Selasa, 24 Februari 2015

Ditulis oleh:
Beta Pujangga Mukti
(Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah)
1.      Komunikasi bersifat prosesual
Contoh :
Ini adalah kisah nyata yang saya ambil dari kehidupan keluarga saya sendiri. Kami dulu sekeluarga tinggal dan menetap di Palembang, kota Wong Kito Galo. Ayah saya dulu adalah seorang kepala desa, beliau sering pergi ke kota memenuhi panggilan Bupati atau Gubernur untuk melakukan rapat atau sekedar pemberian arahan. Dari sinilah ayah saya banyak mengenal kawan, baik kawan seperjuangan sebagai kepala desa maupun kawan diluar jabatan beliau. Beliau banyak melakukan komunikasi dengan orang-orang yang beliau anggap orang besar. Dari situlah ayah saya mendapat banyak inspirasi kehidupan.
Sebelum mengenal orang-orang besar tersebut, ayah saya memang masih buta tentang banyak  hal. Salah satunya adalah tentang apa arti sebuah pendidikan. Bagi ayah dulu, pendidikan tidak terlalu penting, ayah berfikir terlalu pragmatis tentang pendidikan. Bahkan beliau tidak ada gambaran sedikit pun untuk mengantarkan anak-anaknya ke depan pintu gerbang pendidikan (hehe). Ayah bisa menjadi kepala desa pun, tanpa perlu pendidikan tinggi. Beliau hanya tamatan SMP, tapi bisa menduduki kursi jabatan kepala desa. Karena dulu memang, untuk menjadi kepala desa, tidak disyaratkan harus sarjana. Yang penting adalah kredibel dan punya kemampuan memimpin dengan baik, serta mendapat dukungan dari rakyat.
Setelah ayah saya mengenal banyak kawan orang-orang hebat, di situlah beliau memandang dan berkeyakinan bahwa pendidikan sangatlah penting untuk mengantarkan seseorang mendapat peluang yang lebih baik dalam meraih kesuksesan. Berangkat dari pengalaman itu, ayah saya lantas ingin mengantarkan anak-anaknya meraih hidup yang lebih baik dengan pendidikan. Alhamdulillah, saya dan saudara-saudara saya sampai sekarang sudah menikmati indahnya pendidikan. Terima kasih ayah.  
2.      Komunikasi bersifat irreversibel
Contoh:
            Saya adalah seorang mahasiswa. Bagi seorang mahasiswa, momen-momen yang paling ditunggu adalah saat liburan tiba. Saya pribadi lebih suka dan memilih liburan di rumah. Jadi ketika liburan ujian akhir semester tiba, saya ingin segera pulang ke surga duniaku, yaitu my home. Kenapa saya lebih memilih menghabiskan liburan di rumah?, karena di situlah saya menemukan cinta. Cinta orang tua kepada anak-anaknya, cinta dan bakti anak kepada orang tua, cinta kepada sesama saudara kandung, semua karena cinta. Di setiap titik rumah, selalu kutemukan dan kurasakan nuansa cinta. Bagi saya, wujud cinta paling besar yang diberikan orang tua kepada saya adalah petuah nasehat. Karena bagi saya, orang tua yang hebat bukanlah yang memiliki harta sejagat, tapi orang tua yang hebat adalah yang memiliki sejagat nasehat. Nasehat-nasehat hebat dari orang tua, sampai kapanpun tidak akan pernah terlupakan. Karena nasehat itu benar-benar masuk dalam hati dan pikiran.
            Ada satu nasehat atau pesan yang paling tidak bisa saya lupakan sampai sekarang dan sampai kapanpun. Yaitu perkataan ayah yang bunyinya seperti ini, “Tidak ada hal yang paling saya banggakan di dunia ini, kecuali hanya kalian putra-putriku. Biarlah orang tua ini kehabisan harta, yang penting anak-anaknya bisa berilmu, menjadi sukses. Ayah tidak bisa menjanjikan harta buat kalian, tapi ayah berjanji, akan memberikan yang terbaik buat kalian, yaitu ilmu”.
            Nasehat atau pesan tersebut sangat membekas dalam hati saya, dan dengan bekal sejagat nasehat dari orang tua hebat, saya percaya kelak saya juga akan menjadi orang hebat. Amiin.
3.      Komunikasi bersifat bukan panasea
Pernah suatu ketika, saat saya menjabat sebagai ketua IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) di SMA. Saya beserta jajaran pengurus membuat aturan-aturan yang harus dijalankan oleh setiap anggota IPM. Sebagai manusia biasa, tentu saya punya khilaf dan salah. Ketika itu saya pernah melanggar aturan yang pernah saya buat sendiri. Akibatnya ketika saya menegur salah seorang anggota, karena melanggar aturan, dia malah menegur balik saya, “Loh, mas aja kemarin pernah melanggar aturan yang mas buat sendiri, padahal mas sebagai ketua IPM, seharusnya memberi tauladan yang baik”, mendengar kata-kata itu saya menjadi malu sendiri. “Haduh, kena deh” batin saya. Saat kejadian itu, saya benar-benar meminta maaf kepada seluruh anggota atas kesalahan yang saya buat.
Pesan moral: Mana mungkin semua bawahan anda patuh terhadap peraturan, kalau anda sendiri sebagai atasan tidak mematuhi aturan yang anda buat sendiri. Kalau ingin semua bawahan anda menuruti semua aturan yang anda buat, maka anda harus konsisten dan memberikan suri tauladan yang baik.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar