Jumat, 05 Juni 2015

KAMPUNG HERBAL
           
            Aku tinggal di desa Ketro kecamatan Tanon kabupaten Sragen. Salah satu kabupaten dan sekaligus kota yang ada di jawa tengah. Kota Sragen memiliki semboyan, yaitu ASRI (Aman, Sehat, Rapi, Indah). Untuk merealisasikan semboyan tersebut, pihak terkait sudah berupaya mewujudkanya. Salah satunya yaitu dengan mengatur dan menata serta mengelola kota dengan sedemikian rupa sehingga terkesan rapi dan indah jika dipandang. Terkait dengan kesehatan, pemerintah kota Sragen telah memiliki Brand bahwa di tahun 2016 akan menjadikan kota Sragen sebagai kota herbal. Dan Brand tersebut bermula dari kampungku, yaitu Ketro.
            Ide membuat usaha herbal bermula dari tetanggaku, sebut saja namanya pak Luthfan. Pria berusia 30 tahun ini memulai usaha herbal belum lama, kurang lebih sekitar satu tahunan. Pak Luthfan yang sekaligus bekerja sebagai dosen ini telah merintis usaha tersebut bersama keluarganya. Berkat ketekunan dan keuletan, usaha herbalnya sedikit demi sedikit telah berkembang. Bahkan nama desa Ketro sudah terkenal dengan sebutan kampung herbal. Siapa yang ingin mencari herbal untuk dijadikan obat, rujukanya adalah desa Ketro.
            Tanaman-tanaman herbal yang ditanam beragam, dari mulai jahe, temulawak, alang-alang, kencur, dan tanaman herbal lainya. Karena dilihat prospek kedepan bagus, akhirnya pak Luthfan ingin menggerakkan masyarakat untuk bersama-sama menanam tanaman herbal. Dan memang antusias masyarakat sangat luar biasa. Mereka menyambutnya dengan positif. Setelah itu pak Luthfan membentuk kelompok kerja di setiap kecamatan yang ada di Sragen. Dan setiap kelompok berisi seitar 25-30 orang dengan satu ketua. Untuk kecamatan Tanon sendiri ketua kelompok kerjanya adalah ayahku.
            Cara kerja penanaman herbal ini adalah menggunakan karung. Jadi karung yang dilipat hingga setinggi 10 sampai 15 cm, kemudian karung tersebut diisi tanah gembur yang dicampur dengan pupuk kandang dan brambut (kulit padi), lalu bibit seperti jahe, kencur, temulawak, dan lain sebagainya ditanam dalam karung berisi tanah tersebut. Setelah itu tanaman disiram tiap pagi dan sore. Untuk memanenya butuh waktu 2 sampai 3 bulan. Di rumah pak Luthfan sendiri ada sekitar 100 tanaman yang ditanam di dalam karung, dan jika panen, setiap karung bisa menghasilkan 10 sampai 15 Kg. Luar biasa hasilnya.
            Untuk mendapatkan jumlah yang banyak memang cara penanamanya harus melalui cara di atas, yaitu melalui media karung. Karena jika ditanam di tanah bebas, hasilnya lebih sedikit. Kelompok kerja yang diketuai oleh ayah menanam sekitar 50 tanaman dalam karung. Dan ketika panen, hasilnya juga lumayan banyak. Setelah dipanen, sebagian tanaman herbal akan di jual dan sebagianya akan di olah menjadi jamu, minuman jahe sachet, dan aneka macam obat dalam bentuk kemasan sachet.
            Tanaman-tanaman yang sudah di produk, akan di distribusikan ke pasar-pasar, kepada para tengkulak dan kepada konsumen secara luas. Bahkan dari luar daerah maupun  luar provinsi juga menginginkan produk-produk dari tanaman herbal ini.  
            Sejak dibentuknya kelompok kerja di setiap kecamatan, lambat laun usaha herbal ini benar-benar sukses. Berkat keberhasilan tersebut, akhirnya mendapat perhatian dari pemerintah kota Sragen. Dan kabar gembiranya adalah pemerintah Sragen akan memberikan bantuan senilai empat milyar guna untuk membiayai pengelolaan dan penanaman tanaman herbal. Pemerintah Sragen telah mengajukan proposal ke pemerintah pusat, dan mereka menyambut positif dengan memberikan kucuran dana sebesar empat milyar tersebut.
            Dana itu digunakan untuk mengelola dan penyediaan lahan serta untuk  pengadaan bibit. Dan  sebagian akan di berikan kepada para anggota. Setiap anggota akan mendapat dua setengah juta.
            Bantuan dari pemkot Sragen ini merupakan wujud dari kepedulian pemkot Sragen untuk membangun kota Sragen lebih baik. Dan saat itulah pemkot Sragen memiliki Brand yaitu di tahun 2016 ingin menjadikan Sragen sebagai pusat kota herbal.
           

            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar