Ditulis oleh:
Beta Pujangga Mukti
(Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah)
1. Komunikasi bersifat prosesual
Contoh :
Ini adalah
kisah nyata yang saya ambil dari kehidupan keluarga saya sendiri. Kami dulu
sekeluarga tinggal dan menetap di Palembang, kota Wong Kito Galo. Ayah
saya dulu adalah seorang kepala desa, beliau sering pergi ke kota memenuhi
panggilan Bupati atau Gubernur untuk melakukan rapat atau sekedar pemberian
arahan. Dari sinilah ayah saya banyak mengenal kawan, baik kawan seperjuangan
sebagai kepala desa maupun kawan diluar jabatan beliau. Beliau banyak melakukan
komunikasi dengan orang-orang yang beliau anggap orang besar. Dari situlah ayah
saya mendapat banyak inspirasi kehidupan.
Sebelum
mengenal orang-orang besar tersebut, ayah saya memang masih buta tentang banyak
hal. Salah satunya adalah tentang apa
arti sebuah pendidikan. Bagi ayah dulu, pendidikan tidak terlalu penting, ayah
berfikir terlalu pragmatis tentang pendidikan. Bahkan beliau tidak ada gambaran
sedikit pun untuk mengantarkan anak-anaknya ke depan pintu gerbang pendidikan
(hehe). Ayah bisa menjadi kepala desa pun, tanpa perlu pendidikan tinggi.
Beliau hanya tamatan SMP, tapi bisa menduduki kursi jabatan kepala desa. Karena
dulu memang, untuk menjadi kepala desa, tidak disyaratkan harus sarjana. Yang
penting adalah kredibel dan punya kemampuan memimpin dengan baik, serta
mendapat dukungan dari rakyat.
Setelah ayah
saya mengenal banyak kawan orang-orang hebat, di situlah beliau memandang dan
berkeyakinan bahwa pendidikan sangatlah penting untuk mengantarkan seseorang
mendapat peluang yang lebih baik dalam meraih kesuksesan. Berangkat dari
pengalaman itu, ayah saya lantas ingin mengantarkan anak-anaknya meraih hidup
yang lebih baik dengan pendidikan. Alhamdulillah, saya dan saudara-saudara saya
sampai sekarang sudah menikmati indahnya pendidikan. Terima kasih ayah.
2. Komunikasi bersifat irreversibel
Contoh:
Saya
adalah seorang mahasiswa. Bagi seorang mahasiswa, momen-momen yang paling
ditunggu adalah saat liburan tiba. Saya pribadi lebih suka dan memilih liburan
di rumah. Jadi ketika liburan ujian akhir semester tiba, saya ingin segera
pulang ke surga duniaku, yaitu my home. Kenapa saya lebih memilih menghabiskan
liburan di rumah?, karena di situlah saya menemukan cinta. Cinta orang tua
kepada anak-anaknya, cinta dan bakti anak kepada orang tua, cinta kepada sesama
saudara kandung, semua karena cinta. Di setiap titik rumah, selalu kutemukan
dan kurasakan nuansa cinta. Bagi saya, wujud cinta paling besar yang diberikan
orang tua kepada saya adalah petuah nasehat. Karena bagi saya, orang tua yang
hebat bukanlah yang memiliki harta sejagat, tapi orang tua yang hebat adalah
yang memiliki sejagat nasehat. Nasehat-nasehat hebat dari orang tua, sampai
kapanpun tidak akan pernah terlupakan. Karena nasehat itu benar-benar masuk
dalam hati dan pikiran.
Ada
satu nasehat atau pesan yang paling tidak bisa saya lupakan sampai sekarang dan
sampai kapanpun. Yaitu perkataan ayah yang bunyinya seperti ini, “Tidak ada hal
yang paling saya banggakan di dunia ini, kecuali hanya kalian putra-putriku. Biarlah
orang tua ini kehabisan harta, yang penting anak-anaknya bisa berilmu, menjadi
sukses. Ayah tidak bisa menjanjikan harta buat kalian, tapi ayah berjanji, akan
memberikan yang terbaik buat kalian, yaitu ilmu”.
Nasehat
atau pesan tersebut sangat membekas dalam hati saya, dan dengan bekal sejagat
nasehat dari orang tua hebat, saya percaya kelak saya juga akan menjadi orang
hebat. Amiin.
3. Komunikasi bersifat bukan panasea
Pernah suatu
ketika, saat saya menjabat sebagai ketua IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) di
SMA. Saya beserta jajaran pengurus membuat aturan-aturan yang harus dijalankan
oleh setiap anggota IPM. Sebagai manusia biasa, tentu saya punya khilaf dan
salah. Ketika itu saya pernah melanggar aturan yang pernah saya buat sendiri. Akibatnya
ketika saya menegur salah seorang anggota, karena melanggar aturan, dia malah
menegur balik saya, “Loh, mas aja kemarin pernah melanggar aturan yang mas buat
sendiri, padahal mas sebagai ketua IPM, seharusnya memberi tauladan yang baik”,
mendengar kata-kata itu saya menjadi malu sendiri. “Haduh, kena deh” batin
saya. Saat kejadian itu, saya benar-benar meminta maaf kepada seluruh anggota
atas kesalahan yang saya buat.
Pesan moral: Mana mungkin semua bawahan anda
patuh terhadap peraturan, kalau anda sendiri sebagai atasan tidak mematuhi
aturan yang anda buat sendiri. Kalau ingin semua bawahan anda menuruti semua
aturan yang anda buat, maka anda harus konsisten dan memberikan suri tauladan
yang baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar