
googleimages
Tema kajian
pagi kemarin di UGM adalah “Membangun Pondasi Anak Bangsa Untuk Indonesia Yang
Bermartabat”. Berawal ketika, aku dan pasukan PPK (Para Pencari Kajian)
memutuskan untuk menghadiri kajian sabtu pagi di masjid UGM, dan tentu yang
membuat kami semakin semangat untuk hadir adalah, dua pemateri yang sudah
sangat kondang dengan spesialisasi masing-masing. Siapa yang tidak tahu dengan
majelis dzikir, dengan dresscode warna putih, yang setiap kajiannya, beliau
selalu mengajak para jamaah untuk berdzikir, mengucap istighfar, bermuhasabah
diri, dan tentu banyak dari para jamaah akan menitikan air mata tanda
penyesalan yang amat dalam atas dosa dan maksiat yang telah dilakukan. Ya,
beliau adalah Ustad Arifin Ilham.
Ibnu rajab
pernah mengatakan, “Kalau kita tidak mampu bersaing dengan orang sholeh dalam
ibadahnya, maka bersainglah dengan pendosa yang menangis dalam istighfarnya”. Begitulah
kira-kira maksud Ustad Arifin Ilham dengan majelis dzikirnya. Mengajak jamaah
untuk terus beristighfar, memohon ampun kepada Rabb yang Maha Pengampun. Ketika
kami sudah sampai di lokasi, aku segera mencari tempat duduk yang memungkinkan
untuk khusyu’ saat mendengar ceramah.
Baru mendengar
ceramah sekitar lima menit, Ust Arifin memulai dzikirnya. Ya memang aku dan
pasukan PPK agak telat datangnya. Saat mengucap istighfar, bersama para jamaah
lainnya, aku sudah tak bisa memikirkan apapun selain dosa dan maksiat yang
sudah terlalu menggunung dan mungkin seperti debu yang tak terhitung. Mulailah mengucur
air mataku, layaknya air hujan deras yang mengguyur. “Astaghfirullaahaladziim,,,,,, Astaghfirullaahaladziim,,,,
Astaghfirullaahaladziim………..,”. Ya Allah Ya Ghofur, yang ampunan-Mu lebih besar
dari siksa-Mu. Dosaku menggunung tinggi, tapi Rahmat-Mu terbentang luas. “Laa Ilaaha
Illa anta subhaanaka innii kuntu minadzaalimin”. Dzalim ya Allah diri ini,
sangat dan amat dzalim.
Ustad Arifin
Ilham menutup majelisnya dengan doa dan para jamaah mengamininya. Satu hal penting
yang menjadi catatan dari ustad Arifin, indahnya hidup ini akan terasa nikmat
senikmat hidup di syurga, di antara taman-taman syurga, hanya keindahan yang
dipandang dan kenikmatan yang dirasakan, apabila taqwa selalu tertanam kuat
dalam hati dan jiwa. Tumbuh rasa takut untuk bermaksiat, menguatkan dan menjaga
diri dari hinggapan dosa.
Bukan berapa
banyak dosa yang telah engkau perbuat, tapi seberapa cepat dan istiqomah
langkahmu menuju ampunan-Nya.
Sejenak kuusap
air mataku, kutarik nafas dalam-dalam. Merasakan rahmat dan ampunan-Nya memeluk
hangat tubuhku. Aku teringat perkataan Imam Al-Ghazali, “Mengapa aku masih
diberikan kenikmatan hidup hingga detik ini?. Karena Allah masih menaruh rasa cinta
dan sayang kepadaku. Sehingga Allah masih memberikanku kesempatan untuk kembali
ke jalan-Nya, bertobat kepada-Nya.” aku hanya ingin menjaga cinta dan sayangnya
Allah padaku, hingga detik ini masih diberikan nikmat untuk hidup, tentu ini
adalah suatu kesempatan agar aku kembali pada-Nya, selangkah demi selangkah
istiqomah di jalan-Nya.
Lalu ceramah
pun dilanjutkan, ustad Arifin Ilham menyinggung soal “Nikah”, karena memang
mayoritas yang mengikuti kajian pagi itu adalah anak-anak muda yang punya
prinsip SSN (Single Sampai Nikah), ya semoga saja prasangkaku benar. Hehe. Di sinilah
ceramah beliau terasa
menggelitik, mengena dan terdengar begitu apik.
Beliau mencontohkan
putra beliau sendiri, yang bernama Alvin. Di usianya yang baru 17 th, sudah
berani menikahi seorang perempuan mu’allaf yang awalnya sempat berdebat sengit
dengannya lalu akhirnya perempuan ini menerima Islam sebagai agama yang Haq
(benar). Ya, perempuan itu adalah Larissa Chow. Bukan soal berani nikahnya,
tapi soal berani memutuskan di usianya yang baru 17 tahun, berhenti untuk
maksiat dan menyelamatkan dirinya dengan mengambil jalan menikah.
“Dulu Alvin
sebelum menikah, jarang sekali ada di rumah. Kalau ditanya, Alvin kemana?,
Alvin dimana?. Selalu jawabnya, di Bandung, di Jakarta, di Jogja. Karena memang
Alvin berkelana untuk memutqinkan hafalan qur’an nya. tapi setelah nikah, kalau
ditanya, Alvin dimana, Alvin kemana?. Selalu jawabnya, Di Kamar, di kamar, dan
di kamar.” Hahaha. Cerita dari ustad Arifin Ilham itu Sontak membuat seluruh
jamaah tertawa. Tentu di kamar dengan istrinya.
“Apa yang
dilakukan Alvin berduaan dengan istrinya di kamar?, Alvin sedang mengajari
istrinya untuk menghafal Al-Quran. dan Alhamdulillah kini Larissa Chow sudah
menghafal hampir dua juz. Dan ketika menghafal, kalau istrinya salah,
hukumannya adalah di kasih ciuman sama si Alvin.” Hahaha. Lagi-lagi jamaah tertawa mendengar cerita dari
ustad Arifin, dan jamaah juga merasakan betapa manis dan mesranya hubungan
rumah tangga Alvin dan Larissa Chow.
Aku sempat
berfikir. Nanti kalau aku sudah menikah, menyimak hafalan quran istri, kalau
salah, hukumannya gak Cuma kasih cium, tapi juga mau tak gendong keliling
rumah. :-D
Intinya,
nikmati manisnya iman dengan ketaatan. Jemputlah cintamu dengan cara yang
berkah dan diridhoi-Nya. kalau berani menghentikan maksiat sekarang juga, kalau
mau merubah yang awalnya dosa menjadi pahala, mau nunggu apa lagi?. #Cuma bisa
teori. Harap maklum. Hehe.
Relevansi ceramah
ustad Arifin Ilham dengan tema besar kajian pagi kemarin adalah; untuk
membangun pondasi anak bangsa menuju Indonesia yang bermartabat, yaitu dengan
cara membentengi diri dari perbuatan maksiat. Jaga diri dari hinggapan dosa. Kalau
sudah tidak mampu menahan nafsu, jalan terbaik menuju keselamatan adalah dengan
cara menikah.
Setelah ustad
Arifin Ilham menutup ceramahnya, lalu beliau mohon pamit untuk melanjutkan
kajian yang sama di masjid Jogokaryan Jogjakarta.
Kini aku
sudah siap-siap untuk mendengarkan ceramah selanjutnya dari ustad Hasan
Abdullah Sahal. Beliau lebih sering dipanggil dengan sebutan kiyai Sahal,
beliau adalah salah satu pendiri Pondok Gontor. Jujur, baru pertama kalinya
saya mendengar ceramah beliau secara langsung. Usia beliau sudah terbilang
sepuh.
Kalimat pembuka
beliau, langsung membuat jamaah heran sekaligus agak bingung. Dengan tema “Membangun
pondasi anak bangsa untuk Indonesia yang Bermartabat” justru beliau memulainya
dari sisi kebalikannya. “Menghancurkan Pondasi anak bangsa untuk Indonesia yang
tidak bermartabat”. Beliau lebih bicara soal realita daripada idealita. Dan justru
di situlah ada kesan menggelitiknya. Dan memang gaya ceramah beliau yang ku
suka. Menggebu-gebu penuh dengan semangat. Ceplas-ceplos tanpa ada tedeng
aling-aling, jujur apa adanya, tapi ada kontrol di dalamnya. Sungguh mengagumkan.
“Lebih enak
membangun atau menghancurkan?” Tanya beliau kepada para jamaah. Dan memang
membangun adalah suatu pekerjaan yang tidak semudah membalikkan telapak tangan
bukan?. Tapi jika menghancurkan, itu merupakan pekerjaan yang sangat mudah
untuk dilakukan.
Beliau menganalogikan
seperti bangunan rumah. Bersusah-susah dan berpayah-payah orang membangun
rumah, berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan. tapi amat mudah untuk
menghancurkannya, bahkan hanya dengan hitungan jam. Begitulah kondisi bangsa
ini, ada orang-orang yang mengupayakan dengan susah payah untuk membangun
martabat bangsa, tapi di satu sisi juga ada oknum-oknum yang dengan sangat
mudahnya menghancurkan martabat bangsa. Dan oknum itu adalah diri kita sendiri.
Betapa permisifnya
kita dengan budaya-budaya asing. Makanan-makanan asing. Hingga gaya hidup orang
asing. Dimama jati diri kita, kemana kesejatian bangsa kita?. “Sungguh,
penjajahan baru telah terjadi. Bukan secara fisik seperti 71 tahun yang lalu
sebelum merdeka. Tapi ini penjajahan yang lebih kejam dan menghinakan. Karena kita
kehilangan jati diri, martabat diri, dan harga diri bangsa kita sendiri.” Lantang
beliau dengan ceramahnya.
“Ingatlah,
di balik bangunan rumah yang megah, tegak tinggi menjulang, ada pondasi yang
menguatkannya. Tanpa adanya pondasi, rumah itu tidak akan bisa berdiri tegak
dan kokoh. Bangsa ini bisa berdiri tegak kokoh, karena dikuatkan dengan
pondasi. Apa pondasinya?. Jati diri, harga diri, dan martabat diri adalah
pondasi suatu bangsa untuk bisa tegak berdiri kokoh.” Aku khusyuk mendengar
ceramah beliau dengan tangan yang terus mencatat poin-poinnya.
“Indonesia
itu ya harus dijajah. Bodoh kalau bangsa luar tidak menjajah Indonesia.” Semua jamaah
terpaku dan heran. “Tapi lebih bodoh lagi, kalau Indonesia mau-maunya dijajah”.
Hahaha. Jamaah kini dibuat ketawa dengan sindirin beliau.
“Tapi kita
harus bangga, bahwa Indonesia adalah Negara yang akan masuk syurga pertama kali.
Karena begitu baiknya kita dengan bangsa luar, coba berapa banyak emas yang
kita sedekahkan tiap tahunnya?. Belum sumber alam yang lain, bahkan sampai TKI
saja juga disedekahkan.” Hahaha. Lagi-lagi jamaah dibuat tertawa dengan
selorohan beliau.
Begitulah adanya,
bangsa ini sedang menuju kehancuran bukan sedang berupaya menuju sebuah
pembangunan.
“Saat ini,
lebih sering mana, kita membenarkan pernyataan atau menyatakan kebenaran?” Tanya
beliau serius. “Membenarkan pernyataan….,” jawab jamaah hampir kompak.
Yah,
begitulah adanya. Kita justru lebih sering membenarkan suatu pernyataan
daripada menyatakan suatu kebenaran. Kenapa kemudian timbul kasus suap,
korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Inti dari
ceramah beliau adalah; membangun pondasi harus dimulai dari diri-sendiri. Pondasi
itu adalah; jati diri, harga diri, nilai diri, dan martabat diri, kesemua itu
harus dijaga dan dipegang teguh sebagai prinsip dalam hidup. Berani menyatakan
kebenaran adalah wujud anak bangsa untuk menuju Indonesia yang bermartabat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar