inilah, kita meyakini satu hal, bahwa setelah gelap akan terbit terang.
Sudah banyak saat ini, lembaga-lembaga yang didirikan untuk membantu pemerintah dalam menyelesaikan masalah pendidikan di Indonesia. Sebut misalkan Indonesia Mengajar, yang digagas oleh Anies Baswedan. Lembaga ini mengirimkan para pemuda, putra-putri terbaik di Indonesia, yang terdidik dari sisi keintelektualannya dan sisi sosial serta kepemimpinannya. Selama satu tahun mereka dikirim untuk merajut mimpi anak-anak di sudut-sudut negeri. Membawa misi untuk mencerdaskan dan mendidik mutiara-mutiara Indonesia agar kelak memiliki masa depan yang cerah dan gemilang.
Lebih daripada itu, pengalaman selama setahun itu akan membuat mereka mengerti satu hal, bahwa mengabdi untuk negeri adalah suatu kehormatan. Kelak ketika mereka menjadi seorang pemimpin, akan memiliki high class dari sisi intelektualnya, dan grass root dari sisi hatinya. Untuk melakukan hal-hal yang besar, tidak perlu harus menunggu menjadi orang besar, justru tindakan besar itulah yang kelak akan mendidik kita menjadi orang besar.
 Satu lagi contoh, lembaga yang bergerak di bidang pendidikan bernama Armada Pustaka. Begitu juga dengan gerakan 1001 buku. Mereka memiliki gerakan untuk mencerdaskan anak-anak Indonesia melalui buku. Di Indonesia, budaya membaca (culture reading) masih sangat rendah. Hal ini senada dengan data hasil survei  UNESCO kepada Negara-negara ASEAN. Hasil survei menunjukan bahwa Indonesia adalah Negara yang paling rendah minat untuk membaca. Yaitu hanya berjumlah 0,001% saja. Artinya, dari 1000 penduduk hanya satu  orang yang mempunyai minat  baca yang tinggi.
Melalui lembaga Armada Pustaka, mereka ingin meningkatkan kemampuan literasi anak bangsa. Gerakan mereka adalah, membuat perpustakaan di kapal-kapal laut. Mengajak anak-anak pesisir di daerah tertinggal, untuk membaca sambil menikmati panorama alam bahari. Sehingga minat baca anak-anak akan semakin meningkat. Begitu juga dengan gerakan 1001 buku, mereka mengajak masyarakat untuk meningkatkan keinginan dan kemampuan dalam membaca buku. Selain itu mereka juga melakukan gerakan donor buku, yang nantinya buku-buku tersebut akan dikirim dan dibagikan di daerah-daerah terpencil dan tertinggal.
Masih banyak lagi lembaga-lembaga yang didirikan dengan semangat gerakan untuk turun tangan bersama dalam membantu menyelesaikan masalah pendidikan di Indonesia, membangun sumber daya manusia Indonesia. Sebuah keniscayaan, akses pendidikan harus merata hingga ke pelosok-pelosok negeri. Tidak hanya anak-anak di kota saja yang berhak merasakan nikmatnya dunia pendidikan, namun anak-anak pelosok di daerah-daerah tertinggal juga berhak merasakan keterdidikan di bangku sekolah. Melalui semangat gerakan (movement) ini masalah-masalah pendidikan di Indonesia akan cepat terselesaikan, karena banyak orang yang turun tangan dan terlibat di dalamnya.
C.    KESIMPULAN
Semua pihak memiliki peran dan tanggung jawab untuk mengabdi kepada negeri, melalui semangat gerakan untuk membantu pemerintah menyelesaikan masalah pendidikan di Indonesia. Sebagai orang yang terdidik, mereka memiliki kewajiban untuk mendidik.
Pemerintah dan semua elemen masyarakat agar bisa bekerja sama dengan semangat gerakan (movement) untuk membangun negeri dari sektor pendidikan, semua ikut turun tangan dan memiliki ownership terhadap masalah pendidikan di Indonesia. Sehingga akses pendidikan di Indonesia akan merata hingga pelosok negeri, semua anak Indonesia akan merasakan nikmatnya pendidikan dan keterdidikan. Indonesia digadang-gadang menjadi Negara dengan bonus demografi tinggi. Jumlah anak usia produktif begitu besar. kondisi ini harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Yang kita harapkan adalah anak-anak Indonesia Big, Young, Educeted, bukan sebaliknya, Big, Young, Uneducated.





DAFTAR PUSTTAKA
Baswedan, Anis, Menjawab Tantangan Masa Depan Pendidikan Indonesia, PPI Kobe, Jepang 16 Januari 2013.
Hamalik, Oemar, Kurikulum Dan Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara, 2014.
Hasbullah, Muhammad, 2015. Kebijakan Pendidikan Dalam Perspektif Teori, Aplikasi, dan Kondisi Objektif Pendidikan di Indonesia, Jakarta: Rajawali Pers.
Suryadi, Ace, 2014. Pendidikan Indonesia Menuju 2025; Outlook: Permasalahan, Tantangan & Alternatif Kebijakan, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Wahjoetomo, Regulasi Pendidikan, Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia, 1993.
Windham, Douglas, Prof. Ph.D. & Henry Levin, Prof. Ph.D., 1990. The Analysis of Educational  Productivity: Issues in Macro Analytical Perspective, London, New York: Ballinger Publishing Company.




Minggu, 30 Oktober 2016

Menuju kesesuaian jiwa

Suara kehidupanku memang tak akan mampu menjangkau kehidupanmu, tapi marilah kita coba saling bicara, barangkali kita dapat mengusir kesepian dan tidak merasa jemu.

Mungkin kau sependapat denganku, cinta tidak datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah kesesuaian jiwa dan jika itu tak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Jika kau ingin mencari sesosok dirimu dalam ceritaku, jangan mencarinya dalam tulisan-tulisanku, kau tak akan menemukannya. Tapi rasakanlah, dalam setiap doa panjang malam-malammu, karena di waktu itulah kunyalakan kalimatku dalam tungku namamu.

Ku sebut namamu di setiap doa malamku. Biarkan ia menaiki tangga-tangga langit, mengalir bersama desir, memberi kabar tentang segala debar.

Namamu yang kusemogakan. Aku hanya ingin menyesuaikan jiwaku dengan jiwamu, antara aku dan engkau agar melebur menjadi kita.

Hingga detik ini, aku masih menunggu gayung bersambut darimu. Balasan yang dulu pernah kau ucap sebagai jawab dari tawaran cinta dariku, masih ku ingat. Jika kau ingin menyambutku, tidak berlebihan seandainya kau jelaskan maksud jawabmu dengan kata-kata “Cenderung tidak bisa”. Apa kau benar-benar tak ingin aku ada dalam kehidupanmu atau memang dengan kata-kata itu kau ingin mengatakan bahwa kau sebenarnya belum siap dengan segala konsekuensi cinta yang akan kau tanggung?

Ya. Lebih baik kau jelaskan soal itu terlebih dahulu. Agar jiwa kita sepakat untuk menuju kesesuaian.

Aku nampaknya sepakat dengan ungkapan “Wanita memang ingin selalu dimengerti”. Sungguh, aku ingin mengertimu sebatas mampuku.


Memahamimu, layaknya memahami teori atom, “Rumit”. Bukankah begitu. Pada umumnya ketika seorang laki-laki memahami seorang perempuan. Tapi aku suka dengan kerumitan, yang pada akhirnya semua kerumitan itu akan terpecahkan bukan?. 

Minggu, 09 Oktober 2016

Nyimak ceramah menggelitik Duo Ustad; Arifin Ilham dan Hasan Abdullah Sahal


Image result for kajian ustadz arifin ilham dan ustadz hasan abdullah sahalImage result for kajian ustadz arifin ilham
googleimages

Tema kajian pagi kemarin di UGM adalah “Membangun Pondasi Anak Bangsa Untuk Indonesia Yang Bermartabat”. Berawal ketika, aku dan pasukan PPK (Para Pencari Kajian) memutuskan untuk menghadiri kajian sabtu pagi di masjid UGM, dan tentu yang membuat kami semakin semangat untuk hadir adalah, dua pemateri yang sudah sangat kondang dengan spesialisasi masing-masing. Siapa yang tidak tahu dengan majelis dzikir, dengan dresscode warna putih, yang setiap kajiannya, beliau selalu mengajak para jamaah untuk berdzikir, mengucap istighfar, bermuhasabah diri, dan tentu banyak dari para jamaah akan menitikan air mata tanda penyesalan yang amat dalam atas dosa dan maksiat yang telah dilakukan. Ya, beliau adalah Ustad Arifin Ilham.

Ibnu rajab pernah mengatakan, “Kalau kita tidak mampu bersaing dengan orang sholeh dalam ibadahnya, maka bersainglah dengan pendosa yang menangis dalam istighfarnya”. Begitulah kira-kira maksud Ustad Arifin Ilham dengan majelis dzikirnya. Mengajak jamaah untuk terus beristighfar, memohon ampun kepada Rabb yang Maha Pengampun. Ketika kami sudah sampai di lokasi, aku segera mencari tempat duduk yang memungkinkan untuk khusyu’ saat mendengar ceramah.
Baru mendengar ceramah sekitar lima menit, Ust Arifin memulai dzikirnya. Ya memang aku dan pasukan PPK agak telat datangnya. Saat mengucap istighfar, bersama para jamaah lainnya, aku sudah tak bisa memikirkan apapun selain dosa dan maksiat yang sudah terlalu menggunung dan mungkin seperti debu yang tak terhitung. Mulailah mengucur air mataku, layaknya air hujan deras yang mengguyur.  “Astaghfirullaahaladziim,,,,,, Astaghfirullaahaladziim,,,, Astaghfirullaahaladziim………..,”. Ya Allah Ya Ghofur, yang ampunan-Mu lebih besar dari siksa-Mu. Dosaku menggunung tinggi, tapi Rahmat-Mu terbentang luas. “Laa Ilaaha Illa anta subhaanaka innii kuntu minadzaalimin”. Dzalim ya Allah diri ini, sangat dan amat dzalim.

Ustad Arifin Ilham menutup majelisnya dengan doa dan para jamaah mengamininya. Satu hal penting yang menjadi catatan dari ustad Arifin, indahnya hidup ini akan terasa nikmat senikmat hidup di syurga, di antara taman-taman syurga, hanya keindahan yang dipandang dan kenikmatan yang dirasakan, apabila taqwa selalu tertanam kuat dalam hati dan jiwa. Tumbuh rasa takut untuk bermaksiat, menguatkan dan menjaga diri dari hinggapan dosa.
Bukan berapa banyak dosa yang telah engkau perbuat, tapi seberapa cepat dan istiqomah langkahmu menuju ampunan-Nya.

Sejenak kuusap air mataku, kutarik nafas dalam-dalam. Merasakan rahmat dan ampunan-Nya memeluk hangat tubuhku. Aku teringat perkataan Imam Al-Ghazali, “Mengapa aku masih diberikan kenikmatan hidup hingga detik ini?. Karena Allah masih menaruh rasa cinta dan sayang kepadaku. Sehingga Allah masih memberikanku kesempatan untuk kembali ke jalan-Nya, bertobat kepada-Nya.” aku hanya ingin menjaga cinta dan sayangnya Allah padaku, hingga detik ini masih diberikan nikmat untuk hidup, tentu ini adalah suatu kesempatan agar aku kembali pada-Nya, selangkah demi selangkah istiqomah di jalan-Nya.

Lalu ceramah pun dilanjutkan, ustad Arifin Ilham menyinggung soal “Nikah”, karena memang mayoritas yang mengikuti kajian pagi itu adalah anak-anak muda yang punya prinsip SSN (Single Sampai Nikah), ya semoga saja prasangkaku benar. Hehe. Di sinilah ceramah beliau terasa 
menggelitik, mengena dan terdengar begitu apik.

Beliau mencontohkan putra beliau sendiri, yang bernama Alvin. Di usianya yang baru 17 th, sudah berani menikahi seorang perempuan mu’allaf yang awalnya sempat berdebat sengit dengannya lalu akhirnya perempuan ini menerima Islam sebagai agama yang Haq (benar). Ya, perempuan itu adalah Larissa Chow. Bukan soal berani nikahnya, tapi soal berani memutuskan di usianya yang baru 17 tahun, berhenti untuk maksiat dan menyelamatkan dirinya dengan mengambil jalan menikah.
“Dulu Alvin sebelum menikah, jarang sekali ada di rumah. Kalau ditanya, Alvin kemana?, Alvin dimana?. Selalu jawabnya, di Bandung, di Jakarta, di Jogja. Karena memang Alvin berkelana untuk memutqinkan hafalan qur’an nya. tapi setelah nikah, kalau ditanya, Alvin dimana, Alvin kemana?. Selalu jawabnya, Di Kamar, di kamar, dan di kamar.” Hahaha. Cerita dari ustad Arifin Ilham itu Sontak membuat seluruh jamaah tertawa. Tentu di kamar dengan istrinya.

“Apa yang dilakukan Alvin berduaan dengan istrinya di kamar?, Alvin sedang mengajari istrinya untuk menghafal Al-Quran. dan Alhamdulillah kini Larissa Chow sudah menghafal hampir dua juz. Dan ketika menghafal, kalau istrinya salah, hukumannya adalah di kasih ciuman sama si Alvin.” Hahaha.  Lagi-lagi jamaah tertawa mendengar cerita dari ustad Arifin, dan jamaah juga merasakan betapa manis dan mesranya hubungan rumah tangga Alvin dan Larissa Chow.

Aku sempat berfikir. Nanti kalau aku sudah menikah, menyimak hafalan quran istri, kalau salah, hukumannya gak Cuma kasih cium, tapi juga mau tak gendong keliling rumah. :-D

Intinya, nikmati manisnya iman dengan ketaatan. Jemputlah cintamu dengan cara yang berkah dan diridhoi-Nya. kalau berani menghentikan maksiat sekarang juga, kalau mau merubah yang awalnya dosa menjadi pahala, mau nunggu apa lagi?. #Cuma bisa teori. Harap maklum. Hehe.

Relevansi ceramah ustad Arifin Ilham dengan tema besar kajian pagi kemarin adalah; untuk membangun pondasi anak bangsa menuju Indonesia yang bermartabat, yaitu dengan cara membentengi diri dari perbuatan maksiat. Jaga diri dari hinggapan dosa. Kalau sudah tidak mampu menahan nafsu, jalan terbaik menuju keselamatan adalah dengan cara menikah.
Setelah ustad Arifin Ilham menutup ceramahnya, lalu beliau mohon pamit untuk melanjutkan kajian yang sama di masjid Jogokaryan Jogjakarta.

Kini aku sudah siap-siap untuk mendengarkan ceramah selanjutnya dari ustad Hasan Abdullah Sahal. Beliau lebih sering dipanggil dengan sebutan kiyai Sahal, beliau adalah salah satu pendiri Pondok Gontor. Jujur, baru pertama kalinya saya mendengar ceramah beliau secara langsung. Usia beliau sudah terbilang sepuh.

Kalimat pembuka beliau, langsung membuat jamaah heran sekaligus agak bingung. Dengan tema “Membangun pondasi anak bangsa untuk Indonesia yang Bermartabat” justru beliau memulainya dari sisi kebalikannya. “Menghancurkan Pondasi anak bangsa untuk Indonesia yang tidak bermartabat”. Beliau lebih bicara soal realita daripada idealita. Dan justru di situlah ada kesan menggelitiknya. Dan memang gaya ceramah beliau yang ku suka. Menggebu-gebu penuh dengan semangat. Ceplas-ceplos tanpa ada tedeng aling-aling, jujur apa adanya, tapi ada kontrol di dalamnya. Sungguh mengagumkan.

“Lebih enak membangun atau menghancurkan?” Tanya beliau kepada para jamaah. Dan memang membangun adalah suatu pekerjaan yang tidak semudah membalikkan telapak tangan bukan?. Tapi jika menghancurkan, itu merupakan pekerjaan yang sangat mudah untuk dilakukan.

Beliau menganalogikan seperti bangunan rumah. Bersusah-susah dan berpayah-payah orang membangun rumah, berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan. tapi amat mudah untuk menghancurkannya, bahkan hanya dengan hitungan jam. Begitulah kondisi bangsa ini, ada orang-orang yang mengupayakan dengan susah payah untuk membangun martabat bangsa, tapi di satu sisi juga ada oknum-oknum yang dengan sangat mudahnya menghancurkan martabat bangsa. Dan oknum itu adalah diri kita sendiri.

Betapa permisifnya kita dengan budaya-budaya asing. Makanan-makanan asing. Hingga gaya hidup orang asing. Dimama jati diri kita, kemana kesejatian bangsa kita?. “Sungguh, penjajahan baru telah terjadi. Bukan secara fisik seperti 71 tahun yang lalu sebelum merdeka. Tapi ini penjajahan yang lebih kejam dan menghinakan. Karena kita kehilangan jati diri, martabat diri, dan harga diri bangsa kita sendiri.” Lantang beliau dengan ceramahnya.

“Ingatlah, di balik bangunan rumah yang megah, tegak tinggi menjulang, ada pondasi yang menguatkannya. Tanpa adanya pondasi, rumah itu tidak akan bisa berdiri tegak dan kokoh. Bangsa ini bisa berdiri tegak kokoh, karena dikuatkan dengan pondasi. Apa pondasinya?. Jati diri, harga diri, dan martabat diri adalah pondasi suatu bangsa untuk bisa tegak berdiri kokoh.” Aku khusyuk mendengar ceramah beliau dengan tangan yang terus mencatat poin-poinnya.

“Indonesia itu ya harus dijajah. Bodoh kalau bangsa luar tidak menjajah Indonesia.” Semua jamaah terpaku dan heran. “Tapi lebih bodoh lagi, kalau Indonesia mau-maunya dijajah”. Hahaha. Jamaah kini dibuat ketawa dengan sindirin beliau.

“Tapi kita harus bangga, bahwa Indonesia adalah Negara yang akan masuk syurga pertama kali. Karena begitu baiknya kita dengan bangsa luar, coba berapa banyak emas yang kita sedekahkan tiap tahunnya?. Belum sumber alam yang lain, bahkan sampai TKI saja juga disedekahkan.” Hahaha. Lagi-lagi jamaah dibuat tertawa dengan selorohan beliau.

Begitulah adanya, bangsa ini sedang menuju kehancuran bukan sedang berupaya menuju sebuah pembangunan.

“Saat ini, lebih sering mana, kita membenarkan pernyataan atau menyatakan kebenaran?” Tanya beliau serius. “Membenarkan pernyataan….,” jawab jamaah hampir kompak.

Yah, begitulah adanya. Kita justru lebih sering membenarkan suatu pernyataan daripada menyatakan suatu kebenaran. Kenapa kemudian timbul kasus suap, korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Inti dari ceramah beliau adalah; membangun pondasi harus dimulai dari diri-sendiri. Pondasi itu adalah; jati diri, harga diri, nilai diri, dan martabat diri, kesemua itu harus dijaga dan dipegang teguh sebagai prinsip dalam hidup. Berani menyatakan kebenaran adalah wujud anak bangsa untuk menuju Indonesia yang bermartabat.


Rabu, 05 Oktober 2016

Ketertarikanku soal lagu-lagu kenangan dan lagu "Puisi"



Sudah lama memang, aku akan menyendiri mencari tempat yang sunyi, hanya sekedar mendengar tembang lagu “Puisi” milik Jikustik. Tidak hanya sekedar mendengar, aku juga menyanyikannya. Karena di laptopku ada aplikasi karaoke, lagu-lagu pilihannya dari tembang kenangan sejak masanya Broery Marantika sampai lagus-lagu pop yang kekinian.

Yah, aku harus jujur. Ketertarikanku dengan dunia karaoke sudah amat lama, tepatnya sejak SMP. Mungkin karena faktor keluarga yang mayoritas punya hobi menyanyi (karaoke-an). Terutama bapak. Beliau punya “Piano” yang selalu menjadi teman di kala penat mendera karena seharian sibuk kerja. Dulu sekali, ketika bapak sudah di depan piano, aku dengan semangatnya akan menyiapkan satu buah lagu yang akan kusumbangkan, tentu bapak yang mengiringinya. Bahkan hingga sekarang, setiap ada momen kumpul keluarga besar, acara karaoke-an adalah termasuk agenda wajib yang harus ada.

Entah kenapa, aku suka lagu-lagu kenangan “waktu itu”. Untuk anak seusiaku, yang masih SMP, bisa dikatakan remaja awal mungkin. Aku sudah mengoleksi kaset-kaset tembang kenangan. Seperti; The Mercy’s, Koes Plus, Dlloyd, Pance F Podang, Tommy J Pissa, Broery Marantika, Dewi Yull, ya masih banyak lagi sepertinya.

“Lagu-lagu kenangan liriknya bagus, enak didengar” pikirku waktu itu.

Sampai masuk usia dewasa awal, sampai sekarang, aku masih exited dengan lagu-lagu kenangan. Penilaianku soal lagu kenangan, liriknya terasa keluar dari relung hati yang paling dasar. Terkesan jujur dan apa adanya. Aku suka memang dengan pilihan-pilihan diksinya. Meski kenangan selalu identik dengan masa lalu, bukankah dalam menjalani hidup, kita juga perlu sesekali menengok masa lalu, ia akan mengajarkan kita banyak hal untuk menatap masa depan. Dan terbukti, lagu-lagu kenangan tetap exist sampai sekarang, seolah tak akan lekang oleh waktu.

Sampai masuk SMA, kegandrunganku soal tembang kenangan tidak bisa diragukan lagi. Dari sekian lagu, pilihan favoritku memang lagu “Ayah” karya The Mercy’s. bahkan aku pernah diminta untuk menyanyikan lagu “Ayah” di saat momentum akhirussanah (wisuda) kakak kelas di pondok dulu.
Aku dalami betul setiap liriknya, kurasakan bait demi baitnya. Saat menyanyikan lagu “Ayah”, aku betul-betul meresapinya, di tengah-tengah lagu, aku tak kuasa menahan air mata hingga tumpah ruah membasahi pipi. Lagu pun terus berlanjut sampai akhir liriknya. Suara gemuruh tepuk tangan dari para guru dan wali santri, begitu juga santri-santrinya, saat ku mengakhiri lagunya.

Kulihat banyak di antara mereka yang juga menitikan air mata. Di momentum wisuda, lagu ini kunyanyikan teruntuk para ayah yang telah berjuang demi kebahagiaan anak-anaknya. Walaupun, saat itu sosok ayahku tak berada di sisi. Terpisahkan jarak dan waktu, aku di jawa, sedangkan beliau di Sumatera.

Aku juga suka lagu “Kharisma Cinta” milik Broery Marantika dan Dewi Yull. Lagu paling romantis yang ingin kunyanyikan kelak dengan istriku. J

Begitulah. Nampaknya, lagu-lagu kenangan punya banyak arti untukku.

Kembali pada topik utama, tulisan ini sesungguhnya ingin bicara soal ketertarikanku dengan lagu “Puisi” milik Jikustik.

Kesukaanku pada lagu ini, bermula ketika Om-ku menyanyikan lagu ini teruntuk istrinya. Aduhai, syahdu sekali suasana kala itu. Aku Cuma bisa bilang, “Cie, cie, cie,….” Tepuk tangan dengan keharuan.

Yah, dari situ, lagu “Puisi” menjadi berarti untukku. Lagu ini booming tahun 2000 an. Lagu lama memang, tapi sekali lagi, lagu ini terasa jujur apa adanya. Pilihan diksinya sederhana, tapi amat dalam kesannya bagi mereka yang meresapinya.

Entah mengapa, setiap mendengar lagu ini, ingatanku tak ingin lepas dari masa lalu, tepat di mana untuk pertama kalinya aku bersua dengannya. Dan tepat juga untuk pertama kalinya, aku mengagumi sosok perempuan itu yang tampil apa adanya, sikapnya terasa jujur tak dibuat-buatnya. Tentu juga tulisan-tulisannya yang membuatku kagum akan sosoknya.

Padahal lagu ini sangat kujaga kerahasiaannya. Tapi sayang, semenjak aku ketahuan mendengar lagu ini sendiri, di tempat yang sunyi, ada teman berinisial “I_Z” yang akhirnya ikut mendegar lagu ini. Dia bilang “Ini laguku bangetttt,,.” Yah, maklum, dia ini memang cowok yang sudah lama jomlo. Termasuk aku juga sih.

Ya sudahlah, biarkanlah dua cowok yang senasib ini sama-sama mendengar lagu “Puisi”. Sesama jomlo tidak boleh saling mendahului.

"Puisi"_Jikustik_Live Acoustic Album


Rabu, 28 September 2016

Seindah senyum di pagi ini

Mungkin kita akan menggerutu, atau bahkan protes kepada Tuhan. Mengapa Ia menurunkan hujan yang begitu derasnya, disertai suara petir yang menggelegar, sampai-sampai memekakkan telinga, langit tak lagi nampak cerah dan indah, karena awan hitam telah menutupinya, ia nampak seperti akan terjadi keburukan.

Pernahkah kita berpikir sejenak untuk merenungkan, bahwa setelah turunya hujan yang disertai petir dan awan hitam, akan datang pelangi yang cantik dan elok saat dipandang.
Bukankah awan hitam itu akan segera berubah menjadi awan putih yang suci. Sehingga kita akan melihat kejernihan-kejernihan yang dinampakkan oleh langit.

Setelah keburukan, pasti akan datang kebaikan.
Setelah kesusahan, pasti akan ada kemudahan.
Bahkan satu masalah, Tuhan menyediakan dua solusi untuk menyelesaikannya.

Malam yang penuh kegelapan, rasa dingin yang menyergap, ketakutan yang terus menghantui, semua itu akan musnah, karena akan segera berganti dengan pagi yang cerah, disambut mentari yang menghangatkan, dan harapan pun merekah berkembang-kembang.


Seulas senyuman di pagi yang penuh kebahagiaan, menjadi tanda syukur atas segala nikmat Tuhan yang telah dianugerahkan.

#29 september 2016

Senin, 26 September 2016

Seindah Senyum di Pagi Ini


Apa yang sering kita keluhkan, selalu ada peluang di baliknya.
Apa yang sering membuat kita putus asa, selalu ada kebahagiaan di dalamnya.
Apa yang sering kita anggap buruk, ternyata selalu ada kebaikan setelahnya.
Manusia terlalu cepat menilai sebuah proses, bahkan ia hampir-hampir menyerah menjalaninya, padahal tinggal selangkah lagi ia akan sampai pada tujuannya.
Bukankah kita punya Tuhan, Yang Maha besar, lebih besar dari masalah-masalah hidup.
Yang maha sayang kepada kita, lebih dari sayang kita terhadap diri sendiri.
Yang Maha tahu, apa yang terbaik untuk keberlanjutan hidup kita.
Dialah segalanya, kepada-Nya kita serahkan segala urusan, dan memohon agar asa dalam hidup ini selalu ditumbuhkan.
Jika kita Yakin, bahwa Tuhan selalu menyertai langkah perjuangan setiap hamba, tentu kata “Menyerah” dan “Putus Asa” tidak ada dalam kamus kehidupan kita.
Bersegeralah menuju rahmat Tuhan, yang mampu mengalirkan asa tiada bertepi.
Sebutlah ia dalam doa, biarkan ia menaiki tangga-tangga langit. Mengalir bersama desir, memberi kabar tentang segala debar.
Sambutlah ia dengan seuntai senyum manis di setiap awal pagi.

#27 September 2016 by: Beta Pujangga Mukti


Jumat, 23 September 2016

Image result for anies sandiaga


usut punya usut.
dari sejak awal PDI P sudah geram dengan tingkah lakunya si Ahok, yang sok petentang-petenteng, sok PD maju lewat jalur independet. hingga sampai pada keputusan tidak akan mencalonkan Ahok di bursa calon Gubernur DKI.
so, PDI P segera mencari cara untuk memulai manuver politiknya. Gak mungkin kan, parpol sebesar PDI P, yang mempunyai jumlah kursi terbanyak di DPR Jakarta, tidak bisa mencalonkan untuk kursi gubernur DKI?
menurut analisis saya, bisa jadi itulah mengapa Anies Baswedan dicopot dari menteri pendidikan dan kebudayaan, agar dia bisa dicalonkan oleh PDI P untuk maju jd Gubernur DKI, sekaligus menjadi penantang Ahok. karena faktanya bu Risma yang digadang-gadang maju, justru beliau lebih memilih dan masih cinta dengan warga kota Surabaya.
tapi akhirnya, analisis saya sepertinya meleset, sekarang PDI P yang awalnya gengsinya minta ampun dukung Ahok, kini justru terang-terangan mendukung Ahok.
lantas bagaimana dengan Anies Baswedan?
sepertinya PDI P berkeyakinan penuh, bahwa Ahok tetaplah yang akan terpilih kembali, karena didukung dengan elektabilitas Ahok yang belum terkalahkan.
karena Anies dilepas oleh PDI P, akhirnya Jendral Prabowo melihat peluang itu. dan pada akhirnya, Grindra dan PKS sepakat dan mendeklarasikan telah mengusung Anies-Sandiaga sebagai cagub/cawagub DKI Jakarta.
masyarakat dan publik menyambut baik dua calon tersebut, dan membuat angin segar bagi umat Islam, bahwa InsyaAllah Jakarta tidak akan dipimpin oleh pemimpin Non Muslim.
tapi tiba-tiba suasana dibuat agak keruh lagi ketika kubu Cikeas yang tadinya pro bersatu melawan Ahok, kini mereka justru punya calon sendiri. Agus-Sylviana.
apakah ini semata-mata memang ingin berniat memecah belah?
atau justru ini termasuk langkah strategi untuk mengalahkan Ahok?
kita tahu bukan, kalau SBY sosok politikus ulung. yang kadang sering membuat mati kutu PDI P.
jika memang ini langkah strategi, baik dari kubu Gerindra-PKS atau dari kubu Cikeas, semoga ini jalan terbaik untuk mengalahkan Ahok.
semoga saja strategi ini tidak membuat Blunder.
kita tetap optimis, masih ada calon-calon pemimpin yang akan memimpin Jakarta, yang lebih cerdas, yang lebih manusiawi, dan lebih pro kepada rakyat Jakarta, bukan malah pro sama Antek-Antek Bedebah!!!.

#Suara Minor Rakyat Luar Jakarta, yang ingij Jakarta lebih baik.

Kamis, 22 September 2016

surat balasanku

                                                  Image result for menulis surat cinta

google images

Salam untuk putri langit.
Aku sudah membaca suratmu putri.
Beberapa waktu cukup lama aku tak membalas surat balasan darimu.
Bukan berarti aku tak mau membalasnya, namun lebih kepada pertimbangan psikologis.
Mungkin saat ini suasana masih nampak keruh bukan?. Biarkan keruh itu luruh menjadi bening dulu, agar kita dapat melihat kejernihan-kejernihan di dalamnya.

Sungguh, dalam surat balasanku kali ini, aku tak mau memperpanjang lagi soal siapa yang salah dan siapa yang benar. Anggap saja di antara kita sudah saling introspeksi pada diri sendiri. Setuju kan?.

Untukmu putri,
Tetaplah menjadi dirimu sendiri, prinsip dan konsep diri yang sudah engkau bangun sejak dulu, pertahankan. Saya kira, dan engkaupun pasti juga sudah memahami betul, bahwa kita tidak perlu menjadi diri menurut pandangan orang lain, atau diubah karena kondisi atau sikap dari luar. Toh yang menilaimu Tuhan, karena di situlah letak kesejatiannya dirimu. Bukan menurut penilaian manusia. maaf, aku tak bermaksud mengguruimu.

Termasuk soal perfeksionismu prihal jodoh. Pertahankan putri, justru engkau akan melihat siapa saja yang akan bertahan dan menggigihkan usahanya untuk menyandingmu.
Semoga engkau tak akan marah, jika kusematkan nama putri langit untukmu.
Sudahlah, kita sudah sama-sama dewasa bukan?. Soal memandang cinta, masihkah kita akan cengeng, lemah, atau bahkan pengecut menghadapinya. Sampai berdoa kepada Tuhan untuk dikuatkan terhadap cinta yang melemahkan.

Kalau ada orang yang lemah karena cinta, jangan salahkan cintanya, tapi salahkan orangnya. Kalau ada orang yang dibuat jatuh karena cinta, lagi-lagi jangan menghukumi salah terhadap cintanya, tapi hukumilah orangnya. Kalau ada orang yang pengecut karena cinta, sekali lagi, bukan cintanya, tapi orangnyalah yang pengecut sesungguhnya.
Aku yakin, engkau lebih tahu dalam bersikap dan memilih mana yang terbaik untuk dilakukan.
Ah, sudahlah. Lebih baik kita membicarakan karya apa yang sudah kita buat dan dedikasikan untuk memotivasi dan menggerakkan orang lain. Setuju?

Sudah berapa karya yang terlahir dari tangan dan imaji hebatmu putri?, setelah karyamu sebelumnya.

Tahukah engkau putri, aku pun sedang belajar mengikuti jejakmu yang lebih dulu melenggang di dunia kepenulisan. Kabar baiknya, karyaku kini sudah diterima oleh penerbit. Jika Allah menghendaki, sebelum aku wisuda pada 22 Oktober, karyaku sudah diterbitkan. Mohon doa darimu putri, semoga semuanya berjalan sesuai yang direncanakan.

Di suratku sebelumnya, engkau mungkin merasa seolah aku menjastifikasi sikapmu. Atau seolah aku nampak menyerah untuk meraihmu?. Bukan putri, sungguh bukan itu maksudku. Ah sudahlah, padahal aku sedang berupaya menyeimbangimu, atau lebih tepatnya berusaha menjadi seperti exspektasimu.

Engkau mungkin tahu kisah Sir Edmund Hillary, dia orang pertama kali yang berhasil mendaki dan mencapai puncak gunung tertinggi di dunia, mount Everest. Dalam usahanya mendaki Everest, ia ditemani oleh seorang pemandu lokal, Tenzing Norgay, yang berasal dari Nepal. Sebagai pemandu, Tenzing Norgay berada di depan, dan seharusnya dia yang pertama menjejakkan kaki di puncak Everest.

Tapi kata Tenzing Norgay ketika diwawancarai oleh seorang reporter, “Pada saat tinggal satu langkah mencapai puncak, saya mempersilahkan Edmund untuk menjejakkan kakinya dan menjadi orang pertama yang berhasil menaklukkan Everest.”

“Mengapa anda lakukan itu?”

Tenzing Norgay menjawab dengan keramahan yang sangat tulus. Saking tulusnya, kedua pipinya berseri-seri. “Karena itulah impian Edmund, bukan impian saya. Impian saya hanyalah berhasil membantu dan mengantar Edmund meraih impiannya.”
Apakah berlebihan, jika aku mengatakan, “Aku ingin menjadi Tenzing Norgay-mu. Aku ingin menemanimu, selalu menyertaimu dalam setiap langkahmu, sampai kamu mencapai impian terbesarmu.”

Itulah alasanku, mengapa kuyakinkan langkahku dan kugigihkan usahaku.
Tapi aku tegaskan putri, jika engkau mengatakan akan bisa bahagia ketika orang yang engkau cinta bersanding dan dimiliki orang lain. Aku pun sama, bisa.

Mungkin, inilah balasan surat yang bisa kutulis untukmu putri. Mungkin engkau bingung dengan isi suratku, hendak mengarah kemana dan apa maksudanya. Tapi, apa yang keluar dari hatiku, itulah yang mengilhamiku untuk menulis surat balasan ini.

Doaku selalu menyertaimu.

#balasan surat, untuk putri langit.