KAMPUNG
HERBAL
Aku tinggal di desa Ketro kecamatan
Tanon kabupaten Sragen. Salah satu kabupaten dan sekaligus kota yang ada di
jawa tengah. Kota Sragen memiliki semboyan, yaitu ASRI (Aman, Sehat, Rapi,
Indah). Untuk merealisasikan semboyan tersebut, pihak terkait sudah berupaya
mewujudkanya. Salah satunya yaitu dengan mengatur dan menata serta mengelola
kota dengan sedemikian rupa sehingga terkesan rapi dan indah jika dipandang.
Terkait dengan kesehatan, pemerintah kota Sragen telah memiliki Brand bahwa di tahun 2016 akan
menjadikan kota Sragen sebagai kota herbal. Dan Brand tersebut bermula dari kampungku, yaitu Ketro.
Ide membuat usaha herbal bermula
dari tetanggaku, sebut saja namanya pak Luthfan. Pria berusia 30 tahun ini
memulai usaha herbal belum lama, kurang lebih sekitar satu tahunan. Pak Luthfan
yang sekaligus bekerja sebagai dosen ini telah merintis usaha tersebut bersama
keluarganya. Berkat ketekunan dan keuletan, usaha herbalnya sedikit demi
sedikit telah berkembang. Bahkan nama desa Ketro sudah terkenal dengan sebutan
kampung herbal. Siapa yang ingin mencari herbal untuk dijadikan obat, rujukanya
adalah desa Ketro.
Tanaman-tanaman herbal yang ditanam
beragam, dari mulai jahe, temulawak, alang-alang, kencur, dan tanaman herbal
lainya. Karena dilihat prospek kedepan bagus, akhirnya pak Luthfan ingin
menggerakkan masyarakat untuk bersama-sama menanam tanaman herbal. Dan memang
antusias masyarakat sangat luar biasa. Mereka menyambutnya dengan positif. Setelah
itu pak Luthfan membentuk kelompok kerja di setiap kecamatan yang ada di
Sragen. Dan setiap kelompok berisi seitar 25-30 orang dengan satu ketua. Untuk kecamatan
Tanon sendiri ketua kelompok kerjanya adalah ayahku.
Cara kerja penanaman herbal ini
adalah menggunakan karung. Jadi karung yang dilipat hingga setinggi 10 sampai
15 cm, kemudian karung tersebut diisi tanah gembur yang dicampur dengan pupuk
kandang dan brambut (kulit padi),
lalu bibit seperti jahe, kencur, temulawak, dan lain sebagainya ditanam dalam
karung berisi tanah tersebut. Setelah itu tanaman disiram tiap pagi dan sore.
Untuk memanenya butuh waktu 2 sampai 3 bulan. Di rumah pak Luthfan sendiri ada
sekitar 100 tanaman yang ditanam di dalam karung, dan jika panen, setiap karung
bisa menghasilkan 10 sampai 15 Kg. Luar biasa hasilnya.
Untuk mendapatkan jumlah yang banyak
memang cara penanamanya harus melalui cara di atas, yaitu melalui media karung.
Karena jika ditanam di tanah bebas, hasilnya lebih sedikit. Kelompok kerja yang
diketuai oleh ayah menanam sekitar 50 tanaman dalam karung. Dan ketika panen,
hasilnya juga lumayan banyak. Setelah dipanen, sebagian tanaman herbal akan di
jual dan sebagianya akan di olah menjadi jamu, minuman jahe sachet, dan aneka
macam obat dalam bentuk kemasan sachet.
Tanaman-tanaman yang sudah di
produk, akan di distribusikan ke pasar-pasar, kepada para tengkulak dan kepada
konsumen secara luas. Bahkan dari luar daerah maupun luar provinsi juga menginginkan produk-produk
dari tanaman herbal ini.
Sejak dibentuknya kelompok kerja di
setiap kecamatan, lambat laun usaha herbal ini benar-benar sukses. Berkat
keberhasilan tersebut, akhirnya mendapat perhatian dari pemerintah kota Sragen.
Dan kabar gembiranya adalah pemerintah Sragen akan memberikan bantuan senilai
empat milyar guna untuk membiayai pengelolaan dan penanaman tanaman herbal.
Pemerintah Sragen telah mengajukan proposal ke pemerintah pusat, dan mereka
menyambut positif dengan memberikan kucuran dana sebesar empat milyar tersebut.
Dana itu digunakan untuk mengelola
dan penyediaan lahan serta untuk
pengadaan bibit. Dan sebagian akan
di berikan kepada para anggota. Setiap anggota akan mendapat dua setengah juta.
Bantuan dari pemkot Sragen ini
merupakan wujud dari kepedulian pemkot Sragen untuk membangun kota Sragen lebih
baik. Dan saat itulah pemkot Sragen memiliki Brand yaitu di tahun 2016 ingin menjadikan Sragen sebagai pusat kota
herbal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar