Rabu, 05 Oktober 2016

Ketertarikanku soal lagu-lagu kenangan dan lagu "Puisi"



Sudah lama memang, aku akan menyendiri mencari tempat yang sunyi, hanya sekedar mendengar tembang lagu “Puisi” milik Jikustik. Tidak hanya sekedar mendengar, aku juga menyanyikannya. Karena di laptopku ada aplikasi karaoke, lagu-lagu pilihannya dari tembang kenangan sejak masanya Broery Marantika sampai lagus-lagu pop yang kekinian.

Yah, aku harus jujur. Ketertarikanku dengan dunia karaoke sudah amat lama, tepatnya sejak SMP. Mungkin karena faktor keluarga yang mayoritas punya hobi menyanyi (karaoke-an). Terutama bapak. Beliau punya “Piano” yang selalu menjadi teman di kala penat mendera karena seharian sibuk kerja. Dulu sekali, ketika bapak sudah di depan piano, aku dengan semangatnya akan menyiapkan satu buah lagu yang akan kusumbangkan, tentu bapak yang mengiringinya. Bahkan hingga sekarang, setiap ada momen kumpul keluarga besar, acara karaoke-an adalah termasuk agenda wajib yang harus ada.

Entah kenapa, aku suka lagu-lagu kenangan “waktu itu”. Untuk anak seusiaku, yang masih SMP, bisa dikatakan remaja awal mungkin. Aku sudah mengoleksi kaset-kaset tembang kenangan. Seperti; The Mercy’s, Koes Plus, Dlloyd, Pance F Podang, Tommy J Pissa, Broery Marantika, Dewi Yull, ya masih banyak lagi sepertinya.

“Lagu-lagu kenangan liriknya bagus, enak didengar” pikirku waktu itu.

Sampai masuk usia dewasa awal, sampai sekarang, aku masih exited dengan lagu-lagu kenangan. Penilaianku soal lagu kenangan, liriknya terasa keluar dari relung hati yang paling dasar. Terkesan jujur dan apa adanya. Aku suka memang dengan pilihan-pilihan diksinya. Meski kenangan selalu identik dengan masa lalu, bukankah dalam menjalani hidup, kita juga perlu sesekali menengok masa lalu, ia akan mengajarkan kita banyak hal untuk menatap masa depan. Dan terbukti, lagu-lagu kenangan tetap exist sampai sekarang, seolah tak akan lekang oleh waktu.

Sampai masuk SMA, kegandrunganku soal tembang kenangan tidak bisa diragukan lagi. Dari sekian lagu, pilihan favoritku memang lagu “Ayah” karya The Mercy’s. bahkan aku pernah diminta untuk menyanyikan lagu “Ayah” di saat momentum akhirussanah (wisuda) kakak kelas di pondok dulu.
Aku dalami betul setiap liriknya, kurasakan bait demi baitnya. Saat menyanyikan lagu “Ayah”, aku betul-betul meresapinya, di tengah-tengah lagu, aku tak kuasa menahan air mata hingga tumpah ruah membasahi pipi. Lagu pun terus berlanjut sampai akhir liriknya. Suara gemuruh tepuk tangan dari para guru dan wali santri, begitu juga santri-santrinya, saat ku mengakhiri lagunya.

Kulihat banyak di antara mereka yang juga menitikan air mata. Di momentum wisuda, lagu ini kunyanyikan teruntuk para ayah yang telah berjuang demi kebahagiaan anak-anaknya. Walaupun, saat itu sosok ayahku tak berada di sisi. Terpisahkan jarak dan waktu, aku di jawa, sedangkan beliau di Sumatera.

Aku juga suka lagu “Kharisma Cinta” milik Broery Marantika dan Dewi Yull. Lagu paling romantis yang ingin kunyanyikan kelak dengan istriku. J

Begitulah. Nampaknya, lagu-lagu kenangan punya banyak arti untukku.

Kembali pada topik utama, tulisan ini sesungguhnya ingin bicara soal ketertarikanku dengan lagu “Puisi” milik Jikustik.

Kesukaanku pada lagu ini, bermula ketika Om-ku menyanyikan lagu ini teruntuk istrinya. Aduhai, syahdu sekali suasana kala itu. Aku Cuma bisa bilang, “Cie, cie, cie,….” Tepuk tangan dengan keharuan.

Yah, dari situ, lagu “Puisi” menjadi berarti untukku. Lagu ini booming tahun 2000 an. Lagu lama memang, tapi sekali lagi, lagu ini terasa jujur apa adanya. Pilihan diksinya sederhana, tapi amat dalam kesannya bagi mereka yang meresapinya.

Entah mengapa, setiap mendengar lagu ini, ingatanku tak ingin lepas dari masa lalu, tepat di mana untuk pertama kalinya aku bersua dengannya. Dan tepat juga untuk pertama kalinya, aku mengagumi sosok perempuan itu yang tampil apa adanya, sikapnya terasa jujur tak dibuat-buatnya. Tentu juga tulisan-tulisannya yang membuatku kagum akan sosoknya.

Padahal lagu ini sangat kujaga kerahasiaannya. Tapi sayang, semenjak aku ketahuan mendengar lagu ini sendiri, di tempat yang sunyi, ada teman berinisial “I_Z” yang akhirnya ikut mendegar lagu ini. Dia bilang “Ini laguku bangetttt,,.” Yah, maklum, dia ini memang cowok yang sudah lama jomlo. Termasuk aku juga sih.

Ya sudahlah, biarkanlah dua cowok yang senasib ini sama-sama mendengar lagu “Puisi”. Sesama jomlo tidak boleh saling mendahului.

"Puisi"_Jikustik_Live Acoustic Album


Tidak ada komentar:

Posting Komentar