Senin, 02 Maret 2015

KARENA AKHLAKMU ADALAH NILAI DIRIMU
Oleh : Beta Pujangga Mukti
alumni angkatan ke-4 SMA Darul Ihsan Muhammadiyah Sragen
PUTM (Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah) Yogyakarta

            Pepatah inggris mengatakan, “You are what you think, you are what you eat, you are what you dress, you are what you do, and your character is your personality”. Pesan yang disampaikan dari pepatah tersebut adalah, apabila fikiranmu baik, apa yang kamu makan baik, gaun yang kamu kenakan baik, apa yang kamu lakukan selalu mencerminkan pribadi luhur, maka sudah pasti karakter dan akhlak mu akan baik. Your character is your personality, karaktermu adalah kepribadianmu, akhlakmu adalah cerminan perilakumu. Allah adalah sang maha baik dan hanya menerima sesuatu yang baik pula. Innallaaha jamiilun yuhibbu al-jamaala (Allah itu maha baik dan menyukai hal yang baik).
            Sebaliknya apabila yang kamu fikirkan, kamu makan, kamu kenakan, dan yang kamu lakukan sesuatu hal buruk, maka itulah cerminan akhlak dan kepribadianmu. Tentu Allah akan berpaling dari orang yang melakukan keburukan. Akhlak yang baik akan menimbulkan perilaku yang baik, dan perilaku yang baik akan membentuk karakter dan kepribadian yang luhur.
Secara bahasa (lughatan) akhlaq dalam bahasa arab adalah bentuk jamak dari khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Berakar dari kata khalaqa yang berarti menciptakan. Seakar dengan kata Khaliq (pencipta), makhluq (yang diciptakan) dan khalq (penciptaan). Dari pengertian akhlak secara bahasa tersebut dapat disimpulkan bahwa perilaku seseorang terhadap orang lain dan lingkunganya baru dikatakan mengandung nilai akhlak apabila tindakan atau perilaku tersebut didasarkan kepada kehendak sang Khaliq (Tuhan). Akhlak bukan saja merupakan tata aturan atau norma perilaku yang mengatur hubungan antar sesama manusia, tetapi juga yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan dan bahkan dengan alam semesta sekalipun. Secara istilah, menurut Imam al-Ghazali akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa seseorang yang menimbulkan perbuatan-perbuatan positif yang dapat dikerjakan dengan mudah.
Akhlak yang baik adalah ketika kita berada di rumah bercengkrama dengan kedua orang tua maka sebagai anak kita harus patuh dan berbakti kepada keduanya, ketika mendapati teman dalam keadaan susah maka kita bantu, apabila kita bertemu dan bergaul dengan seorang guru maka seharusnya kita bersikap dan bertutur kata yang lembut dan santun, di lingkungan masyarakat menjadi contoh dan teladan yang baik. Tentu masih banyak lagi contoh akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari kita. Yang penting adalah bagaimana kita bisa menjadikan akhlak yang baik tersebut menjadi seragam kita dalam kehidupan sehari-hari.
            Saat ini tidak jarang kita temukan orang-orang di sekeliling kita yang memiliki akhlak dan perangai yang buruk. Terhadap temanya dia acuh, tidak mau membantu baik dalam keadaan suka maupun duka, Padahal dalam hadits disebutkan, belum dikatakan beriman seseorang apabila dia belum mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri. Terhadap guru, ustadz, perilakunya tidak sopan, tutur katanya selalu menyakiti, padahal merekalah orang tua kedua kita, dari perjuangan dan kasih sayang merekalah kita menjadi kaum yang terdidik dan tercerdaskan, sehingga kita dapat meraih kesuksesan di masa depan. Terhadap orang tua budi pekertinya tidak baik, tidak patuh, dan bahkan ada yang durhaka kepada ayah bundanya. Naudzubillahimindzalik. Rasullullah bersabda, “Ridhaallahi fi ridha waliddain wa sukhtullahi sukhtu waliddain”, ridha Allah tergantung pada ridha orang tua,  murka Allah tergantung pada murka orang tua. Mudah-mudahan kita terhindar dari perangai-perangai buruk tersebut.
Dalam masyarakat pun kita juga harus menjunjung tinggi norma dan aturan yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Saat ini tidak sedikit anak-anak remaja yang terjerumus dan perilakunya tidak lagi mengindahkan norma-norma dalam masyarakat. Bahkan perilakunya sudah dianggap sebagai aib baik untuk masyarakat itu sendiri maupun aib bagi keluarga. Misalkan free sex, minum-minuman keras, mengkonsumsi narkoba, melihat video yang tidak sepantasnya dilihat, dll. Mereka sudah tidak punya lagi rasa malu, tidak ada lagi akhlak dalam dirinya. Padahal Islam mengajarkan, “al-hayaau syu’batun min al-iman” malu adalah sebagian dari iman. Dia tidak lagi punya rasa malu kepada diri-sendiri, kepada masyarakat, kepada keluarga, terlebih dia tidak malu kepada allah swt. Apabila dia sudah tidak  punya rasa malu maka dia tidak lagi punya iman. Apabila dia sudah tidak punya iman maka berbagai cara dia lakukan, dia lupa bahwa Allah melihat setiap gerak-gerik manusia dan kelak Allah akan membalasnya. Naudzubillahimindzalik.
Terlebih kepada saudariku, kaum perempuan. Tidak sedikit dari golongan kalian yang terjerumus ke lembah kehinaan. Karena tidak pandai menjaga akhlak diri dan kehormatan. Rasulullah bersabda “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholehah”. Kecantikan seorang wanita adalah terletak pada akhlaknya. Apabila dia baik, baik pula akhlaknya. Namun apabila perangainya buruk, buruk pula akhlaknya.
Orang tua, guru dan ustadzah kalian tidak ingin disebut gagal dengan pendidikanmu yang tidak membawa keselamatanmu di akhirat. Mereka  tidak rela melihat pakainnmu yang separoh hati kau kenakan, sebagian badanmu tertutup dan sebagian lagi terbuka. Mereka  tidak ingin kau dihinakan oleh mata jalang hamba hawa nafsu. Maka perhatikan bahwa dirimu harus kau mulyakan. Berdandanlah dengan dandanan yang berwibawa dihadapan perampok-peramopok kehormatan. Jadikanlah mereka takut mendekatimu dan jera jika mereka berusaha menjailimu. Jangan kau rendahkan dirimu dengan kau umbar tubuhmu disana sini. Sebab jika dirimu tidak bisa menghargai dirimu sendiri maka orang lainpun tidak menghargaimu.
            Kemulyaanmu wahai saudariku adalah pada kepribadianmu. Jika engkau berwibawa dan mulya maka lelaki jalang hamba hawa nafsupun akan enggan mendekatimu. Senyummu amat mahal jangan kau berikan kepada semua orang sebab tidak semua orang tahu nilai senyummu. Suaramu pun adalah nilai dirimu. Jangan bersuara yang mengundang nafsu di hadapan bagundal iblis sehingga mereka meremehkanmu. Telah banyak gadis-gadis seumurmu telah direndahkan oleh mereka. Lihatlah di sekitarmu, anak gadis sebaya denganmu telah tenggelam dalam kenistaan. Songsonglah masa depanmu dengan penuh kemulyaan. Pesan sederhana dari seorang pujangga diatas mudah-mudahan bisa menjadi perhatian dan introspeksi diri.

            Begitu berharganya nilai sebuah akhlak di hadapan Allah dan Rasul-Nya, sehingga Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kamu dan yang paling dekat duduknya denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlak-nya” (Riwayat Ibnu Majah). Semua umat Islam dari ujung Maroko sampai ujung Marauke selalu berharap kelak di hari kiamat akan mendapatkan syafa’at dari baginda Rasulullah saw. Namun Rasul telah menjamin bagi siapa yang memiliki akhlak yang baik maka kelak ia akan duduk bersama Rasulullah saw. Subhanallah, insan mana yang tidak ingin mendapat syafa’at beliau. Kuncinya adalah berakhlak mulia. Wallahu a’lam bishowaab.
           
            Di ujung tulisan ini saya ingin menyampaikan kepada saudara saudariku bahwa permata itu indah tetapi manusia yang berakhlak mulia lebih indah daripada segala permata yang terindah. Your akhlaq is your personality. Mari kita berdo’a agar Allah senantiasa membimbing kita untuk menjadikan diri kita menjadi insan yang berakhlak mulia.

الهم كما حسنت خلقي وحسن خلقي
“Ya Allah, sebagaimana Engkau telah cantikkan rupaku, maka cantikkanlah juga akhlakku”
(HR. Ahmad & Ibnu Hibban)




             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar