Sudah lama memang, aku akan menyendiri mencari tempat yang
sunyi, hanya sekedar mendengar tembang lagu “Puisi” milik Jikustik. Tidak hanya
sekedar mendengar, aku juga menyanyikannya. Karena di laptopku ada aplikasi
karaoke, lagu-lagu pilihannya dari tembang kenangan sejak masanya Broery
Marantika sampai lagus-lagu pop yang kekinian.
Yah, aku harus jujur. Ketertarikanku dengan dunia karaoke
sudah amat lama, tepatnya sejak SMP. Mungkin karena faktor keluarga yang
mayoritas punya hobi menyanyi (karaoke-an). Terutama bapak. Beliau punya “Piano”
yang selalu menjadi teman di kala penat mendera karena seharian sibuk kerja. Dulu
sekali, ketika bapak sudah di depan piano, aku dengan semangatnya akan
menyiapkan satu buah lagu yang akan kusumbangkan, tentu bapak yang mengiringinya.
Bahkan hingga sekarang, setiap ada momen kumpul keluarga besar, acara
karaoke-an adalah termasuk agenda wajib yang harus ada.
Entah kenapa, aku suka lagu-lagu kenangan “waktu itu”. Untuk anak
seusiaku, yang masih SMP, bisa dikatakan remaja awal mungkin. Aku sudah
mengoleksi kaset-kaset tembang kenangan. Seperti; The Mercy’s, Koes Plus,
Dlloyd, Pance F Podang, Tommy J Pissa, Broery Marantika, Dewi Yull, ya masih
banyak lagi sepertinya.
“Lagu-lagu kenangan liriknya bagus, enak didengar” pikirku
waktu itu.
Sampai masuk usia dewasa awal, sampai sekarang, aku masih exited
dengan lagu-lagu kenangan. Penilaianku soal lagu kenangan, liriknya terasa
keluar dari relung hati yang paling dasar. Terkesan jujur dan apa adanya. Aku suka
memang dengan pilihan-pilihan diksinya. Meski kenangan selalu identik dengan
masa lalu, bukankah dalam menjalani hidup, kita juga perlu sesekali menengok
masa lalu, ia akan mengajarkan kita banyak hal untuk menatap masa depan. Dan terbukti,
lagu-lagu kenangan tetap exist sampai sekarang, seolah tak akan lekang oleh
waktu.
Sampai masuk SMA, kegandrunganku soal tembang kenangan tidak
bisa diragukan lagi. Dari sekian lagu, pilihan favoritku memang lagu “Ayah”
karya The Mercy’s. bahkan aku pernah diminta untuk menyanyikan lagu “Ayah” di
saat momentum akhirussanah (wisuda) kakak kelas di pondok dulu.
Aku dalami betul setiap liriknya, kurasakan bait demi
baitnya. Saat menyanyikan lagu “Ayah”, aku betul-betul meresapinya, di
tengah-tengah lagu, aku tak kuasa menahan air mata hingga tumpah ruah membasahi
pipi. Lagu pun terus berlanjut sampai akhir liriknya. Suara gemuruh tepuk
tangan dari para guru dan wali santri, begitu juga santri-santrinya, saat ku
mengakhiri lagunya.
Kulihat banyak di antara mereka yang juga menitikan air mata.
Di momentum wisuda, lagu ini kunyanyikan teruntuk para ayah yang telah berjuang
demi kebahagiaan anak-anaknya. Walaupun, saat itu sosok ayahku tak berada di
sisi. Terpisahkan jarak dan waktu, aku di jawa, sedangkan beliau di Sumatera.
Aku juga suka lagu “Kharisma Cinta” milik Broery Marantika
dan Dewi Yull. Lagu paling romantis yang ingin kunyanyikan kelak dengan
istriku. J
Begitulah. Nampaknya, lagu-lagu kenangan punya banyak arti
untukku.
Kembali pada topik utama, tulisan ini sesungguhnya ingin
bicara soal ketertarikanku dengan lagu “Puisi” milik Jikustik.
Kesukaanku pada lagu ini, bermula ketika Om-ku menyanyikan
lagu ini teruntuk istrinya. Aduhai, syahdu sekali suasana kala itu. Aku Cuma bisa
bilang, “Cie, cie, cie,….” Tepuk tangan dengan keharuan.
Yah, dari situ, lagu “Puisi” menjadi berarti untukku. Lagu
ini booming tahun 2000 an. Lagu lama memang, tapi sekali lagi, lagu ini terasa
jujur apa adanya. Pilihan diksinya sederhana, tapi amat dalam kesannya bagi
mereka yang meresapinya.
Entah mengapa, setiap mendengar lagu ini, ingatanku tak ingin
lepas dari masa lalu, tepat di mana untuk pertama kalinya aku bersua dengannya.
Dan tepat juga untuk pertama kalinya, aku mengagumi sosok perempuan itu yang
tampil apa adanya, sikapnya terasa jujur tak dibuat-buatnya. Tentu juga
tulisan-tulisannya yang membuatku kagum akan sosoknya.
Padahal lagu ini sangat kujaga kerahasiaannya. Tapi sayang,
semenjak aku ketahuan mendengar lagu ini sendiri, di tempat yang sunyi, ada
teman berinisial “I_Z” yang akhirnya ikut mendegar lagu ini. Dia bilang “Ini
laguku bangetttt,,.” Yah, maklum, dia ini memang cowok yang sudah lama jomlo. Termasuk
aku juga sih.
Ya sudahlah, biarkanlah dua cowok yang senasib ini sama-sama
mendengar lagu “Puisi”. Sesama jomlo tidak boleh saling mendahului.
"Puisi"_Jikustik_Live Acoustic Album
"Puisi"_Jikustik_Live Acoustic Album

Tidak ada komentar:
Posting Komentar