Senin, 02 Maret 2015

IKHLAS DALAM BERIBADAH
DAN BERAMAL
Oleh: Beta Pujangga Mukti
NIM: 12090206

Banyak di antara manusia ketika beribadah dan beramal, hati dan niatnya belum ikhlas karena mencari ridha Allah swt. Niatnya masih mengharap pujian dari orang lain, ingin dilihat orang lain, hatinya belum sepenuhnya terpaut kepada Allah swt. Ada sebuah kisah dari seorang perempuan budiman, yang sangat dahsyat keimananya kepada allah swt, dia adalah Rabi’ah al-Adawiyah. Suatu ketika dia berjalan sambil membawa obor di tangan kananya dan membawa satu ember berisi air di tangan kirinya. Hal ini membuat bingung orang yang melihatnya. Kemudian Rabi’ah al-Adawiyah ditanya, “Wahai Rabi’ah al-Adawiyah, apa maksud engkau membawa obor di tangan kananmu dan membawa seember air di tangan kirimu?”.
Kemudian Rabi’ah al-Adawiyah menjawab, “Aku membawa obor di tangan kananku, ini menjadi peringatan bagiku, nasehat bagiku, andaikan Allah izinkan aku untuk membakar surga, maka akan aku bakar surga itu dengan obor di tangan kananku ini. Ini artinya aku menjalankan semua perintah Allah, beribadah kepadaNya, sholat, zakat, puasa, haji, ini semua aku lakukan bukan semata-mata aku mengharapkan masuk surga, namun ini semua karena aku hanya mengharap ridha dari allah swt. kemudian aku membawa seember air di tangan kiriku, ini adalah peringatan bagiku, nasehat bagiku, andaikan Allah izinkan aku memadamkan api neraka, maka akan aku padamkan api neraka itu dengan satu ember ini. Ini artinya bahwa aku meninggalkan larangan allah, menjauhi semua perbuatan maksiat, bukan semata-mata aku takut masuk neraka, namun aku meninggalkan semua perbuatan tersebut karena aku hanya takut kepada Allah”.
Allah swt berfirman dalam surat al-an’am ayat 162-163,
قل ان صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العلمين (162) لاشريك له وبذلك امرت وانا اول المسلمين (163)
“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”.
            Ketika manusia beribadah dengan niat ingin dipuji dan mendapat penghormatan dari orang lain, maka hanya kesia-siaan yang akan ia dapat. Namun apabila dalam beribadah manusia semata-mata hanya mengharap ridha Allah, maka kemulyaan yang akan ia dapat.
            وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”
            Dari keterangan ayat di atas Allah memerintahkan manusia agar menjalankan perintah agama dengan memurnikan ketaatan hanya kepadaNya. Dalam hal ini ikhlas juga dibutuhkan dalam beramal sholeh. Misalkan menyumbangkan sebagian harta untuk membantu kebutuhan saudara yang dalam keadaan susah, namun niatnya harus karena Allah bukan semata-mata ingin mendapat pujian atau gelar dermawan dari orang lain. Dalam beramal sholeh kita harus ikhlas, ibarat engkau menyembunyikan kebaikanmu seperti engkau pandai menyembunyikan keburukanmu.
            Berbicara mengenai ikhlas, Rasulullah mengajarkan kepada kita dalam haditsnya,
عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya segala amal perbuatan tergantung pada niatnya, dan akan mendapatkan sesuai yang diniatkan”.
            Beberapa ulama shalafu as-shaleh mendefinisikan ikhlas sebagai suatu perbuatan yang dilakukan hanya ingin mengharap ridha dan penglihatan dari Allah swt.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda.
            عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص : اِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ اِلىَ اَجْسَامِكُمْ وَلاَ اِلىَ صُوَرِكُمْ وَ لٰكِنْ يَنْظُرُ اِلىَ قُلُوْبِكُمْ. مسلم
“Sesungguhnya Allah tidak melihat (menilai) bentuk tubuhmu dan tidak pula menilai kebagusan wajahmu, tetapi Allah melihat (menilai) keikhlasan hatimu”. [HR. Muslim]
            Ilmu itu ibarat bibit, amal ibarat ladang, dan ikhlas ibarat sumber air. Apa artinya sebuah bibit kalau tidak ada ladang untuk menanam, dan apa artinya ladang kalau tidak ada sumber air untuk menyiram dan meumbuhkan tanaman. Begitu juga dengan ilmu, apalah arti sebuah ilmu tanpa ada amal yang riil dalam kehidupan, dan apalah arti amal jika tidak dibungkus dengan rasa ikhlas karena Allah swt.
            اللهم اني اعوذبك ان اشرك بك وانا اعلم واستغفرك لما لا اعلم. اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِي مِنَ النِّفَاقِ ، وَعَمَلِي مِنَ الرِّيَاءِ ، وَلِسَانِي مِنَ الْكَذِبِ ، وَعَيْنِي مِنَ الْخِيَانَةِ ، فَإِنَّكَ تَعْلَمُ خَائِنَةَ الأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ
“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu agar tidak menyekutukan kepadaMu, sedang aku mengetahuinya dan aku minta ampun terhadap apa yang tidak aku ketahui. Ya  Allah bersihkanlah hatiku dari nifaq, (bersihkanlah) amalku dari riya, (bersihkanlah) lisanku dari dusta, (bersihkanlah) mataku dari pengkhianatan. Sesungguhnya Engkau mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan didalam dada.”


Sumber : Al-quran dan Hadits, internet, materi kultum ustad Al-Habsyi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar