Jumat, 05 Juni 2015

BERKORBAN UNTUK BERQURBAN

Rintikan hujan yang masih mengguyur namun tak begitu deras, angin malam yang menyergap, membuat hawa menjadi amat dingin, hingga menggigilkan badan. Suara-suara sekawanan hewan  malam terdengar saling sahut-sahutan di  saentero asrama. Entah mau sampai jam berapa  hujan berahir membasahi bumi Hargobinangun, sebuah desa tempat kami tinggal. Kondisi hujan yang tak kunjung reda, membuat suasana semakin sepi senyap, Malam juga semakin larut, Jalan mulai sepi,  hampir tak ada lagi  kendaraan yang lalu lalang melintas. Entah kemana  manusia pribumi, mungkin sudah terkapar di atas kasur empuk dengan selimut tebalnya.
Namun tak berlaku pada kami, mau kondisi hujan deras atau tidak, hawa yang super ekstrim dinginya sampai dibawah 10 derajat celsius pun  kami lawan. Karena malam itu kami sudah sepakat untuk mengadakan rapat pembentukan tim panitia qurban. Malam itu kami berjumlah sepuluh orang, diantaranya aku, Ikhwan, Ian, Syamsul, Ilham, Muhyi, Herman, Siregar, Miftah, dan terahir Izzu. Atas inisiatifku, aku ingin mengajak semua mahasiswa yang ada di asrama untuk  ikut acara bakti sosial saat idul adha, yaitu qurban. Tapi yang ingin berpartisipasi hanya sepuluh orang saja. Ya tak apa lah, tujuan kami baik, disamping ingin berbagi, kami juga ingin mensyiarkan agama Islam di daerah pelosok.
Rapat yang hampir berjalan selama satu jam, ahirnya membuahkan hasil,  terbentuklah tim panitia qurban. Alhamdulillah  aku dipercayai  untuk menjadi ketua panitia. Entah apa alasan mereka memilihku. Mungkin aku lebih tua dari mereka, tidak. Umurku paling muda diantara mereka. Atau mungkin aku orang yang tanggung jawab, bisa memimpin, pinter mengkoordinasi keadaan, atau karena aku yang punya ide kegiatan ini, entahlah, aku tak mau terlalau menyelidikinya.
Setelah terbentuk jajaran tim panitia, aku mengambil alih pimpinan rapat,  untuk membahas masalah tempat diadakanya qurban.
“Terima kasih telah mempercayai saya sebagai ketua, insyaallah saya akan menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. Oke, Selanjutnya kita akan membahas masalah tempat atau daerah yang akan kita tuju nanti, dengan beberapa pertimbangan. Pertama, daerah ini dari segi ekonomi masyarakatnya adalah menengah kebawah. Kedua,  belum pernah diadakan qurban di daerah tersebut. Nah,  Silahkan dari teman-teman kalau punya usul...,,” pintaku.
“Izin masuk pak ketua,,”dari pojok kanan, Ikhwan mengacungkan jari, orang paling tinggi di asrama kami, tingginya 180 cm. Kalau di asrama ada lampu yang mati, dia yang paling kami andalkan, Karena lampu-lampu di asrama kebanyakan tempatnya tinggi. “Silahkan Ikhwan,,,,”Aku menimbali. “Begini, saya punya usul tempat, di kabupaten Kulon Progo. Dengan pertimbangan, daerah ini masih banyak lokasi yang masyarakatnya masih dibawah rata-rata, baik dari segi ekonomi dan juga pendidikanya.  juga masalah diadakan qurbanya juga belum merata. Hanya tempat-tempat yang tergolong kota saja yang sudah ada. Tempat pelosok belum pernah sama sekali. Kebetulan saya punya pakde disana, dan saya juga pernah tinggal sebulan di sana, jadi saya agak tau persis gimana keadaan daerah kulon Progo. Itu usulan dari saya pak ketua.” Tutup Ikhwan.
            “Terima kasih saudara Ikhwan. Baik, kita sudah dapat satu gambaran tempat, di Kulon Progo. Saya tampung dulu usulan ini. Silahkan kalau masih ada usulan dari temen-temen lagi.” Pintaku.  “Saya pak ketua..,,” Ian mengangkat tanganya. teman kami satu ini, mahasiswa paling gemuk seasrama, berat badanya kurang lebih 120 kg, angka yang fantastis. di asrama, dia juga pernah mendapat award sebagai obesitas man. “Monggo mas Ian, wekdal soho panggenan kawulo sumanggaaken...,,hehehe(silahkan mas Ian, waktu dan tempat saya persilahkan)” dengan bahasa jawa dan sedikit nada lembut saya mempersilahkan Ian. “Wkwkwkwkw....”seluruh ruangan dipenuhi suara tawa.
            “Injeh pak ketua, matur suwun,,...hehehe(iya pak ketua, terima kasih). jadi langsung saja, kalo saya punya usul di kabupaten Gunung Kidul. Alasanya, saya pernah tugas riset di sana selama dua bulan, jadi saya faham betul kondisi tempat dan masyarakatnya. Dari segi ekonomi, masih dibawah rata-rata. Kondisi tempatnya juga agak memprihatinkan. Kurangnya akses air bersih, tempat sekolah yang jauh dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki, masalahnya di sana daerah gunung, jadi tempatnya naik turun. Bahkan sinyalpun yang ada Cuma XL, pokoknya daerahnya menantang. Trus masalah qurbanya, di sana juga belum pernah sama sekali diadakan qurban. Itu usulan dari saya pak ketua” tutup Ian dengan senyum.
           
Setelah beberapa menit berjalan, tidak ada lagi usulan dari temen-temen. Jadi hanya ada dua opsi tempat waktu itu, Kulon Progo dan Gunung Kidul. Dan setelah kami pertimbangkan, kami sepakati tempatnya di Gunung Kidul. Dengan pertimbangan, dari segi geografis lebih menantang dan dari segi ekonomi lebih membutuhkan.
            “Tokotokotokotok,,,,,,,,” suara motor astrea keluaran tahun dua ribuan mulai terdengar. Motor andalan kami, kemana-mana selalu jadi tunggangan. motor ini milik pak Muhajir, begitulah kami memanggil beliau. Beliau adalah kepala asrama kami. Beliau sudah memberikan hak pakai sepenuhnya kepada mahasiswa di asrama, siapa yang mau pakai silahkan, asal bensin ditanggung sendiri. Walaupun keluaran tahun dua ribuan, tapi mesin masih bagus, Karena selalu kami rawat.
“Wah,,,,tu kayaknya gorenganya udah datang..,,,” teriak si Izzu, Manusia paling maniak sama yang namanya gorengan.
            “Assalamualaikum,,,,,,,” ucap Herman sambil membuka pintu. “Waalaikumussalam,,,,,,alhamdulillah.,,,” semua menjawab dengan girang. “Sorry Sad, aku sama Ilham agak lama..,,,” tambah Herman. “Sipt, nggak papa,,,,langsung dibagikan aja gorenganya...,” pintaku. Hawa dingin berubah jadi hangat ketika kami menyantap gorengan yang masih panas. Ditambah minuman kopi hangat yang baru saja dibuat Muhyi sama Syamsul. Wuih,,,mak nyus,,,. Habisnya gorengan dan kopi, membuat selesai juga rapat kami malam itu.
Aku tinggal di asrama bersama mahasiswa lainya, tepatnya di Jl. Kaliurang, Km. 23,3, Hargobinagun, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Sekitar lima belas kilo meter dari puncak gunung merapi, bisa dikatakan kami tinggal di daerah pegunungan. Ini adalah sebuah asrama yang disediakan oleh kampus untuk mahasiswa-mahasiswa berprestasi yang ingin tinggal di asrama. Selain belajar menjadi lebih fokus, para mahasiswa juga ditempa jiwa spiritualitasnya. Mulai dari shalat tahajjud, kajian-kajian Islam setiap usai shalat subuh, dan da’wah di lingkungan masyarakat sekitar, itu semua telah menjadi kegiatan rutin mahasiswa setelah pulang dari kampus.
*******
Alam yang begitu sepi,  manusia pun masih terbaring dalam mimpi indah mereka, waktu itulah Allah dan para malaikat-NYA turun ke bumi untuk melihat siapa diantara manusia yang bangun dari lelap tidurnya, yang memaksa diri untuk melepas semua belenggu-belenggu syaitan yang menyelimuti diri mereka, untuk menghambakan diri menghadap sang ilahi, Hingga tak ada jarak lagi seorang hamba dengan Rabbnya. Begitu dekat dan sungguh dekat. Allah akan mendengar dan mengabulkan setiap do’a yang terucap dari lisan seorang hamba pada waaktu itu.
Adzan pertama telah berkumandang, suaranya mendayu-dayu memecah sepi, tanda shalat tahajjud akan dilaksanakan. Mataku masih terasa sulit untuk dibuka, serasa syaitan masih berayun-ayun di bulu mataku. Namun kupaksakan untuk meraih ridho ilahi. Kumandang adzan mengantarku gegas mengambil air wudlu dari pancuran yang kesegaranya meresap hingga lapisan dermis wajah. Mata bagai menatap cahaya yang paling terang di dunia. Di depan mata seolah hanya nirwana. Aku pun melangkah ke masjid yang tak jauh dari asrama seperti langkah malaikat menembus langit ke tujuh.
Dalam lafadz do’a, aku memohon kepada sang maha pengabul do’a, “Ya Allah, Engkau maha kuasa, pemilik apa yang ada di jagad raya ini. Hamba hanyalah mahluk kecil yang tak berdaya, tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kekuasaan-Mu yang begitu dahsyatnya. Ya Allah, kami mempunyai hajat yang cukup besar di hari idul adha nanti, kami ingin berbagi dengan sesama, kami ingin mensyiarkan dan membumikan agama-Mu. Berikanlah pertolongan-Mu ya Allah, agar niat baik kami ini Engkau terima dan terlaksana dengan sukses. Bukalah hati para dermawan agar mau menyisihkan hartanya untuk membantu kami menyalurkan kepada mereka-mereka yang membutuhkan. Amiin,,,” air mataku semakin mengalir membasahi pipi saat aku merasa bahwa Allah benar-benar hadir begitu dekat dan seakan menjawab do’aku.  
*******
Pagi yang masih buta, suasana jalan belum begitu padat dengan kendaraan. Hawa yang masih cukup dingin, suara ayam jantan milik pak muhajir sudah mulai berkokok. Ku ambil motor vixion dari garasi, yang ku sewa dari ALIF, tempat rental langgananku. Motor astrea andalan kami tak mungkin ku pakai buat mboncengin Ian yang super gemuk. Kenapa saya mengajak Ian, karena dia yang paling tahu jalan dan tempatnya, dan dia juga sudah punya banyak keluarga di sana, karena dia pernah melakukan riset di Gunung Kidul.
Jarak Jogja dengan Gunung Kidul juga jauh, memakan waktu hampir dua jam untuk sampai kesana. Dan bismillah, pagi itu aku  siap memulai perjuangan. “Ian,,,udah siap belum, buruan..!!!” Teriakku sambil menggenjot motor. “Ok, siap. Tunggu bentar sad, aku lagi ngabisin kopi nih,,,”Mulutnya tergopoh-gopoh kepanasan . “Buruan,,,mumpung masih sepi jalanya, tau sendiri kan kalo jalan udah padet..,,,”. Tambahku lagi.
Hari itu aku dan Ian pergi ke Gunung Kidul, survei tempat untuk baksos qurban. Terhitung sejak hari itu, kami punya waktu sekitar tiga minggu untuk mencari dana. Dari mulai pengajuan proposal ke pihak kampus, ke semua dosen, bahkan teman-teman di kampus kami mintai dana seikhlasnya. Apapun kita usahakan demi kesuksesan acara.
Sampai di Gunung kidul, tempat yang pertama kami singgahi adalah rumah pak dukuh. Tibalah di rumah pak dukuh, Ian mengucap salam, “Assalamualaikum,,,,”Ucap Ian sambil mengetuk pintu. “Waalaikumussalam,,,,”, tak lama kemudian dari arah belakang rumah terdengar suara perempuan separuh baya. Kami menunggu sejenak, untuk dibukakan pintunya. “Eh,,,,mas Ian tow yang datang,,,,ayo silahkan masuk”Pinta ibu dukuh dengan ramah. Kami pun duduk di ruang tamu. “Maaf ya, tadi ibuk lagi di belakang jemur pakaian”. “Nggak apa-apa buk, malah kita yang minta maaf, udah ngrepotin.”Ian menimbali.
Selama dua bulan melakukan riset di Gunung Kidul, Ian bersama kelompoknya tinggal di rumah pak dukuh. Jadi udah dianggap kayak anak sendiri. “Bapak lagi pergi kemana buk,,”, tanya Ian yang dari tadi nggak lihat sosok pak dukuh. “Owh,,,bapak lagi ke kantor kelurahan, katanya tadi ada rapat desa,,”, timbal bu dukuh.
Selang beberapa menit  asyik ngobrol sama ibuk dukuh, datanglah pak dukuh.
“Weleh,,,ada tamu agung tow...” sapa pak dukuh. “Eh,,,,bapak udah dateng, gimana kabarnya pak,,,,???”Ian membalas. “Alhamdulillah baik,,,kamu itu badanya kok tambah gemuk aja tow mas Ian....”. “Hehehehe.,.....”aku dan bu dukuh ketawa mendengarnya. “Kenalkan pak, ini teman saya, namanya Assad..,” Ian memperkenalkanku kepada pak dukuh.
Hampir satu jam aku dan Ian di rumah pak dukuh, niat dan tujuan sudah kita sampaikan. Alhamdulillah pak dukuh dan ibuk merespon positif dan sangat mendukung kegiatan kita. Tinggal menunggu semua dana anggaran terkumpul, semua dana akan kita belikan hewan qurban. Pak dukuh bilang, semua warga ada sekitar 195 KK.  Jumlah yang cukup banyak. Setelah di jamu makan, kita pamit pulang.


*******
            Terik matahari Jogja serasa membakar kulit, ditambah lamanya berhenti di traffic light. Ampun, menambah rasa dahaga di tenggorokanku. Aku dan Ian singgah di masjid untuk shalat dzuhur. Betapa hawa berubah seketika saat ku injakkan kaki di lantai masjid yang terbuat dari marmer. Alangkah sejuknya, sepoy angin menambah kesegaran dan keteduhan masjid. Suara iqomah sudah terdengar, membuatku gegas mengambil air wudlu.
            Kuperhatikan bangunan dalam masjid yang cukup megah, dihiasi berbagai macam seni ukiran kaligrafi. Tapi sayang, jama’ahnya tak begitu banyak. Ya maklumlah, waktu-waktu tengah hari orang-orang masih disibukkan dengan pekerjaanya. tapi jangan lantas melalaikan panggilan Tuhan. Aku segera masuk ke dalam shaf shalat.
            Usai shalat aku berdo’a mudah-mudahan semua proposal sudah ditanggapi dan ada hasilnya. Kulangkahkan kaki keluar masjid. Tiba-tiba aku ingin kencing, “Yan, aku ke toilet dulu ya....,”Kataku sambil menahan kencing. “Ow ya,,,oke, oke..,tak tunggu di parkir motor...,”Singkat Ian.
            Saat masuk toilet, kudapati tas hitam agak kumal tergantung di dalam kamar kecil. “Ada yang lupa membawa barangnya”Gumamku. Di mana-mana, di muka bumi ini, barang tertinggal di kamar kecil sudah jamak dan biasa. Setelah kutunaikan hajatku, Karena penasaran, kuambil tas itu dan kubuka isinya. Subhanallah, sontak kaget kulihat isi bungkuan tas itu, tumpukan uang yang sangat banyak. Belum pernah aku melihat uang sebanyak itu. Gegas kubawa tas itu keluar dari toilet, mencari siapa pemilik tas hitam itu. Setelah keliling-keliling masjid, menanyai orang-orang yang masih berada di dalam dan lingkungan masjid. Nihil, tak juga kudapati siapa pemilik tas hitam itu. Kubawa tas itu menuju parkir, di parkir Ian sudah menungguku. Kuceritakan semua prihal tas hitam itu kepada Ian.
            Setelah ku cek, ada kartu nama pemilik tas hitam itu. Tertulis nama Fuad Zaini dalam kartu tersebut. Hari itu juga, setelah keluar dari parkiran Aku dan Ian berinisiatif  langsung mencari alamat rumah pemilik tas hitam itu. Karena aku sudah cukup faham daerah Jogja dan juga jalan-jalanya, jadi tidak terlalu sulit kami mencari alamatnya.
“Alhamdulillah, dapat juga rumahnya” Gumamku lega. “Wiih, gede banget nih rumah sad,,,”Ian keheranan melihat rumah pemilik tas hitam itu. Kulihat pintu rumahnya terbuka. Langsung saja ku parkirkan motor di halaman rumah. “Assalamualaikum,,,,,,”Ku ucapkan salam sambil memencet tombol. “Waalaikumussalam,,,,iya,,”Terdengar suara wanita menjawab salamku. Tidak lama kemudian pintunya dibuka, “Pengen ketemu sama siapa mas..???” Tanya wanita itu. “Saya pengen ketemu sama pak Fuad Zaini buk,,,”Jawabku sambil melihat pada kartu nama. “Ada keperluan apa ya,,,???”Tanya wanita itu lagi penuh selidik. “Ini buk, kami tadi siang menemukan tas hitam ini ketinggalan di toilet masjid Syuhada’. Di dalamnya kami temukan kartu nama, atas nama Fuad Zaini..,”Jawabku sabil menjelaskan krologinya. “Ow, ya mas. Silahkan masuk. Saya panggilkan dulu pak Fuadnya” Kata wanita itu menyilahkan kita masuk.
            Beberapa menit kita menunggu di ruang tamu, seorang lelaki separuh baya datang ke arahku dan Ian. Aku pun berdiri untuk menyalaminya. “ Silahkan duduk, saya tadi sudah di kasih tau sama pembantu saya, kalo kalian berdua ini telah menemukan tas hitam saya yang hilang.” Lelaki itu dengan ramah memulai pembicaraan. “Ow, jadi ini yang namanya Fuad Zaini. Ramah sekali orangnya” Gumamku. “Iya pak, sewaktu saya masuk toilet saya nggak sengaja melihat ada tas hitam tergantung di kamar kecil. Karena  penasaran, langsung saya ambil dan lihat isinya. Waktu itu saya sempat kaget melihat isinya. Di dalam tas itu ada surat-surat plus uang yang sangat banyak. Dan silahkan bapak cek sendiri isinya, insyaallah masih utuh. Saya dan teman saya tadi hanya mengambil kartu nama di dalam tas hitam itu.” Aku menjelaskan  kepada pak Fuad kronologi kejadianya.
             Setelah isinya dicek langsung oleh pak Fuad, beliau lega karena tidak ada satupun barang dalam tas itu hilang, termasuk uangnya juga masih utuh. “Alhamdulillah, masih utuh nak. Surat-suratnya masih komplit. Dan uangnya juga tidak ada yang hilang. Terima kasih banyak  atas kebaikan kalian  mengembalikan tas ini. Saya sudah khawatir. Yang saya khawatirkan bukan uangnya tapi surat-surat pentingnya.”Pak fuad berterima kasih kepada kita. “Tunggu sebentar ya nak..,,,”Lanjut pak Fuad meninggalkanku dan Ian.
            Aku dan Ian menunggu di ruang tamu. “Alhamdulillah,,,,kita udah dapatkan pemiliknya...,,”Syukurku...,,,. ”Eh sad,,,mungkin pak Fuad mau ngasih duit buat kita tuh..,,”celetuk Ian berharap diberi hadiah. “Sssstttt, ngawur kamu. Kita harus ikhlas mengembalikan tas itu. Ini amanah, jangan mengharapkan imbalan. Insyaallah kita akan dapat balasan yang lebih baik..,,”Ian ku nasehati agar tidak mengharap imbalan. “Ya, sorry sad,,,ya siapa tau kan bisa buat tambah-tambah dana qurban kita,,”. Sambil menggaruk-garuk kepalanya. “Dah tenang aja, pasti ada jalan lain nanti.”Aku mencoba memberi harapan.

Akhirnya pak Fuad keluar, “Saya sangat berterima kasih pada kalian. Sebagai rasa terima kasih saya, bapak ingin memberikan sesuatu pada kalian. Nilainya mungkin tidak seberapa tapi semoga menjadi tanda syukur. Karena siapa yang tidak berterima kasih pada manusia dia tidak berterima kasih kepada Allah.” Kata lelaki setengah baya berwajah ramah bernama Fuad Zaini itu.
Aku belum sempat mengucapkan sepatah kata, namun pak Fuad telah mengulurkan amplop kepadaku. Dengan spontan aku menolaknya seraya berkata,
“Sebentar pak Fuad. Tadi siang itu saya hanya menunaikan amanah karena Allah. Itu saja. Itu sudah menjadi kewajiban saya sebagai seorang muslim. Jadi, rasanya tidak semestinya saya menerima yang berlebih. Tidak perlu berterima kasih atas sebuah kewajiban”.
“Iya. Kau benar. Tapi tolong terimalah tanda terima kasih saya padamu Nak. Terima kasih saya atas amanah yang kautunaikan.” Desak pak Fuad.
“Maaf, janganlah bapak memaksa saya untuk menerima
sesuatu sebagai imbalan kewajiban yang harus saya tunaikan. Sekali lagi jangan paksa saya!”.
“Baiklah, saya tidak akan memaksamu lagi. semoga Allah merahmati dan mengganti yang lebih baik bagimu nak”. “Iya pak, sama-sama. Kalo begitu kami mau langsung pamit saja pak” Aku ijin pamit pulang. “Baiklah, sekali lagi saya bener-benar berterima kasih pada kalian, hati-hati di jalan. Kalau ada waktu singgahlah ke sini, rumah ini akan selalu terbuka untuk kalian berdua.” Pak Fuad menambahkan.
*******
Malam itu cukup cerah, bintang-bintang indah berkilau menghiasi angkasa langit. Tak ada tanda-tanda akan turun hujan. Sudah ke tujuh kalinya aku mengadakan rapat dengan teman-teman panitia qurban yang lain. Sejauh usaha yang  kita lakukan, dana sementara terkumpul sebesar dua puluh juta. Dana ini kita dapatkan dari kampus yang menyumbang sebesar tiga belas juta, yang lima juta kita dapatkan dari para dosen yang menyumbang seharga satu kambing. Target yang kita inginkan harus terkumpul dana sebesar empat puluh juta. Dengan harapan membeli dua sapi dan lima kambing. Ini sudah cukup dan rata untuk dibagikan kepada masyarakat di dukuh Ngondel Wetan Gunung Kidul. Yang terkumpul baru setengahnya, padahal waktu tinggal dua minggu lagi idul adha sudah tiba.
Hatiku mulai ragu, bimbang, dan  selalu bertanya, akankah acara ini terlaksana. Dua  minggu lagi harus sudah selesai semua, target sudah terpenuhi, hewan qurban harus sudah dibeli, dan masih banyak yang harus diselesaikan. “Huuh....,,,”Ku menghela nafas panjang, memikirkan setumpuk masalah yang mulai bersarang di kepalaku.
Malam itu rapat telah usai, kutinggalkan ruang kelas menuju kamar. Ku pejamkan mataku sejenak untuk menghilangkan rasa penat dalam pikiran.
Dalam suasana tahajjud, ku adukan semua permasalahan kepada sang kholiq. Mohon diberi jalan keluar terbaik untuk keberhasilan acara qurban di Gunung Kidul.
*******
Hari berganti hari, waktu dua minggu tinggal lima hari. lima hari lagi idul adha tiba, hari raya besar bagi umat Islam. Di dalam perayaan idul adha ada sejarah besar yang terjadi pada Nabi Ibrahim AS dan putranya Ismail AS. Yaitu Peristiwa penyembelihan Nabi Ibrahim terhadap putranya Ismail, dan sampai sekarang telah di abadikan dan dijadikan peringatan untuk berqurban. Tatkala Ibrahim akan menyembelih Ismail, karena menjalankan apa yang diperintah Allah dan wujud cinta Ibrahim kepada-NYA. lalu Allah mengganti Ismail dengan seekor kambing.
Semangat untuk berqurban terpancar dari dalam hati. Kita wujudkan lewat  pengorbanan dan perjuangan mengumpulkan dana untuk kegiatan qurban. Ini bukti kecintaan kami kepada Allah.
Proposal demi proposal, surat pengajuan bantuan telah kita kirim. Ada banyak yang memberi tapi tak sedikit yang nihil. Entah apa alasan proposal kami ditolak, aku tak mau berburuk sangka. Sampai H-5 sebelum tiba idul adha, dana yang terkumpul masih seperti dua minggu yang lalu, sebesar dua puluh juta. Padahal anggaran dan target sebesar empat puluh juta. Masih kurang setengahnya lagi. Entah dari mana lagi kita bisa mendapat dana sebesar itu.
Kabar terahir dari dukuh Ngondel Wetan Gunung Kidul sudah ku dengar. Masyarakat sangat antusias akan menyambut kedatangan kami. Rencananya pada malam takbiran, pak dukuh dan masyarakat akan mengadakan pengajian akbar di kampungnya, sekaligus ada serah terima hewan qurban dari kita panitia kepada pak dukuh sebagai wakil dari masyarakat. Di awal, Kita sudah bilang akan memberikan dua sapi dan lima kambing. Tapi nyatanya dana yang terkumpul hanya bisa untuk membeli satu sapi dan dua kambing. Ya Allah, tolong kami. kalimat itu yang selalu ku ucap. Mau dapat bantuan dari mana lagi. Semua kita pasrahkan kepada Allah. Hanya bantuan Allah yang bisa kita harapkan saat itu.
Senja mulai menjelang, mega merah sudah nampak di langit, matahari mulai tenggelam dalam peraduanya. Beberapa menit lagi adzan maghrib  berkumandang. Pintu gerbang asrama lima menit lagi akan ditutup. Kulihat garasi, motor belum ada. “Ian udah pulang belum,,,,”Tanyaku kepada Izzu. “Belum sad, di kamar belum ada...,,”Jawab Izzu yang baru keluar dari kamar mandi. “Tadi mau ambil uang di ATM, tapi jam segini kok belum pulang..,,”Gumamku yang agak khawatir.
“Pak,,,jangan ditutup dulu...,,”Teriakku sambil berlari ke arah gerbang. “Jangan ditutup dulu ya pak, Ian belum pulang..,,,”Pintaku. “Ow ya,,,la kemana dia kok jam segini belum pulang...,,”Tanya pak Barji (pak bon asrama) juga ingin tau. “Tadi dia turun, saya suruh ambil uang qurban di ATM, karena besok kita mau beli kambing..,,,”Jawabku sambil tolah-toleh ke jalan memastikan kedatangan Ian.
Adzan sudah berkumandang, Ian juga tak kunjung datang. Ku telfon HP nya, tapi nggak ada jawaban. Ku kirim SMS juga tidak dibalas. “Aduh, kemana kamu Ian,,..”Gumamku yang semakin khawatir.
            Iqomah sudah terdengar, dalam keadaan khawatir ku bergegas menuju masjid. Shalat pun jadi tidak tenang memikirkan  Ian. Usai shalat semua khusuk dengan dzikirnya masing-masing. Aku duduk di shaf ke dua, di sebelahku ada Syamsul dan Ikhwan. “Assad, Ian udah pulang belum...,,”Tanya Syamsul lirih. “Belum,...,aku khawatir sama tu anak”Jawabku lirih juga. “Waduh, kemana tu anak, nggak pernah dia pulang sampai telat kayak gini,,,”Dengan lirih Ikhwan menambahi.
            Suasana yang begitu tenang, tiba-tiba digaduhkan dengan suara orang yang sedang berlari menuju masjid. Suaranya semakin mendekat, “Ian kecelakaan,,,,”Teriak pak Barji dengan nafas agak terengah-engah. “Astaghfirullahaladzim,,,,”Semua serentak istighfar. “Sekarang dia dimana pak...,,!!!!”Tanyaku serius. “Dia sekarang sudah dilarikan ke rumah sakit, keadaanya masih koma belum sadar,,,”. “Ya Allah,,,,”Aku semakin kaget mendengar berita itu. Pak barji dapat kabar dari warga sekitar yang melihat Ian kecelakaan parah di jalan kaliurang Km.10.
            Malam itu juga, usai shalat isya’ aku dan Ikhwan pergi ke rumah sakit.
Sampai di RS, langsung kucari ruang UGD. “Suster,,,atas nama pasien Ian Laksmana, kamarnya dimana...,,”Tanyaku kepada petugas  dengan tergesa-gesa. “Di kamar Mawar nomor tiga...”Jawab suster singkat. Kucari kamar mawar nomor tiga, ahirnya ku dapat. Kulihat Ian di dalam ruangan, suster tak membolehkanku masuk.
“Ya Allah, selamatkanlah Ian, tolong dia, jangan Engkau ambil nyawanya...,,,”Gumamku semakin cemas. Tak sadar air mataku mulai menetes. Rasa sesal menyelimuti jiwa. “Ini salahku Wan,,,kenapa tadi siang aku menyuruhnya ambil uang di ATM. Kalau tau begini, Ian nggak akan ku suruh...,,”Aku semakin menyesali perbuatanku sendiri. “Assad,,,kamu nggak salah, ini semua udah ada yang ngatur. Jangan menyalahkan dirimu. Sudahlah, kita berdo’a saja biar Ian tidak apa-apa”.
             Setengah jam sudah aku dan Ikhwan menunggu di kursi depan kamar tempat Ian dirawat, ahirnya dokter keluar dari ruangan kamar.
“Bagaimana dokter keadaan teman saya,,,,,”Tanyaku dengan cemas. “Teman kamu masih ada harapan untuk ditolong. Tapi maaf, dia harus dioprasi secepatnya. Kalau setuju, silahkan anda urus semua administrasinya”. Waktu itu aku semakin sedih mendengarnya. “Kamu telfon aja orang tuanya Ian sad, gimana???”Usul Ikhwan. “Jangan sekarang, aku tau betul kondisi orang tuanya bagaimana. Apalagi bapaknya yang punya penyakit jantung. Aku nggak mau keadaanya semakin parah nanti.”
            Ku coba tanya berapa biaya oprasi yang harus dibayar, suster menjawab sekitar dua puluh juta, itu sudah termasuk biaya pengobatan dan sewa kamar sampai sembuh. Betapa kagetnya aku waktu itu, bingung mau dapat dari mana uang sebanyak itu. Tiba-tiba aku teringat uang qurban yang sudah kita kumpulkan mati-matian itu. Aku juga berfikir, kalau uang qurban digunakan untuk biaya operasi Ian, lantas bagaimana dengan acara qurban di Gunung Kidul yang sudah disepakati. Aku sangat bingung berada dalam dua dilema yang sangat serius. Antara memilih Ian tetap tertolong atau acara qurban dibatalkan. “Ya Allah, hamba hampir putus asa menghadapi cobaan berat-Mu ini, berikan bantuan dan jalan keluar Ya Allah,,,”Aku yang masih sangat bingung, sambil berdo’a kepada Allah agar diberikan jalan keluar.
            Qurban bisa kita adakan lagi tahun depan, tapi nyawa Ian hanya satu. Dia harus segara ditolong. Ditengah kebingungan yang sedang melanda, Tiba-tiba ada orang menepuk pundakku dari belakang. Ku balikkan badanku, memandang orang yang menepukku. Seorang lelaki separuh baya berwajah ramah yang dulu pernah kutemukan tas hitamnya dalam kamar kecil di masjid Syuhada’. “Masyaallah, pak Fuad Zain....,,,,”Aku kaget ketika melihatnya. Tak ku sangka, aku dipertemukan dengan beliau lagi. Kami sempat mengobrol agak lama, ternyata istri beliau juga sedang sakit, tapi tidak parah. Hanya gejala tipus. Dan harus di okname untuk beberapa hari saja. Kuceritakan masalah yang saat itu ku hadapi kepada pak Fuad. Dan pak Fuad ikut prihatin mendengarnya.
            “Nak Assad, dulu nak Assad sudah mengembalikan tas hitam saya ke rumah dengan keadaan masih utuh. Dan nak Assad sempat menolak hadiah tanda terima kasih saya atas kejujuran nak Assad. Sekarang saya harapkan nak Assad tidak menolak lagi hadiah terima kasih saya. Saya akan menanggung semua biaya operasinya nak Ian, dan saya juga akan menyumbang sebesar dua puluh juta untuk acara qurban kalian...,,,”. Aku masih terdiam, tak bisa berkata apa-apa setelah mendengar perkataan pak Fuad. “Allahuakbar,,,,”Ku peluk pak Fuad dengan kucuran air mata yang amat deras. “Alhamdulillah,,,,ya Allah..,,”Ku peluk juga Ikhwan dengan penuh rasa syukur. “Terima kasih banyak pak Fuad atas bantuan besar bapak untuk kami.”. “Sama-sama, bapak juga bersyukur. Untung dulu tas bapak ditemukan oleh orang jujur seperti nak Assad.”
            Semua hanyut dalam kebahagiaan, ahirnya operasi Ian berjalan dengan lancar. Dia bisa diselamatkan. Dan berkat pertolongan Allah lewat jalan pak Fuad, acara qurban di Gunung Kidul juga berjalan dengan sukses.
             


Tidak ada komentar:

Posting Komentar