BERKORBAN UNTUK BERQURBAN
Rintikan hujan yang masih mengguyur namun tak begitu deras, angin
malam yang menyergap, membuat hawa menjadi amat dingin, hingga menggigilkan
badan. Suara-suara sekawanan hewan malam
terdengar saling sahut-sahutan di saentero asrama. Entah mau sampai jam berapa hujan berahir membasahi bumi Hargobinangun, sebuah
desa tempat kami tinggal. Kondisi hujan yang tak kunjung reda, membuat suasana
semakin sepi senyap, Malam juga semakin larut, Jalan mulai sepi, hampir tak ada lagi kendaraan yang lalu lalang melintas. Entah
kemana manusia pribumi, mungkin sudah
terkapar di atas kasur empuk dengan selimut tebalnya.
Namun tak berlaku pada kami, mau kondisi hujan deras atau tidak,
hawa yang super ekstrim dinginya sampai dibawah 10 derajat celsius pun kami lawan. Karena malam itu kami sudah
sepakat untuk mengadakan rapat pembentukan tim panitia qurban. Malam itu kami
berjumlah sepuluh orang, diantaranya aku, Ikhwan, Ian, Syamsul, Ilham, Muhyi,
Herman, Siregar, Miftah, dan terahir Izzu. Atas inisiatifku, aku ingin mengajak
semua mahasiswa yang ada di asrama untuk ikut acara bakti sosial saat idul adha, yaitu
qurban. Tapi yang ingin berpartisipasi hanya sepuluh orang saja. Ya tak apa
lah, tujuan kami baik, disamping ingin berbagi, kami juga ingin mensyiarkan
agama Islam di daerah pelosok.
Rapat yang hampir berjalan selama satu jam, ahirnya membuahkan
hasil, terbentuklah tim panitia qurban.
Alhamdulillah aku dipercayai untuk menjadi ketua panitia. Entah apa alasan
mereka memilihku. Mungkin aku lebih tua dari mereka, tidak. Umurku paling muda
diantara mereka. Atau mungkin aku orang yang tanggung jawab, bisa memimpin,
pinter mengkoordinasi keadaan, atau karena aku yang punya ide kegiatan ini, entahlah,
aku tak mau terlalau menyelidikinya.
Setelah terbentuk jajaran tim panitia, aku mengambil alih pimpinan
rapat, untuk membahas masalah tempat
diadakanya qurban.
“Terima kasih telah mempercayai saya sebagai ketua, insyaallah saya
akan menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. Oke, Selanjutnya kita akan
membahas masalah tempat atau daerah yang akan kita tuju nanti, dengan beberapa
pertimbangan. Pertama, daerah ini dari segi ekonomi masyarakatnya adalah menengah
kebawah. Kedua, belum pernah diadakan
qurban di daerah tersebut. Nah, Silahkan
dari teman-teman kalau punya usul...,,” pintaku.
“Izin masuk pak ketua,,”dari pojok kanan, Ikhwan mengacungkan jari,
orang paling tinggi di asrama kami, tingginya 180 cm. Kalau di asrama ada lampu
yang mati, dia yang paling kami andalkan, Karena lampu-lampu di asrama
kebanyakan tempatnya tinggi. “Silahkan Ikhwan,,,,”Aku menimbali. “Begini, saya
punya usul tempat, di kabupaten Kulon Progo. Dengan pertimbangan, daerah ini
masih banyak lokasi yang masyarakatnya masih dibawah rata-rata, baik dari segi
ekonomi dan juga pendidikanya. juga
masalah diadakan qurbanya juga belum merata. Hanya tempat-tempat yang tergolong
kota saja yang sudah ada. Tempat pelosok belum pernah sama sekali. Kebetulan
saya punya pakde disana, dan saya juga pernah tinggal sebulan di sana, jadi
saya agak tau persis gimana keadaan daerah kulon Progo. Itu usulan dari saya
pak ketua.” Tutup Ikhwan.
“Terima kasih
saudara Ikhwan. Baik, kita sudah dapat satu gambaran tempat, di Kulon Progo.
Saya tampung dulu usulan ini. Silahkan kalau masih ada usulan dari temen-temen
lagi.” Pintaku. “Saya pak ketua..,,” Ian
mengangkat tanganya. teman kami satu ini, mahasiswa paling gemuk seasrama,
berat badanya kurang lebih 120 kg, angka yang fantastis. di asrama, dia juga pernah
mendapat award sebagai obesitas man. “Monggo mas Ian, wekdal soho
panggenan kawulo sumanggaaken...,,hehehe(silahkan mas Ian, waktu dan tempat
saya persilahkan)” dengan bahasa jawa dan sedikit nada lembut saya
mempersilahkan Ian. “Wkwkwkwkw....”seluruh ruangan dipenuhi suara tawa.
“Injeh pak ketua, matur suwun,,...hehehe(iya pak
ketua, terima kasih). jadi langsung saja, kalo saya punya usul di
kabupaten Gunung Kidul. Alasanya, saya pernah tugas riset di sana selama dua
bulan, jadi saya faham betul kondisi tempat dan masyarakatnya. Dari segi
ekonomi, masih dibawah rata-rata. Kondisi tempatnya juga agak memprihatinkan.
Kurangnya akses air bersih, tempat sekolah yang jauh dan hanya bisa ditempuh
dengan berjalan kaki, masalahnya di sana daerah gunung, jadi tempatnya naik
turun. Bahkan sinyalpun yang ada Cuma XL, pokoknya daerahnya menantang.
Trus masalah qurbanya, di sana juga belum pernah sama sekali diadakan qurban.
Itu usulan dari saya pak ketua” tutup Ian dengan senyum.
Setelah beberapa menit berjalan, tidak ada lagi usulan dari
temen-temen. Jadi hanya ada dua opsi tempat waktu itu, Kulon Progo dan Gunung
Kidul. Dan setelah kami pertimbangkan, kami sepakati tempatnya di Gunung Kidul.
Dengan pertimbangan, dari segi geografis lebih menantang dan dari segi ekonomi lebih
membutuhkan.
“Tokotokotokotok,,,,,,,,”
suara motor astrea keluaran tahun dua ribuan mulai terdengar. Motor andalan
kami, kemana-mana selalu jadi tunggangan. motor ini milik pak Muhajir, begitulah
kami memanggil beliau. Beliau adalah kepala asrama kami. Beliau sudah
memberikan hak pakai sepenuhnya kepada mahasiswa di asrama, siapa yang mau
pakai silahkan, asal bensin ditanggung sendiri. Walaupun keluaran tahun dua
ribuan, tapi mesin masih bagus, Karena selalu kami rawat.
“Wah,,,,tu kayaknya gorenganya udah datang..,,,” teriak si Izzu,
Manusia paling maniak sama yang namanya gorengan.
“Assalamualaikum,,,,,,,”
ucap Herman sambil membuka pintu. “Waalaikumussalam,,,,,,alhamdulillah.,,,”
semua menjawab dengan girang. “Sorry Sad, aku sama Ilham agak lama..,,,” tambah
Herman. “Sipt, nggak papa,,,,langsung dibagikan aja gorenganya...,” pintaku.
Hawa dingin berubah jadi hangat ketika kami menyantap gorengan yang masih
panas. Ditambah minuman kopi hangat yang baru saja dibuat Muhyi sama Syamsul.
Wuih,,,mak nyus,,,. Habisnya gorengan dan kopi, membuat selesai juga rapat kami
malam itu.
Aku tinggal di asrama bersama mahasiswa lainya, tepatnya di Jl.
Kaliurang, Km. 23,3, Hargobinagun, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Sekitar lima
belas kilo meter dari puncak gunung merapi, bisa dikatakan kami tinggal di
daerah pegunungan. Ini adalah sebuah asrama yang disediakan oleh kampus untuk
mahasiswa-mahasiswa berprestasi yang ingin tinggal di asrama. Selain belajar
menjadi lebih fokus, para mahasiswa juga ditempa jiwa spiritualitasnya. Mulai
dari shalat tahajjud, kajian-kajian Islam setiap usai shalat subuh, dan da’wah
di lingkungan masyarakat sekitar, itu semua telah menjadi kegiatan rutin mahasiswa
setelah pulang dari kampus.
*******
Alam yang begitu sepi, manusia pun masih terbaring dalam mimpi indah
mereka, waktu itulah Allah dan para malaikat-NYA turun ke bumi untuk melihat
siapa diantara manusia yang bangun dari lelap tidurnya, yang memaksa diri untuk
melepas semua belenggu-belenggu syaitan yang menyelimuti diri mereka, untuk
menghambakan diri menghadap sang ilahi, Hingga tak ada jarak lagi seorang hamba
dengan Rabbnya. Begitu dekat dan sungguh dekat. Allah akan mendengar dan
mengabulkan setiap do’a yang terucap dari lisan seorang hamba pada waaktu itu.
Adzan pertama telah berkumandang, suaranya mendayu-dayu memecah
sepi, tanda shalat tahajjud akan dilaksanakan. Mataku masih terasa sulit untuk
dibuka, serasa syaitan masih berayun-ayun di bulu mataku. Namun kupaksakan
untuk meraih ridho ilahi. Kumandang adzan mengantarku gegas mengambil air wudlu
dari pancuran yang kesegaranya meresap hingga lapisan dermis wajah. Mata bagai
menatap cahaya yang paling terang di dunia. Di depan mata seolah hanya nirwana.
Aku pun melangkah ke masjid yang tak jauh dari asrama seperti langkah malaikat
menembus langit ke tujuh.
Dalam lafadz do’a, aku memohon kepada sang maha pengabul do’a, “Ya
Allah, Engkau maha kuasa, pemilik apa yang ada di jagad raya ini. Hamba
hanyalah mahluk kecil yang tak berdaya, tidak ada apa-apanya jika dibandingkan
dengan kekuasaan-Mu yang begitu dahsyatnya. Ya Allah, kami mempunyai hajat yang
cukup besar di hari idul adha nanti, kami ingin berbagi dengan sesama, kami
ingin mensyiarkan dan membumikan agama-Mu. Berikanlah pertolongan-Mu ya Allah,
agar niat baik kami ini Engkau terima dan terlaksana dengan sukses. Bukalah
hati para dermawan agar mau menyisihkan hartanya untuk membantu kami
menyalurkan kepada mereka-mereka yang membutuhkan. Amiin,,,” air mataku
semakin mengalir membasahi pipi saat aku merasa bahwa Allah benar-benar hadir
begitu dekat dan seakan menjawab do’aku.
*******
Pagi yang masih buta, suasana jalan belum begitu padat dengan
kendaraan. Hawa yang masih cukup dingin, suara ayam jantan milik pak muhajir
sudah mulai berkokok. Ku ambil motor vixion dari garasi, yang ku sewa dari
ALIF, tempat rental langgananku. Motor astrea andalan kami tak mungkin ku pakai
buat mboncengin Ian yang super gemuk. Kenapa saya mengajak Ian, karena dia yang
paling tahu jalan dan tempatnya, dan dia juga sudah punya banyak keluarga di
sana, karena dia pernah melakukan riset di Gunung Kidul.
Jarak Jogja dengan Gunung Kidul juga jauh, memakan waktu hampir dua
jam untuk sampai kesana. Dan bismillah, pagi itu aku siap memulai perjuangan. “Ian,,,udah siap
belum, buruan..!!!” Teriakku sambil menggenjot motor. “Ok, siap. Tunggu bentar
sad, aku lagi ngabisin kopi nih,,,”Mulutnya tergopoh-gopoh kepanasan .
“Buruan,,,mumpung masih sepi jalanya, tau sendiri kan kalo jalan udah padet..,,,”.
Tambahku lagi.
Hari itu aku dan Ian pergi ke Gunung Kidul, survei tempat untuk
baksos qurban. Terhitung sejak hari itu, kami punya waktu sekitar tiga minggu untuk
mencari dana. Dari mulai pengajuan proposal ke pihak kampus, ke semua dosen,
bahkan teman-teman di kampus kami mintai dana seikhlasnya. Apapun kita usahakan
demi kesuksesan acara.
Sampai di Gunung kidul, tempat yang pertama kami singgahi adalah
rumah pak dukuh. Tibalah di rumah pak dukuh, Ian mengucap salam,
“Assalamualaikum,,,,”Ucap Ian sambil mengetuk pintu. “Waalaikumussalam,,,,”,
tak lama kemudian dari arah belakang rumah terdengar suara perempuan separuh
baya. Kami menunggu sejenak, untuk dibukakan pintunya. “Eh,,,,mas Ian tow yang
datang,,,,ayo silahkan masuk”Pinta ibu dukuh dengan ramah. Kami pun duduk di
ruang tamu. “Maaf ya, tadi ibuk lagi di belakang jemur pakaian”. “Nggak apa-apa
buk, malah kita yang minta maaf, udah ngrepotin.”Ian menimbali.
Selama dua bulan melakukan riset di Gunung Kidul, Ian bersama
kelompoknya tinggal di rumah pak dukuh. Jadi udah dianggap kayak anak sendiri. “Bapak
lagi pergi kemana buk,,”, tanya Ian yang dari tadi nggak lihat sosok pak dukuh.
“Owh,,,bapak lagi ke kantor kelurahan, katanya tadi ada rapat desa,,”, timbal
bu dukuh.
Selang beberapa menit asyik
ngobrol sama ibuk dukuh, datanglah pak dukuh.
“Weleh,,,ada tamu agung tow...” sapa pak dukuh. “Eh,,,,bapak udah
dateng, gimana kabarnya pak,,,,???”Ian membalas. “Alhamdulillah baik,,,kamu itu
badanya kok tambah gemuk aja tow mas Ian....”. “Hehehehe.,.....”aku dan bu
dukuh ketawa mendengarnya. “Kenalkan pak, ini teman saya, namanya Assad..,” Ian
memperkenalkanku kepada pak dukuh.
Hampir satu jam aku dan Ian di rumah pak dukuh, niat dan tujuan
sudah kita sampaikan. Alhamdulillah pak dukuh dan ibuk merespon positif dan
sangat mendukung kegiatan kita. Tinggal menunggu semua dana anggaran terkumpul,
semua dana akan kita belikan hewan qurban. Pak dukuh bilang, semua warga ada
sekitar 195 KK. Jumlah yang cukup
banyak. Setelah di jamu makan, kita pamit pulang.
*******
Terik matahari
Jogja serasa membakar kulit, ditambah lamanya berhenti di traffic light.
Ampun, menambah rasa dahaga di tenggorokanku. Aku dan Ian singgah di masjid
untuk shalat dzuhur. Betapa hawa berubah seketika saat ku injakkan kaki di
lantai masjid yang terbuat dari marmer. Alangkah sejuknya, sepoy angin menambah
kesegaran dan keteduhan masjid. Suara iqomah sudah terdengar, membuatku gegas
mengambil air wudlu.
Kuperhatikan
bangunan dalam masjid yang cukup megah, dihiasi berbagai macam seni ukiran
kaligrafi. Tapi sayang, jama’ahnya tak begitu banyak. Ya maklumlah, waktu-waktu
tengah hari orang-orang masih disibukkan dengan pekerjaanya. tapi jangan lantas
melalaikan panggilan Tuhan. Aku segera masuk ke dalam shaf shalat.
Usai shalat aku
berdo’a mudah-mudahan semua proposal sudah ditanggapi dan ada hasilnya.
Kulangkahkan kaki keluar masjid. Tiba-tiba aku ingin kencing, “Yan, aku ke
toilet dulu ya....,”Kataku sambil menahan kencing. “Ow ya,,,oke, oke..,tak
tunggu di parkir motor...,”Singkat Ian.
Saat masuk toilet,
kudapati tas hitam agak kumal tergantung di dalam kamar kecil. “Ada yang lupa
membawa barangnya”Gumamku. Di mana-mana, di muka bumi
ini, barang tertinggal di kamar kecil sudah jamak dan biasa. Setelah kutunaikan
hajatku, Karena penasaran, kuambil tas itu dan kubuka isinya. Subhanallah,
sontak kaget kulihat isi bungkuan tas itu, tumpukan uang yang sangat banyak.
Belum pernah aku melihat uang sebanyak itu. Gegas kubawa tas itu keluar dari
toilet, mencari siapa pemilik tas hitam itu. Setelah keliling-keliling masjid,
menanyai orang-orang yang masih berada di dalam dan lingkungan masjid. Nihil,
tak juga kudapati siapa pemilik tas hitam itu. Kubawa tas itu menuju parkir, di
parkir Ian sudah menungguku. Kuceritakan semua prihal tas hitam itu kepada Ian.
Setelah ku cek,
ada kartu nama pemilik tas hitam itu. Tertulis nama Fuad Zaini dalam kartu
tersebut. Hari itu juga, setelah keluar dari parkiran Aku dan Ian berinisiatif langsung mencari alamat rumah pemilik tas
hitam itu. Karena aku sudah cukup faham daerah Jogja dan juga jalan-jalanya,
jadi tidak terlalu sulit kami mencari alamatnya.
“Alhamdulillah, dapat juga rumahnya” Gumamku lega. “Wiih, gede
banget nih rumah sad,,,”Ian keheranan melihat rumah pemilik tas hitam itu.
Kulihat pintu rumahnya terbuka. Langsung saja ku parkirkan motor di halaman
rumah. “Assalamualaikum,,,,,,”Ku ucapkan salam sambil memencet tombol.
“Waalaikumussalam,,,,iya,,”Terdengar suara wanita menjawab salamku. Tidak lama
kemudian pintunya dibuka, “Pengen ketemu sama siapa mas..???” Tanya wanita itu.
“Saya pengen ketemu sama pak Fuad Zaini buk,,,”Jawabku sambil melihat pada
kartu nama. “Ada keperluan apa ya,,,???”Tanya wanita itu lagi penuh selidik.
“Ini buk, kami tadi siang menemukan tas hitam ini ketinggalan di toilet masjid
Syuhada’. Di dalamnya kami temukan kartu nama, atas nama Fuad Zaini..,”Jawabku
sabil menjelaskan krologinya. “Ow, ya mas. Silahkan masuk. Saya panggilkan dulu
pak Fuadnya” Kata wanita itu menyilahkan kita masuk.
Beberapa menit
kita menunggu di ruang tamu, seorang lelaki separuh baya datang ke arahku dan
Ian. Aku pun berdiri untuk menyalaminya. “ Silahkan duduk, saya tadi sudah di
kasih tau sama pembantu saya, kalo kalian berdua ini telah menemukan tas hitam
saya yang hilang.” Lelaki itu dengan ramah memulai pembicaraan. “Ow, jadi ini
yang namanya Fuad Zaini. Ramah sekali orangnya” Gumamku. “Iya pak, sewaktu saya
masuk toilet saya nggak sengaja melihat ada tas hitam tergantung di kamar
kecil. Karena penasaran, langsung saya
ambil dan lihat isinya. Waktu itu saya sempat kaget melihat isinya. Di dalam
tas itu ada surat-surat plus uang yang sangat banyak. Dan silahkan bapak cek
sendiri isinya, insyaallah masih utuh. Saya dan teman saya tadi hanya mengambil
kartu nama di dalam tas hitam itu.” Aku menjelaskan kepada pak Fuad kronologi kejadianya.
Setelah isinya dicek langsung oleh pak Fuad,
beliau lega karena tidak ada satupun barang dalam tas itu hilang, termasuk
uangnya juga masih utuh. “Alhamdulillah, masih utuh nak. Surat-suratnya masih
komplit. Dan uangnya juga tidak ada yang hilang. Terima kasih banyak atas kebaikan kalian mengembalikan tas ini. Saya sudah khawatir.
Yang saya khawatirkan bukan uangnya tapi surat-surat pentingnya.”Pak fuad
berterima kasih kepada kita. “Tunggu sebentar ya nak..,,,”Lanjut pak Fuad
meninggalkanku dan Ian.
Aku dan Ian
menunggu di ruang tamu. “Alhamdulillah,,,,kita udah dapatkan
pemiliknya...,,”Syukurku...,,,. ”Eh sad,,,mungkin pak Fuad mau ngasih duit buat
kita tuh..,,”celetuk Ian berharap diberi hadiah. “Sssstttt, ngawur kamu. Kita
harus ikhlas mengembalikan tas itu. Ini amanah, jangan mengharapkan imbalan.
Insyaallah kita akan dapat balasan yang lebih baik..,,”Ian ku nasehati agar
tidak mengharap imbalan. “Ya, sorry sad,,,ya siapa tau kan bisa buat
tambah-tambah dana qurban kita,,”. Sambil menggaruk-garuk kepalanya. “Dah
tenang aja, pasti ada jalan lain nanti.”Aku mencoba memberi harapan.
Akhirnya pak Fuad keluar, “Saya sangat
berterima kasih pada kalian. Sebagai rasa terima kasih saya, bapak ingin
memberikan sesuatu pada kalian. Nilainya mungkin tidak seberapa tapi semoga
menjadi tanda syukur. Karena siapa yang tidak berterima kasih pada manusia dia
tidak berterima kasih kepada Allah.” Kata lelaki setengah baya berwajah ramah
bernama Fuad Zaini itu.
Aku belum sempat mengucapkan sepatah kata, namun pak Fuad telah mengulurkan amplop kepadaku. Dengan spontan aku menolaknya seraya berkata,
“Sebentar pak Fuad. Tadi siang itu saya hanya menunaikan amanah karena Allah. Itu saja. Itu sudah menjadi kewajiban saya sebagai seorang muslim. Jadi, rasanya tidak semestinya saya menerima yang berlebih. Tidak perlu berterima kasih atas sebuah kewajiban”.
“Iya. Kau benar. Tapi tolong terimalah tanda terima kasih saya padamu Nak. Terima kasih saya atas amanah yang kautunaikan.” Desak pak Fuad.
“Maaf, janganlah bapak memaksa saya untuk menerima
sesuatu sebagai imbalan kewajiban yang harus saya tunaikan. Sekali lagi jangan paksa saya!”.
Aku belum sempat mengucapkan sepatah kata, namun pak Fuad telah mengulurkan amplop kepadaku. Dengan spontan aku menolaknya seraya berkata,
“Sebentar pak Fuad. Tadi siang itu saya hanya menunaikan amanah karena Allah. Itu saja. Itu sudah menjadi kewajiban saya sebagai seorang muslim. Jadi, rasanya tidak semestinya saya menerima yang berlebih. Tidak perlu berterima kasih atas sebuah kewajiban”.
“Iya. Kau benar. Tapi tolong terimalah tanda terima kasih saya padamu Nak. Terima kasih saya atas amanah yang kautunaikan.” Desak pak Fuad.
“Maaf, janganlah bapak memaksa saya untuk menerima
sesuatu sebagai imbalan kewajiban yang harus saya tunaikan. Sekali lagi jangan paksa saya!”.
“Baiklah, saya tidak akan memaksamu lagi. semoga Allah
merahmati dan mengganti yang lebih baik bagimu nak”. “Iya pak, sama-sama. Kalo
begitu kami mau langsung pamit saja pak” Aku ijin pamit pulang. “Baiklah,
sekali lagi saya bener-benar berterima kasih pada kalian, hati-hati di jalan.
Kalau ada waktu singgahlah ke sini, rumah ini akan selalu terbuka untuk kalian
berdua.” Pak Fuad menambahkan.
*******
Malam itu cukup cerah, bintang-bintang indah berkilau menghiasi
angkasa langit. Tak ada tanda-tanda akan turun hujan. Sudah ke tujuh kalinya
aku mengadakan rapat dengan teman-teman panitia qurban yang lain. Sejauh usaha
yang kita lakukan, dana sementara terkumpul
sebesar dua puluh juta. Dana ini kita dapatkan dari kampus yang menyumbang sebesar
tiga belas juta, yang lima juta kita dapatkan dari para dosen yang menyumbang
seharga satu kambing. Target yang kita inginkan harus terkumpul dana sebesar
empat puluh juta. Dengan harapan membeli dua sapi dan lima kambing. Ini sudah
cukup dan rata untuk dibagikan kepada masyarakat di dukuh Ngondel Wetan Gunung
Kidul. Yang terkumpul baru setengahnya, padahal waktu tinggal dua minggu lagi
idul adha sudah tiba.
Hatiku mulai ragu, bimbang, dan
selalu bertanya, akankah acara ini terlaksana. Dua minggu lagi harus sudah selesai semua, target
sudah terpenuhi, hewan qurban harus sudah dibeli, dan masih banyak yang harus
diselesaikan. “Huuh....,,,”Ku menghela nafas panjang, memikirkan setumpuk
masalah yang mulai bersarang di kepalaku.
Malam itu rapat telah usai, kutinggalkan ruang kelas menuju kamar. Ku
pejamkan mataku sejenak untuk menghilangkan rasa penat dalam pikiran.
Dalam suasana tahajjud, ku adukan semua permasalahan kepada sang
kholiq. Mohon diberi jalan keluar terbaik untuk keberhasilan acara qurban di
Gunung Kidul.
*******
Hari berganti hari, waktu dua minggu tinggal lima hari. lima hari
lagi idul adha tiba, hari raya besar bagi umat Islam. Di dalam perayaan idul adha
ada sejarah besar yang terjadi pada Nabi Ibrahim AS dan putranya Ismail AS. Yaitu
Peristiwa penyembelihan Nabi Ibrahim terhadap putranya Ismail, dan sampai
sekarang telah di abadikan dan dijadikan peringatan untuk berqurban. Tatkala
Ibrahim akan menyembelih Ismail, karena menjalankan apa yang diperintah Allah
dan wujud cinta Ibrahim kepada-NYA. lalu Allah mengganti Ismail dengan seekor
kambing.
Semangat untuk berqurban terpancar dari dalam hati. Kita wujudkan
lewat pengorbanan dan perjuangan
mengumpulkan dana untuk kegiatan qurban. Ini bukti kecintaan kami kepada Allah.
Proposal demi proposal, surat pengajuan bantuan telah kita kirim.
Ada banyak yang memberi tapi tak sedikit yang nihil. Entah apa alasan proposal kami
ditolak, aku tak mau berburuk sangka. Sampai H-5 sebelum tiba idul adha, dana
yang terkumpul masih seperti dua minggu yang lalu, sebesar dua puluh juta.
Padahal anggaran dan target sebesar empat puluh juta. Masih kurang setengahnya
lagi. Entah dari mana lagi kita bisa mendapat dana sebesar itu.
Kabar terahir dari dukuh Ngondel Wetan Gunung Kidul sudah ku
dengar. Masyarakat sangat antusias akan menyambut kedatangan kami. Rencananya
pada malam takbiran, pak dukuh dan masyarakat akan mengadakan pengajian akbar
di kampungnya, sekaligus ada serah terima hewan qurban dari kita panitia kepada
pak dukuh sebagai wakil dari masyarakat. Di awal, Kita sudah bilang akan
memberikan dua sapi dan lima kambing. Tapi nyatanya dana yang terkumpul hanya
bisa untuk membeli satu sapi dan dua kambing. Ya Allah, tolong kami. kalimat
itu yang selalu ku ucap. Mau dapat bantuan dari mana lagi. Semua kita pasrahkan
kepada Allah. Hanya bantuan Allah yang bisa kita harapkan saat itu.
Senja mulai menjelang, mega merah sudah nampak di langit, matahari
mulai tenggelam dalam peraduanya. Beberapa menit lagi adzan maghrib berkumandang. Pintu gerbang asrama lima menit
lagi akan ditutup. Kulihat garasi, motor belum ada. “Ian udah pulang
belum,,,,”Tanyaku kepada Izzu. “Belum sad, di kamar belum ada...,,”Jawab Izzu
yang baru keluar dari kamar mandi. “Tadi mau ambil uang di ATM, tapi jam segini
kok belum pulang..,,”Gumamku yang agak khawatir.
“Pak,,,jangan ditutup dulu...,,”Teriakku sambil berlari ke arah
gerbang. “Jangan ditutup dulu ya pak, Ian belum pulang..,,,”Pintaku. “Ow
ya,,,la kemana dia kok jam segini belum pulang...,,”Tanya pak Barji (pak bon
asrama) juga ingin tau. “Tadi dia turun, saya suruh ambil uang qurban di ATM,
karena besok kita mau beli kambing..,,,”Jawabku sambil tolah-toleh ke jalan memastikan
kedatangan Ian.
Adzan sudah berkumandang, Ian juga tak kunjung datang. Ku telfon HP
nya, tapi nggak ada jawaban. Ku kirim SMS juga tidak dibalas. “Aduh, kemana kamu
Ian,,..”Gumamku yang semakin khawatir.
Iqomah sudah
terdengar, dalam keadaan khawatir ku bergegas menuju masjid. Shalat pun jadi
tidak tenang memikirkan Ian. Usai shalat
semua khusuk dengan dzikirnya masing-masing. Aku duduk di shaf ke dua, di
sebelahku ada Syamsul dan Ikhwan. “Assad, Ian udah pulang belum...,,”Tanya
Syamsul lirih. “Belum,...,aku khawatir sama tu anak”Jawabku lirih juga. “Waduh,
kemana tu anak, nggak pernah dia pulang sampai telat kayak gini,,,”Dengan lirih
Ikhwan menambahi.
Suasana yang
begitu tenang, tiba-tiba digaduhkan dengan suara orang yang sedang berlari
menuju masjid. Suaranya semakin mendekat, “Ian kecelakaan,,,,”Teriak pak Barji
dengan nafas agak terengah-engah. “Astaghfirullahaladzim,,,,”Semua serentak
istighfar. “Sekarang dia dimana pak...,,!!!!”Tanyaku serius. “Dia sekarang
sudah dilarikan ke rumah sakit, keadaanya masih koma belum sadar,,,”. “Ya
Allah,,,,”Aku semakin kaget mendengar berita itu. Pak barji dapat kabar dari
warga sekitar yang melihat Ian kecelakaan parah di jalan kaliurang Km.10.
Malam itu juga,
usai shalat isya’ aku dan Ikhwan pergi ke rumah sakit.
Sampai di RS, langsung kucari ruang UGD. “Suster,,,atas nama pasien
Ian Laksmana, kamarnya dimana...,,”Tanyaku kepada petugas dengan tergesa-gesa. “Di kamar Mawar nomor
tiga...”Jawab suster singkat. Kucari kamar mawar nomor tiga, ahirnya ku dapat.
Kulihat Ian di dalam ruangan, suster tak membolehkanku masuk.
“Ya Allah, selamatkanlah Ian, tolong dia, jangan Engkau ambil
nyawanya...,,,”Gumamku semakin cemas. Tak sadar air mataku mulai menetes. Rasa
sesal menyelimuti jiwa. “Ini salahku Wan,,,kenapa tadi siang aku menyuruhnya
ambil uang di ATM. Kalau tau begini, Ian nggak akan ku suruh...,,”Aku semakin
menyesali perbuatanku sendiri. “Assad,,,kamu nggak salah, ini semua udah ada yang
ngatur. Jangan menyalahkan dirimu. Sudahlah, kita berdo’a saja biar Ian tidak
apa-apa”.
Setengah jam sudah aku dan Ikhwan menunggu di
kursi depan kamar tempat Ian dirawat, ahirnya dokter keluar dari ruangan kamar.
“Bagaimana dokter keadaan teman saya,,,,,”Tanyaku dengan cemas.
“Teman kamu masih ada harapan untuk ditolong. Tapi maaf, dia harus dioprasi
secepatnya. Kalau setuju, silahkan anda urus semua administrasinya”. Waktu itu
aku semakin sedih mendengarnya. “Kamu telfon aja orang tuanya Ian sad, gimana???”Usul
Ikhwan. “Jangan sekarang, aku tau betul kondisi orang tuanya bagaimana. Apalagi
bapaknya yang punya penyakit jantung. Aku nggak mau keadaanya semakin parah
nanti.”
Ku coba tanya
berapa biaya oprasi yang harus dibayar, suster menjawab sekitar dua puluh juta,
itu sudah termasuk biaya pengobatan dan sewa kamar sampai sembuh. Betapa
kagetnya aku waktu itu, bingung mau dapat dari mana uang sebanyak itu.
Tiba-tiba aku teringat uang qurban yang sudah kita kumpulkan mati-matian itu.
Aku juga berfikir, kalau uang qurban digunakan untuk biaya operasi Ian, lantas
bagaimana dengan acara qurban di Gunung Kidul yang sudah disepakati. Aku sangat
bingung berada dalam dua dilema yang sangat serius. Antara memilih Ian tetap
tertolong atau acara qurban dibatalkan. “Ya Allah, hamba hampir putus asa
menghadapi cobaan berat-Mu ini, berikan bantuan dan jalan keluar Ya
Allah,,,”Aku yang masih sangat bingung, sambil berdo’a kepada Allah agar
diberikan jalan keluar.
Qurban bisa kita
adakan lagi tahun depan, tapi nyawa Ian hanya satu. Dia harus segara ditolong. Ditengah
kebingungan yang sedang melanda, Tiba-tiba ada orang menepuk pundakku dari
belakang. Ku balikkan badanku, memandang orang yang menepukku. Seorang lelaki
separuh baya berwajah ramah yang dulu pernah kutemukan tas hitamnya dalam kamar
kecil di masjid Syuhada’. “Masyaallah, pak Fuad Zain....,,,,”Aku kaget ketika
melihatnya. Tak ku sangka, aku dipertemukan dengan beliau lagi. Kami sempat
mengobrol agak lama, ternyata istri beliau juga sedang sakit, tapi tidak parah.
Hanya gejala tipus. Dan harus di okname untuk beberapa hari saja. Kuceritakan
masalah yang saat itu ku hadapi kepada pak Fuad. Dan pak Fuad ikut prihatin
mendengarnya.
“Nak Assad, dulu
nak Assad sudah mengembalikan tas hitam saya ke rumah dengan keadaan masih
utuh. Dan nak Assad sempat menolak hadiah tanda terima kasih saya atas
kejujuran nak Assad. Sekarang saya harapkan nak Assad tidak menolak lagi hadiah
terima kasih saya. Saya akan menanggung semua biaya operasinya nak Ian, dan
saya juga akan menyumbang sebesar dua puluh juta untuk acara qurban
kalian...,,,”. Aku masih terdiam, tak bisa berkata apa-apa setelah mendengar
perkataan pak Fuad. “Allahuakbar,,,,”Ku peluk pak Fuad dengan kucuran air mata
yang amat deras. “Alhamdulillah,,,,ya Allah..,,”Ku peluk juga Ikhwan dengan penuh
rasa syukur. “Terima kasih banyak pak Fuad atas bantuan besar bapak untuk
kami.”. “Sama-sama, bapak juga bersyukur. Untung dulu tas bapak ditemukan oleh
orang jujur seperti nak Assad.”
Semua hanyut dalam
kebahagiaan, ahirnya operasi Ian berjalan dengan lancar. Dia bisa diselamatkan.
Dan berkat pertolongan Allah lewat jalan pak Fuad, acara qurban di Gunung Kidul
juga berjalan dengan sukses.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar