IKHLAS DALAM BERIBADAH
DAN BERAMAL
Oleh: Beta Pujangga Mukti
NIM: 12090206
Banyak di antara manusia ketika beribadah dan
beramal, hati dan niatnya belum ikhlas karena mencari ridha Allah swt. Niatnya
masih mengharap pujian dari orang lain, ingin dilihat orang lain, hatinya belum
sepenuhnya terpaut kepada Allah swt. Ada sebuah kisah dari seorang perempuan
budiman, yang sangat dahsyat keimananya kepada allah swt, dia adalah Rabi’ah
al-Adawiyah. Suatu ketika dia berjalan sambil membawa obor di tangan kananya
dan membawa satu ember berisi air di tangan kirinya. Hal ini membuat bingung
orang yang melihatnya. Kemudian Rabi’ah al-Adawiyah ditanya, “Wahai Rabi’ah
al-Adawiyah, apa maksud engkau membawa obor di tangan kananmu dan membawa
seember air di tangan kirimu?”.
Kemudian Rabi’ah al-Adawiyah menjawab, “Aku
membawa obor di tangan kananku, ini menjadi peringatan bagiku, nasehat bagiku,
andaikan Allah izinkan aku untuk membakar surga, maka akan aku bakar surga itu
dengan obor di tangan kananku ini. Ini artinya aku menjalankan semua perintah
Allah, beribadah kepadaNya, sholat, zakat, puasa, haji, ini semua aku lakukan
bukan semata-mata aku mengharapkan masuk surga, namun ini semua karena aku
hanya mengharap ridha dari allah swt. kemudian aku membawa seember air di
tangan kiriku, ini adalah peringatan bagiku, nasehat bagiku, andaikan Allah
izinkan aku memadamkan api neraka, maka akan aku padamkan api neraka itu dengan
satu ember ini. Ini artinya bahwa aku meninggalkan larangan allah, menjauhi
semua perbuatan maksiat, bukan semata-mata aku takut masuk neraka, namun aku
meninggalkan semua perbuatan tersebut karena aku hanya takut kepada Allah”.
Allah swt berfirman dalam surat al-an’am ayat
162-163,
قل ان صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العلمين (162) لاشريك له وبذلك امرت
وانا اول المسلمين (163)
“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan
matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan
demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang
pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”.
Ketika
manusia beribadah dengan niat ingin dipuji dan mendapat penghormatan dari orang
lain, maka hanya kesia-siaan yang akan ia dapat. Namun apabila dalam beribadah
manusia semata-mata hanya mengharap ridha Allah, maka kemulyaan yang akan ia
dapat.
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ
مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ
وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah
dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan
supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah
agama yang lurus.”
Dari
keterangan ayat di atas Allah memerintahkan manusia agar menjalankan perintah
agama dengan memurnikan ketaatan hanya kepadaNya. Dalam hal ini ikhlas juga
dibutuhkan dalam beramal sholeh. Misalkan menyumbangkan sebagian harta untuk
membantu kebutuhan saudara yang dalam keadaan susah, namun niatnya harus karena
Allah bukan semata-mata ingin mendapat pujian atau gelar dermawan dari orang
lain. Dalam beramal sholeh kita harus ikhlas, ibarat engkau menyembunyikan
kebaikanmu seperti engkau pandai menyembunyikan keburukanmu.
Berbicara
mengenai ikhlas, Rasulullah mengajarkan kepada kita dalam haditsnya,
عَنْ أَمِيْرِ
الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ
: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ
بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya
segala amal perbuatan tergantung pada niatnya, dan akan mendapatkan sesuai yang
diniatkan”.
Beberapa
ulama shalafu as-shaleh mendefinisikan ikhlas sebagai suatu perbuatan yang
dilakukan hanya ingin mengharap ridha dan penglihatan dari Allah swt.
Dari
Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda.
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ
اللهِ ص : اِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ اِلىَ اَجْسَامِكُمْ وَلاَ اِلىَ صُوَرِكُمْ
وَ لٰكِنْ يَنْظُرُ اِلىَ قُلُوْبِكُمْ. مسلم
“Sesungguhnya Allah tidak melihat (menilai) bentuk
tubuhmu dan tidak pula menilai kebagusan wajahmu, tetapi Allah melihat
(menilai) keikhlasan hatimu”. [HR. Muslim]
Ilmu itu ibarat bibit, amal ibarat ladang, dan ikhlas
ibarat sumber air. Apa artinya sebuah bibit kalau tidak ada ladang untuk
menanam, dan apa artinya ladang kalau tidak ada sumber air untuk menyiram dan
meumbuhkan tanaman. Begitu juga dengan ilmu, apalah arti sebuah ilmu tanpa ada
amal yang riil dalam kehidupan, dan apalah arti amal jika tidak dibungkus
dengan rasa ikhlas karena Allah swt.
اللهم اني اعوذبك ان اشرك بك وانا
اعلم واستغفرك لما لا اعلم. اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِي مِنَ النِّفَاقِ ، وَعَمَلِي مِنَ
الرِّيَاءِ ، وَلِسَانِي مِنَ الْكَذِبِ ، وَعَيْنِي مِنَ الْخِيَانَةِ ،
فَإِنَّكَ تَعْلَمُ خَائِنَةَ الأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ
”
“Ya Allah! Sesungguhnya aku
berlindung kepadaMu agar tidak menyekutukan kepadaMu, sedang aku mengetahuinya
dan aku minta ampun terhadap apa yang tidak aku ketahui. Ya Allah bersihkanlah hatiku
dari nifaq, (bersihkanlah) amalku dari riya, (bersihkanlah) lisanku dari dusta,
(bersihkanlah) mataku dari pengkhianatan. Sesungguhnya Engkau mengetahui
pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan didalam dada.”
Sumber : Al-quran dan Hadits, internet, materi kultum
ustad Al-Habsyi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar