ALIRAN
FILSAFAT RASIONALISME
DALAM
PENDIDIKAN
OLEH :
BETA
PUJANGGA MUKTI
PENDIDIKAN
ULAMA’ TARJIH MUHAMMADIYAH
PP
MUHAMMADIYAH
2014
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Pada abad
ke-13 di Eropa sudah muncul sistem filsafat. Sistem ini diajarkan disekolah-sekolah
dan perguruan tinggi. Di abad ke-14 muncullah aliran yang dapat dinamai
pendahuluan filsafat modern. Yang menjadi dasar aliran baru ini ialah kesadaran
atas individual yang kongkrit.
Tak dapat
dipungkiri, zaman filsafat modern telah dimulai, di era filsafat modern, dan
kemudian dilanjutkan dengan filsafat abab ke- 20, muncullah berbagai aliran
pemikiran, yaitu: Rasionalisme, Emperisme, Kritisisme, Idealisme, Positivisme,
Evolusionisme, Materalisme, Neo-Kantianisme, Pragmatisme, Filsafat hidup,
Fenomenologi, Eksistensialisme, dan Neo-Thomisme.
Namun di dalam
pembahasan makalah kali ini yang akan dibahas oleh penulis adalah aliran Filsafat
Resionalisme (rene Descartes, spiniza, Leibniz).
B. Rumusan
Masalah
- Apa arti rasionalisme ?
- Siapa tokoh-tokoh rasionalisme
?
- Apa implikasi
Aliran Rasionalisme Terhadap Dunia Pendidikan?
BAB II
PEMBAHASAN
1. Arti Rasionalisme
Secara
etimologis Rasionalisme berasal dari kata bahasa Inggris rationalism.
Kata ini berakar dari kata bahasa Latin ratio yang berarti
“akal”. A.R. Lacey menambahkan bahwa berdasarkan akar katanya Rasionalisme
adalah sebuah pandangan yang berpegangan bahwa akal merupakan sumber bagi
pengetahuan dan pembenaran. Sementara itu, secara terminologis aliran ini
dipandang sebagai aliran yang berpegang pada prinsip bahwa akal harus diberi
peranan utama dalam penjelasan. Ia menekankan akal budi (rasio) sebagai sumber
utama pengetahuan, mendahului atau unggul atas, dan bebas (terlepas) dari
pengamatan inderawi.
Rasionalisme
atau gerakan rasionalis adalah doktrin filsafat yang menyatakan bahwa kebenaran
haruslah ditentukan melalui pembuktian, logika, dan analisis yang berdasarkan
fakta, daripada melalui iman, dogma, atau ajaran agama.
Rasionalisme
mempunyai kemiripan dari segi ideologi dan tujuan dengan humanisme dan
atheisme, dalam hal bahwa mereka bertujuan untuk menyediakan sebuah wahana bagi
diskursus sosial dan filsafat di luar kepercayaan keagamaan atau takhayul.
Meskipun begitu, ada perbedaan dengan kedua bentuk tersebut: Humanisme
dipusatkan pada masyarakat manusia dan keberhasilannya.
Rasionalisme
tidak mengklaim bahwa manusia lebih penting daripada hewan atau elemen alamiah
lainnya. Ada rasionalis-rasionalis yang dengan tegas menentang filosofi humanisme
yang antroposentrik. Atheisme adalah suatu keadaan tanpa kepercayaan akan
adanya Tuhan atau dewa-dewa; rasionalisme tidak menyatakan pernyataan apapun
mengenai adanya dewa-dewi meski ia menolak kepercayaan apapun yang hanya
berdasarkan iman. Meski ada pengaruh atheisme yang kuat dalam rasionalisme
modern, tidak seluruh rasionalis adalah atheis.
2. Tokoh-tokoh Rasionalisme
1. Rene
Descartes ( 1596- 1650 M )
Descartes disamping tokoh rasionalisme juga dianggap sebagai bapak
filsafat, terutama karena dia dalam filsafat-filsafat sungguh-sungguh
diusahakan adanya metode serta penyelidikan yang mendalam. Ia ahli dalam ilmu
alam, ilmu hukum, dan ilmu kedokteran.
Ia yang mendirikan aliran Rasionalisme berpendapat bahwa sumber
pengetahuan yang dapat dipercayai adalah akal. Ia tidak puas dengan filsafat
scholastik karena dilihatnya sebagai saling bertentangan dan tidak ada
kepastian. Adapun sebabnya karena tidak ada metode berpikir yang pasti.
Menurut Descartes rasio pulalah yang dapat memberi pemimpin dalam segala
jalan pikiran. Adapun yang benar itu hanya tindakan budi yang terang-benderang,
yang disebutnya ideas claires et distinctes. Karena rasio saja yang dianggap
sebagai sumber kebenaran, maka aliran ini disebut Rasionalisme.
2. Spinoza (1632- 1677 M)
Spinoza dilahirkan pada tahun 1632 M. Nama aslinya adalah barulah
Spinoza ia adalah seorang keturunan Yahudi di Amsterdam. Ia lepas dari segala
ikatan agama maupun masyarakat, ia mencita- citakan suatu sistem berdasrkan
rasionalisme untuk mencapai kebahagiaan bagi manusia.menurut Spinoza aturan
atau hukum ynag terdapat pada semua hal itu tidak lain dari aturan dan hukum
yang terdapat pada idea. Baik Spinoza maupun lebih ternyata mengikuti pemikiran
Descartes itu, dua tokoh terakhir ini juga menjadikan substansi sebagai tema
pokok dalam metafisika, dan kedua juga mengikuti metode Descantes.
3. Leibniz
Gottfried Eilhelm von Leibniz lahir pada tahun 1646 M dan meninggal
pada tahun 1716 M. ia filosof Jerman, matematikawan, fisikawan, dan sejarawan.
Lama menjadi pegawai pemerintahan, pembantu pejabat tinggi Negara. Waktu
mudanya ahli piker Jerman ini mempelajari scholastik.
Ia kenal kemudian aliran- aliran filsafat modern dan mahir dalam ilmu.
Ia menerima substansi Spinoza akan tetapi tidak menerima paham serba Tuhannya (pantesme).
Menurut Leibniz substansi itu memang mencantumkan segala dasar kesanggupannya,
dari itu mengandung segala kesungguhan pula. Untuk menerangkan permacam- macam
didunia ini diterima oleh Leibniz yang disebutnya monaden. Monaden ini semacam
cermin yang membayangkan kesempurnaan yang satu itu dengan cara sendiri.
3.
Implikasi Aliran Rasionalitas Dalam Dunia Pendidikan
Seperti kita
ketahui bahwa Logika adalah kaidah-kaidah berfikir. Subyeknya akal-akal
rasional. Obyeknya adalah proposisi bahasa. Proposisi bahasa yang mencerminkan
realitas, apakah itu realitas di alam nyata ataupun realitas di alam fikiran.
Kaidah-kaidah berfikir dalam logika bersifat niscaya atau pasti. Penolakan
terhadap kaidah berfikir ini adalah mustahil (tidak mungkin). Bahkan mustahil
pula dalam semua khayalan atau “angan-angan” yang mungkin (all possible
intelligebles).
Contohnya,
sesuatu apapun pasti sama dengan dirinya sendiri, dan tidak sama dengan yang
bukan dirinya.
Prinsip
berfikir ini telah tertanam secara niscaya sejak manusia lahir. Tertanam secara
kodrati dan spontan. Dan selalu hadir kapan saja fikiran digunakan. Dan ini
harus selalu diterima kapan saja realitas apapun dipahami. Bahkan, lebih jauh,
prinsip ini sesungguhnya adalah satu dari watak niscaya seluruh yang maujud
(the very property of being). Tidak mengakui prinsip ini, yang biasa disebut
dengan prinsip non-kontradiksi, akan menghancurkan seluruh kebenaran dalam alam
bahasa maupun dalam semua alam lain. Tidak menerimanya berarti meruntuhkan
seluruh arsitektur bangunan agama, filsafat, sains dan teknologi, dan seluruh
pengetahuan manusia.
Rasionalisme
mencapai puncaknya melalui Rene Descartes yang terkenal dengan
adagiumnya: Cogito, ergo sum (Aku berpikir, maka aku ada). Ia
beranggapan bahwa pengetahuan dihasilkan oleh indra. Tetapi karena indra itu
tidak dapat meyakinkan, bahkan mungkin pula menyesatkan, maka indra tidak dapat
diandalkan. Yang paling bisa diandalkan adalah diri sendiri. Dengan demikian,
inti rasionalisme adalah bahwa pengetahuan yang dapat diandalkan bukan berasal
dari pengalaman, melainkan dari pikiran.
BAB III
KESIMPULAN
Dari
pembahasan diatas, penulis dapat menyimpulkan beberapa kesimpulan berikut ini :
1.
Dalam dunia
Filsafat ada aliran yang dinamakan Rasionalisme. Yaitu sebuah pandangan yang berpegangan bahwa akal
merupakan sumber bagi pengetahuan dan pembenaran. Rasionalisme atau gerakan
rasionalis adalah doktrin filsafat yang menyatakan bahwa kebenaran haruslah
ditentukan melalui pembuktian, logika, dan analisis yang berdasarkan fakta,
daripada melalui iman, dogma, atau ajaran agama. Rasionalisme mencapai
puncaknya melalui Rene Descartes yang terkenal dengan adagiumnya: Cogito,
ergo sum (Aku berpikir, maka aku ada).
2.
Adapun
tokoh-tokoh penganut aliran Filsafat Rasionalisme ini adalah, pertama Rene
Descartes. Menurut Descartes rasio pulalah yang dapat memberi pemimpin dalam
segala jalan pikiran. Adapun yang benar itu hanya tindakan budi yang
terang-benderang, yang disebutnya ideas claires et distinctes. Karena rasio
saja yang dianggap sebagai sumber kebenaran, maka aliran ini disebut
Rasionalisme. Kedua adalah Spinoza, Ia lepas dari segala ikatan agama maupun
masyarakat, ia mencita- citakan suatu sistem berdasarkan rasionalisme untuk
mencapai kebahagiaan bagi manusia. Dan tokoh ketiga adalah Leibniz. Ia
berpegang kepada faham Monaden. Monaden ini semacam cermin yang membayangkan
kesempurnaan yang satu itu dengan cara sendiri.
3.
Imlikasi
aliran Filsafat Rasionalisme terhadap dunia pendidikan adalah pola pikir untuk mencapai atau mencari suatu kebenaran.
Dan media untuk mencapai kebearan itu melalui rasio dan logika. Logika adalah
kaidah-kaidah berfikir. Subyeknya akal-akal rasional. Obyeknya adalah proposisi
bahasa. Proposisi bahasa yang mencerminkan realitas, apakah itu realitas di
alam nyata ataupun realitas di alam fikiran. Kaidah-kaidah berfikir dalam logika
bersifat niscaya atau pasti.
DAFTAR
PUSTAKA
Drs. H.
Syadali Ahmad M.A 2004 filsafat umum. Bandung, pustaka setia
Prof. Dr.
Tafsir Ahmad 2007 Filsafat Umum, bandung PT. Remaja
Rasda Karya
M.
zulpajri kms lengkap BI aneka ilmu cet.2008 696.
http://www.google.com
(aliran Filsafat Rasionalisme)
The 10 Best Casinos in the United States
BalasHapusIf you are looking for the best casino 꽁 머니 토토 사이트 to play online 온라인 슬롯 머신 slots, we have the top 10 for you. We take your 마틴게일 전략 money and provide you with 토토 사이트 검증 a choice of slot 온라인 포커
Mummys Gold Casino | JTM Hub
BalasHapusWelcome to Mummys Gold Casino! It's your casino that welcomes the most exciting games and 포천 출장샵 exciting 강릉 출장안마 casino 논산 출장마사지 games, thrilling 영주 출장마사지 promotions and 밀양 출장마사지 generous