Minggu, 09 Oktober 2016

Nyimak ceramah menggelitik Duo Ustad; Arifin Ilham dan Hasan Abdullah Sahal


Image result for kajian ustadz arifin ilham dan ustadz hasan abdullah sahalImage result for kajian ustadz arifin ilham
googleimages

Tema kajian pagi kemarin di UGM adalah “Membangun Pondasi Anak Bangsa Untuk Indonesia Yang Bermartabat”. Berawal ketika, aku dan pasukan PPK (Para Pencari Kajian) memutuskan untuk menghadiri kajian sabtu pagi di masjid UGM, dan tentu yang membuat kami semakin semangat untuk hadir adalah, dua pemateri yang sudah sangat kondang dengan spesialisasi masing-masing. Siapa yang tidak tahu dengan majelis dzikir, dengan dresscode warna putih, yang setiap kajiannya, beliau selalu mengajak para jamaah untuk berdzikir, mengucap istighfar, bermuhasabah diri, dan tentu banyak dari para jamaah akan menitikan air mata tanda penyesalan yang amat dalam atas dosa dan maksiat yang telah dilakukan. Ya, beliau adalah Ustad Arifin Ilham.

Ibnu rajab pernah mengatakan, “Kalau kita tidak mampu bersaing dengan orang sholeh dalam ibadahnya, maka bersainglah dengan pendosa yang menangis dalam istighfarnya”. Begitulah kira-kira maksud Ustad Arifin Ilham dengan majelis dzikirnya. Mengajak jamaah untuk terus beristighfar, memohon ampun kepada Rabb yang Maha Pengampun. Ketika kami sudah sampai di lokasi, aku segera mencari tempat duduk yang memungkinkan untuk khusyu’ saat mendengar ceramah.
Baru mendengar ceramah sekitar lima menit, Ust Arifin memulai dzikirnya. Ya memang aku dan pasukan PPK agak telat datangnya. Saat mengucap istighfar, bersama para jamaah lainnya, aku sudah tak bisa memikirkan apapun selain dosa dan maksiat yang sudah terlalu menggunung dan mungkin seperti debu yang tak terhitung. Mulailah mengucur air mataku, layaknya air hujan deras yang mengguyur.  “Astaghfirullaahaladziim,,,,,, Astaghfirullaahaladziim,,,, Astaghfirullaahaladziim………..,”. Ya Allah Ya Ghofur, yang ampunan-Mu lebih besar dari siksa-Mu. Dosaku menggunung tinggi, tapi Rahmat-Mu terbentang luas. “Laa Ilaaha Illa anta subhaanaka innii kuntu minadzaalimin”. Dzalim ya Allah diri ini, sangat dan amat dzalim.

Ustad Arifin Ilham menutup majelisnya dengan doa dan para jamaah mengamininya. Satu hal penting yang menjadi catatan dari ustad Arifin, indahnya hidup ini akan terasa nikmat senikmat hidup di syurga, di antara taman-taman syurga, hanya keindahan yang dipandang dan kenikmatan yang dirasakan, apabila taqwa selalu tertanam kuat dalam hati dan jiwa. Tumbuh rasa takut untuk bermaksiat, menguatkan dan menjaga diri dari hinggapan dosa.
Bukan berapa banyak dosa yang telah engkau perbuat, tapi seberapa cepat dan istiqomah langkahmu menuju ampunan-Nya.

Sejenak kuusap air mataku, kutarik nafas dalam-dalam. Merasakan rahmat dan ampunan-Nya memeluk hangat tubuhku. Aku teringat perkataan Imam Al-Ghazali, “Mengapa aku masih diberikan kenikmatan hidup hingga detik ini?. Karena Allah masih menaruh rasa cinta dan sayang kepadaku. Sehingga Allah masih memberikanku kesempatan untuk kembali ke jalan-Nya, bertobat kepada-Nya.” aku hanya ingin menjaga cinta dan sayangnya Allah padaku, hingga detik ini masih diberikan nikmat untuk hidup, tentu ini adalah suatu kesempatan agar aku kembali pada-Nya, selangkah demi selangkah istiqomah di jalan-Nya.

Lalu ceramah pun dilanjutkan, ustad Arifin Ilham menyinggung soal “Nikah”, karena memang mayoritas yang mengikuti kajian pagi itu adalah anak-anak muda yang punya prinsip SSN (Single Sampai Nikah), ya semoga saja prasangkaku benar. Hehe. Di sinilah ceramah beliau terasa 
menggelitik, mengena dan terdengar begitu apik.

Beliau mencontohkan putra beliau sendiri, yang bernama Alvin. Di usianya yang baru 17 th, sudah berani menikahi seorang perempuan mu’allaf yang awalnya sempat berdebat sengit dengannya lalu akhirnya perempuan ini menerima Islam sebagai agama yang Haq (benar). Ya, perempuan itu adalah Larissa Chow. Bukan soal berani nikahnya, tapi soal berani memutuskan di usianya yang baru 17 tahun, berhenti untuk maksiat dan menyelamatkan dirinya dengan mengambil jalan menikah.
“Dulu Alvin sebelum menikah, jarang sekali ada di rumah. Kalau ditanya, Alvin kemana?, Alvin dimana?. Selalu jawabnya, di Bandung, di Jakarta, di Jogja. Karena memang Alvin berkelana untuk memutqinkan hafalan qur’an nya. tapi setelah nikah, kalau ditanya, Alvin dimana, Alvin kemana?. Selalu jawabnya, Di Kamar, di kamar, dan di kamar.” Hahaha. Cerita dari ustad Arifin Ilham itu Sontak membuat seluruh jamaah tertawa. Tentu di kamar dengan istrinya.

“Apa yang dilakukan Alvin berduaan dengan istrinya di kamar?, Alvin sedang mengajari istrinya untuk menghafal Al-Quran. dan Alhamdulillah kini Larissa Chow sudah menghafal hampir dua juz. Dan ketika menghafal, kalau istrinya salah, hukumannya adalah di kasih ciuman sama si Alvin.” Hahaha.  Lagi-lagi jamaah tertawa mendengar cerita dari ustad Arifin, dan jamaah juga merasakan betapa manis dan mesranya hubungan rumah tangga Alvin dan Larissa Chow.

Aku sempat berfikir. Nanti kalau aku sudah menikah, menyimak hafalan quran istri, kalau salah, hukumannya gak Cuma kasih cium, tapi juga mau tak gendong keliling rumah. :-D

Intinya, nikmati manisnya iman dengan ketaatan. Jemputlah cintamu dengan cara yang berkah dan diridhoi-Nya. kalau berani menghentikan maksiat sekarang juga, kalau mau merubah yang awalnya dosa menjadi pahala, mau nunggu apa lagi?. #Cuma bisa teori. Harap maklum. Hehe.

Relevansi ceramah ustad Arifin Ilham dengan tema besar kajian pagi kemarin adalah; untuk membangun pondasi anak bangsa menuju Indonesia yang bermartabat, yaitu dengan cara membentengi diri dari perbuatan maksiat. Jaga diri dari hinggapan dosa. Kalau sudah tidak mampu menahan nafsu, jalan terbaik menuju keselamatan adalah dengan cara menikah.
Setelah ustad Arifin Ilham menutup ceramahnya, lalu beliau mohon pamit untuk melanjutkan kajian yang sama di masjid Jogokaryan Jogjakarta.

Kini aku sudah siap-siap untuk mendengarkan ceramah selanjutnya dari ustad Hasan Abdullah Sahal. Beliau lebih sering dipanggil dengan sebutan kiyai Sahal, beliau adalah salah satu pendiri Pondok Gontor. Jujur, baru pertama kalinya saya mendengar ceramah beliau secara langsung. Usia beliau sudah terbilang sepuh.

Kalimat pembuka beliau, langsung membuat jamaah heran sekaligus agak bingung. Dengan tema “Membangun pondasi anak bangsa untuk Indonesia yang Bermartabat” justru beliau memulainya dari sisi kebalikannya. “Menghancurkan Pondasi anak bangsa untuk Indonesia yang tidak bermartabat”. Beliau lebih bicara soal realita daripada idealita. Dan justru di situlah ada kesan menggelitiknya. Dan memang gaya ceramah beliau yang ku suka. Menggebu-gebu penuh dengan semangat. Ceplas-ceplos tanpa ada tedeng aling-aling, jujur apa adanya, tapi ada kontrol di dalamnya. Sungguh mengagumkan.

“Lebih enak membangun atau menghancurkan?” Tanya beliau kepada para jamaah. Dan memang membangun adalah suatu pekerjaan yang tidak semudah membalikkan telapak tangan bukan?. Tapi jika menghancurkan, itu merupakan pekerjaan yang sangat mudah untuk dilakukan.

Beliau menganalogikan seperti bangunan rumah. Bersusah-susah dan berpayah-payah orang membangun rumah, berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan. tapi amat mudah untuk menghancurkannya, bahkan hanya dengan hitungan jam. Begitulah kondisi bangsa ini, ada orang-orang yang mengupayakan dengan susah payah untuk membangun martabat bangsa, tapi di satu sisi juga ada oknum-oknum yang dengan sangat mudahnya menghancurkan martabat bangsa. Dan oknum itu adalah diri kita sendiri.

Betapa permisifnya kita dengan budaya-budaya asing. Makanan-makanan asing. Hingga gaya hidup orang asing. Dimama jati diri kita, kemana kesejatian bangsa kita?. “Sungguh, penjajahan baru telah terjadi. Bukan secara fisik seperti 71 tahun yang lalu sebelum merdeka. Tapi ini penjajahan yang lebih kejam dan menghinakan. Karena kita kehilangan jati diri, martabat diri, dan harga diri bangsa kita sendiri.” Lantang beliau dengan ceramahnya.

“Ingatlah, di balik bangunan rumah yang megah, tegak tinggi menjulang, ada pondasi yang menguatkannya. Tanpa adanya pondasi, rumah itu tidak akan bisa berdiri tegak dan kokoh. Bangsa ini bisa berdiri tegak kokoh, karena dikuatkan dengan pondasi. Apa pondasinya?. Jati diri, harga diri, dan martabat diri adalah pondasi suatu bangsa untuk bisa tegak berdiri kokoh.” Aku khusyuk mendengar ceramah beliau dengan tangan yang terus mencatat poin-poinnya.

“Indonesia itu ya harus dijajah. Bodoh kalau bangsa luar tidak menjajah Indonesia.” Semua jamaah terpaku dan heran. “Tapi lebih bodoh lagi, kalau Indonesia mau-maunya dijajah”. Hahaha. Jamaah kini dibuat ketawa dengan sindirin beliau.

“Tapi kita harus bangga, bahwa Indonesia adalah Negara yang akan masuk syurga pertama kali. Karena begitu baiknya kita dengan bangsa luar, coba berapa banyak emas yang kita sedekahkan tiap tahunnya?. Belum sumber alam yang lain, bahkan sampai TKI saja juga disedekahkan.” Hahaha. Lagi-lagi jamaah dibuat tertawa dengan selorohan beliau.

Begitulah adanya, bangsa ini sedang menuju kehancuran bukan sedang berupaya menuju sebuah pembangunan.

“Saat ini, lebih sering mana, kita membenarkan pernyataan atau menyatakan kebenaran?” Tanya beliau serius. “Membenarkan pernyataan….,” jawab jamaah hampir kompak.

Yah, begitulah adanya. Kita justru lebih sering membenarkan suatu pernyataan daripada menyatakan suatu kebenaran. Kenapa kemudian timbul kasus suap, korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Inti dari ceramah beliau adalah; membangun pondasi harus dimulai dari diri-sendiri. Pondasi itu adalah; jati diri, harga diri, nilai diri, dan martabat diri, kesemua itu harus dijaga dan dipegang teguh sebagai prinsip dalam hidup. Berani menyatakan kebenaran adalah wujud anak bangsa untuk menuju Indonesia yang bermartabat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar